Bukan Aku Yang Mengakhiri

Ujian semester dua telah usai dan tinggal menunggu hasilnya. Dan yang lebih penting dari semua itu bagi Rani adalah masa liburan akan segera tiba. Pikirannya langsung menerawang pada seorang cowok yang sangat dicintainya, Darmawan. Ya  dia adalah kekasihnya ketika dia masih menjadi kakak kelasnya di SMA dan kini terpisah oleh jarak karena Darmawan kuliah di kota lain, Yogyakarta.


Tapi sebelum terpisah, mereka berdua telah berikrar tetap melanjutkan tali kasih mereka. Ia ingat dalam pertemuan perpisahan di sebuah taman kota Darmawan berkata pada dirinya, ”Rani perpisahan kita hanyalah sementara. Aku pergi ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Semua ini harus kita jalani untuk bekal hidup kita berdua. Jangan pernah ragukan cintaku seperti halnya aku tak kan pernah meragukan cintamu.”

Bagi Rani, Darmawan memang seorang cowok yang patut dieman-eman. Ia tidak saja cowok yang pintar tapi juga penuh perhatian dan lembut. Sebagai kakak kelas di SMA, Darmawan selalu membantunya bila ia menghadapi kesulitan mencerna suatu pelajaran. Tidak hanya itu, ia selalu menjadi teman curhatnya yang setia. Dan yang paling penting ia memiliki banyak kesamaan pandangan dengannya tentang berbagai hal.

Karena itulah, meski banyak sekali godaan, Rani,  tak pernah bisa berpaling dari Darmawan. Sejak awal Darmawan kuliah di Jogjakarta, sudah banyak sekali teman-teman SMAnya atau bahkan anak-anak kuliahan yang mencoba menggoda dirinya, tapi ia tak bergeming. Dan yang mendekatinya itu rata-rata cowok yang berprestasi dan dari keluarga berada. Bahkan ada di antaranya yang selalu datang ke rumahnya dengan mobil yang bagus sekali.

Yang paling rajin mendekatinya adalah Mahesa, seorang mahasiswa Fakultas Teknik. Cowok itu berulang-ulang datang ke rumahnya, tapi hubungan keduanya berhenti hanya sampai pertemanan saja. Keinginan Mahesa untuk meningkatkan hubungan dengan halus ditolak sama Rani.
Mahesa juga tak pernah jemu menawari tumpangan mobil pulang pergi ke sekolah setelah tahu kemana-mana Rani selalu menggunakan angkota. Tapi Rani juga selalu menolaknya secara halus. Ia sudah merasa mantap dengan Darmawan.

“Ayolah, Rani daripada kamu berlama-lama menunggu angkota lebih baik ikut mobilku saja, biar kamu tidak kepanasan. Lagi pula, untuk pergi ke sekolah, kan, kamu harus ganti angkota dua kali. Itu, kan pemborosan waktu dan uang,” begitu pinta Mahesa.

Tapi Rani bersikukuh tak mau numpang ke mobil Mahesa. Ia ingin memegang komitmen dan kesetiaan pada Darmawan. Sebetulnya ia suka pada Mahesa. Cowok itu prestasinya cukup cemerlang dan ia juga baik. Ia sama sekali tak mendengar pria itu punya cacat dan cela. Justru itulah yang ia takuti. Kalau terlalu akrab, ia bisa jatuh cinta.

Suatu hari Mahesa menunjukkan tiket bioskop  dua lembar. “Yuk kita nonton film Malam Minggu nanti, filmnya bagus,  lho,” ajak Mahesa.

“Terima kasih Mahesa, atas ajakannya. Aku malam minggu ini ada acara dengan teman-teman club cewek di sekolahku,” ujar Rani.

“Kalau begitu, bagaimana minggu depannya lagi,” rajuk Mahesa.

“Kau tahu Mahesa, aku ini, kan, sudah punya pacar. Aku dan dia sudah punya komitmen untuk memelihara tali kasih kami. Aku tak mau berpaling darinya. Pahamilah Mahesa aku tidak bisa terlalu dekat denganmu. Aku ingin tetap setia dengannya,” ujar Rani.

“Tapi, kan, hubungan itu baru sebatas pacar. Bukankah sewaktu-waktu bisa berubah. Karena itulah aku berani mengajakmu. Aku baru nggak berani kalau kamu sudah ada ikatan pernikahan dengannya,” jelas Mahesa.

“Tapi aku mau belajar memegang komitmen. Sebelum ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar kota, kami telah berikrar mempertahankan dan melanjutkan hubungan kami. Kami sudah merasa saling cocok,” kata Rani mantap.

“Rani bukankah cinta SMA itu mudah sekali berubah. Biasanya komitmen mereka cuma bersifat semu. Mungkin kamu bisa memegang komitmen, tapi dia belum tentu kan?”,  kata Mahesa.

“Saya yakin Darmawan itu tipe cowok yang setia. Kalau dia pindah ke lain hati, ya, sudah. Setidaknya bukan  pihak aku yang mengingkari komitmen,” tegas Rani.

“Hm... aku salut sekali pada zaman seperti ini, kau punya prinsip seperti itu. Kebanyakan yang aku lihat, kalau sudah nggak sekota lagi, cintapun bubar. Si cowok maupun  ceweknya masing-masing akan cari ganti,” ucap Mahesa dengan nada kecewa.  Setelah terdiam sejenak ia melanjutkan pembicaraannya, “Tapi aku siap menyambut kehadiranmu kalau sewaktu-waktu pikiranmu berubah. ”  Lalu ia pun bergumam sendiri, “Tiket yang satu ini buat siapa ya?”

Setelah Mahesa pergi, pikiran Rani  kembali menerawang pada Darmawan. Selama setahun ini ia rutin berkomunikasi dengannya baik lewat pembicaraan maupun SMS di HP, lewat inbox Facebook maupun email. Paling tidak mereka berdua berkomunikasi dua kali dalam seminggu. Tentu saja kalau ada keperluan yang penting sekali, Rani sewaktu-waktu akan mengontak Darmawan.

Rani memang sengaja membatasi frekwensi komunikasi karena tak ingin mengganggu studi kekasihnya itu. Baginya yang penting kualitas komunikasinya. Ia merasa selama ini komunikasinya dengan Darmawan lancar-lancar saja dan selalu berlangsung dengan hangat.
Seperti malam itu, Darmawan menghubunginya lewat inbox Facebook. “Hey, sayangku, Rani,  aku rindu sekali padamu. Aku ingin liburan segera tiba sehingga aku bisa segera memuaskan rasa rinduku. Apakah kamu juga merasakan, apa yang aku rasakan?”

“Aku juga merasakan hal seperti itu, sayang. Akhir-akhir ini yang kubayangkan hanya bagaimana mengisi masa liburan bersamamu. Aku ingin kita jalan-jalan ke tempat-tempat favorit kita ketika kamu masih SMA. Dan kalau kau datang ke rumah, aku akan hidangkan makanan kesukaanmu pisang goreng keju dengan secangkir teh hangat,” jawab Rani.

“Aku senang kau selalu ingat kesukaanku. Aku juga akan traktir kamu masakan kesukaanmu, beef steak, di rumah makan favorit kita. Aku juga ingin memanjakan hobimu nonton film setiap malam minggu,” kata Darmawan.

“Saat-saat seperti itu memang yang selalu aku rindukan. Tapi di tempatmu kuliah, kamu jangan nakal ya.. Awas, ya, sayang, jangan sampai kamu tergoda cewek lainnya. Ingat ikrar kita berdua bahwa kita akan terus merawat cinta kita selamanya. Dan di sini aku selalu menunggumu,” rajuk Rani dengan manja.

Walaupun komunikasi jarak jauh dengan Darmawan selalu berlangsung hangat, tapi rasa-rasanya  tetap saja beda dengan ketika berkomunikasi secara secara langsung atau lewat tatap muka. Kalau secara langsung,  mereka bisa saling berpegangan tangan, saling mencubit, saling menepuk, dan yang jelas bisa saling memadu kasih. Tapi kalau lewat HP mereka hanya bisa mendengar suara atau melihat tulisan dan foto-foto saja. Rani tak menyangkal ia seringkali merasa tersiksa dan kesepian. Tapi bagi Rani inilah yang disebut ujian. Kalau mereka lulus maka ia percaya ikatan cinta mereka akan bertambah kuat dan pantas dilanjutkan ke hubungan yang lebih serius.

Ia jadi ingat, banyak sekali kenangan indah yang telah dilaluinya bersama Darmawan sejak ia masih kelas I SMA dan Darmawan kelas II.  Ya sejak saat itulah ia jadian dengan Darmawan, seorang cowok kakak kelas. Sejak saat itu pula mereka selalu menghabiskan waktu berdua setiap Malam Minggu. Biasanya kalau nggak nonton, makan di warung atau resto, pergi ke taman atau ke pantai. Tak jarang pula mereka menghabiskan waktu dengan ngobrol  saja di rumahnya.

Di luar itu, ia masih punya jadwal kegiatan dengan Darmawan, yaitu nggowes bersama di kawasan sekitar Alun-Alun Kota. Ya mereka sengaja membuat aktivitas seperti itu untuk belajar menanamkan cara hidup sehat, tidak hanya berburu kuliner atau nonton bioskop yang sifatnya sekedar cari kesenangan. Yang paling membuat dirinya terkenang adalah saat-saat ketika Darmawan menghapus keringat di wajahnya dengan tisu setelah selesai nggowes. Rasanya ia tak mau lepas lagi dari kekasihnya itu dan ia mau hidup terus bersamanya, selamanya.

Mereka berdua memang memiliki hobi yang sama: olah raga ringan setiap pagi di sekitar rumah masing-masing. Biasanya mereka hanya sekedar jogging atau bersepeda ria. Agar lebih romantis, mereka melakukan olah raga bersama setiap bulan, ya itu tadi nggowes bersama setiap akhir bulan.

Pada suatu Malam Minggu ketika ngobrol di rumah, Darmawan melontarkan kata-kata yang membuatnya serasa melayang-layang di nirwana,  “Aku ingin hidup bersama denganmu selamanya, Rani. Aku merasa telah menemukan cinta sejatiku.”

“Ah, masak sih. Aku nggak yakin kamu bisa terus mencintaiku. Kan kita berdua masih terlalu muda. Biasanya cinta anak SMA itu masih berubah-ubah dan jarang sekali yang bisa berlanjut sampai jenjang pernikahan. Coba tanyakan pada Bibi dan Paman kita, pada kakak-kakak kita atau para tetangga yang sudah menikah. Kebanyakan pasangan hidup mereka bukan teman sekolah, tapi kenalan di tempat kerja atau di luar rumah,” kata Rani.

“Tapi kan ada juga sebagian kecil pasangan yang asalnya teman masa sekolah. Dan ternyata cinta mereka bisa terus belanjut dan berkembang sampai masa tua. Aku ingin yang seperti itu,” kata Darmawan.

Rani merasa tersanjung sekali dengan kata-kata Darmawan. Ia merasa menjadi wanita beruntung karena mendapatkan cinta yang begitu besar dari seorang laki-laki. Ia merasa ialah satu-satunya wanita dalam kehidupan kekasihnya itu. Dan memang selama ini ia sama sekali tak pernah dengar Darmawan bermain-bemain dengan cewek lain di luaran.

Tapi saat itu ia tidak yakin cintanya dengan Darmawan bisa terus berlanjut sampai pernikahan, apalagi sampai kakek nenek. Soalnya menurut pengalaman, cinta seorang anak SMA itu masih labil. Begitu melihat cewek yang lebih cantik, sang cowok cepat berubah dan rela meninggalkan kekasih lamanya. Belum lagi kalau sudah lulus dan kedua insan belajar di sekolah yang berbeda. Keduanya pasti akan milang-miling lagi, mencari kekasih yang lebih baik.

Tapi makin mendekati waktu kelulusan Darmawan, Rani semakin yakin pria itulah belahan jiwanya. Darmawanlah jodohnya. Ia melihat cowoknya itu tak pernah berpaling ke lain hati. Selain itu ia pun merasa tak pernah terusik dengan kehadiran cowok-cowok lain yang menggodanya. Ia merasa Darmawanlah pelabuhan terakhirnya. Perasaan itu semakin mantap saat  Darmawan mengajaknya berikrar mempertahankan terus cinta mereka sebelum cowoknya itu kuliah di luar kota.

Pertengkaran memang selalu terjadi, tapi keduanya tak sampai saling melukai hati. Misalnya pernah karena Darmawan nggak masuk sekolah karena sakit, Rani minta diantar teman cowok sekelas untuk fotokopi catatan pelajaran yang diterangkan oleh guru di depan kelas yang tidak bisa ia catat karena konsentrasinya sedang terganggu. Ketika tahu hal itu Darmawan marah.

“Baru ditinggal sehari saja kamu sudah boncengan dengan cowok lain,” katanya kesal.

“Aku, kan, ke sekolah nggak bawah kendaraan. Kalau foto kopi ke luar dengan jalan kaki bisa lama. Nanti aku nggak bisa masuk sekolah tepat waktu begitu jam istirahat usai. Nanti aku malah dimarahi guru,” jelas Rani.

“Apa nggak bisa minta diantarin sesama teman cewek? Kan , teman cewekmu yang bawah motor banyak”, tanya Darmawan dengan nada protes.

“Awalnya sih aku berpikiran begitu, tapi teman-teman cewekku keburu masuk kantin. Jadi aku nggak mau menganggu mereka. Aku minta tolong teman kelas cowok yang kebetulan lagi  duduk-duduk sendirian, sedang menganggur,” kata Rani menjelaskan. “Wah, kamu cemburu, ya?”, lanjut Rani dengan mimik lucu.

“Ya jelas dong. Itu tandanya aku sayang kamu. Kalau aku nggak sayang kamu pasti aku cuekin saja. Aku pasti pilih cari pengganti ketimbang  terus diganggu rasa cemburu,” kata Darmawan.

Mendengar jawaban itu, Rani tersenyum. “Sudah jangan mencemburui aku. Cemburu itu boleh kalau alasannya kuat, tapi kan aku nggak ngapa-ngapain sama dia,” kata Rani.

Kali ini Darmawan sudah bisa tersenyum kembali. “Betul juga katamu. Aku baru boleh cemburu, kalau melihat kamu ada sesuatu dengan cowok itu,” katanya.

Dan saat liburan sekolah Rani pun tiba. Begitu juga dengan liburan Darmawan yang terpaut sekitar seminggu. Suatu sore  Rani menjemput Darmawan di stasiun kereta api. Tak lama menunggu, ia melihat seorang bertubuh tinggi dan  cukup kekar membawa tas rangsel di punggung dengan bawaan yang penuh sekali turun dari salah satu pintu kereta api yang sudah berhenti.

Rani segera menyusul pria yang memakai celana jin dan baju kotak-kotak hijau itu. “Hey Darmawan, aku di sini,” teriak Rani.

Cowok itupun menoleh dan membalas sapaan Rani, “Hey, Rani,”. Ia pun menghampiri Rani dan memeluknya. Tapi sikap Darmawan tak sehangat dulu. Sejak tiba di stasiun ia tak banyak bicara. Bahkan saat menunggu taksi di stasiun, ia tak menawari Rani untuk mengantarnya sampai ke rumah.

Sebelum naik taksi ke rumah, Darmawan hanya mengatakan, “Maaf ya, Rani, aku nggak minta kamu mengantarkan aku sampai ke rumah. Aku takut merepotkan kamu. Besok saja aku datang ke rumahmu,” ujar Darmawan sambil melambaikan tangan.

Rani merasa sikap Darmawan itu tak seperti sikap seseorang yang sudah lama tak ketemu dengan kekasihnya. Tapi Rani berusaha memahaminya. “Hm mungkin ia sedang kecapaian. Lagian kalau aku mengantarnya sampai rumahnya, siapa yang antarkan aku ke rumahku sendiri. Pasti Darmawan capai sekali,” pikir Rani.

Esok harinya pada petang harinya, Darmawan mengunjungi Rani. Rani menyambutnya dengan menyajikan secangkir teh panas dan pisang goreng keju, kesukaan Darmawan. Rani heran tak seperti ketika zaman SMA dulu Darmawan sama sekali tak menunjukkan sikap hangat seperti layaknya seorang kekasih. Tak ada panggilan sayang dan ungkapan rasa rindu. Cowok itu kelihatannya jadi pendiam dan dingin.

Akhirnya Rani berinisiatif membuka pembicaraan.            “Bagaimana Dar, ceritain dong apa saja yang kamu alami selama kuliah di Yogyakarta?”,  pancing Rani.

“Ya, biasa saja. Aktivitasnya mungkin seperti kamu juga: belajar, belajar, dan belajar,” jawab Darmawan.

“Nggak ada kesulitan tentang materi belajarnya, nih?”, tanya Rani.

“Kamu tahu sendiri aku tak pernah mengalami kesulitan dalam pelajaran,” jawab Darmawan singkat.

“Lalu adaptasi dengan lingkungan kampus atau teman-teman di kos-kostan bagaimana?”, tanya Rani.

“Nggak ada masalah,” jawab Darmawan tetap singkat.

Rani kaget dan kecewa dengan jawaban Darmawan yang selalu singkat dan datar-datar saja. Ia sebenarnya ingin Darmawan cerita panjang lebaran seperti masa di SMA dulu atau seperti ketika bicara lewat telepon beberapa waktu yang lalu. Ia ingin tahu lebih banyak tentang kekasihnya itu selama kuliah di Yoyakarta, tapi ternyata ia harus menelan pil pahit. Apalagi tak ada sebutan sayang atau ungkapan rindu yang menggebu-gebu yang biasanya dilakukan seseorang yang sudah lama tidak ketemu kekasihnya. Dan yang tampak aneh, pandangan Darmawan tampak tak fokus pada dirinya ketika berbicara. Pikiran cowoknya itu seakan-akan tidak sedang di hadapannya tapi mengembara kemana-mana.

Ternyata sikap Darmawan saat ia menjemputnya di stasiun KA pada sore hari kemarin itu masih tetap tak berubah pada  keesokan harinya. Seingat Rani selama melakukan komunikasi jarak jauh, Darmawan  selalu antusias bercerita tentang kegiatan belajarnya, tentang kegiatan kemahasiswaan atau hobinya  main futsal. Ia juga sering cerita soal teman-temannya. Pokoknya tak ada yang merisaukan.

Bahkan beberapa hari sebelum liburan, komunikasinya dengan Darmawan lewat HP masih berlangsung dengan baik dan hangat. Baik ketika melakukan kontak lewat suara, SMS ataupun email, kata-katanya masih romantis dan mesra. Tapi kenapa begitu bertatap-muka, Darmawan tampak dingin dan membisu. Ia menjadi seseorang yang aneh. Seolah-olah dirinya bukan apa-apa di hadapan Darmawan.

“Sudah hampir setahun kita tidak ketemu, tapi begitu ketemu kok nggak ada sebutan sayang dan ungkapan rasa rindu, sih? Apa kamu di sana sudah mendapatkan penggantiku dan tidak menganggapku sebagai kekasih lagi?”, tanya Rani sedih dan hampir menangis.

“Nggak benar itu, Rani. Aku tetap sayang padamu. Tapi memang aku sedang ada suatu masalah yang harus diselesaikan di Yogyakarta dan karenanya aku tak bisa berlama-lama di sini. Mungkin aku di sini hanya 1 minggu saja,” kata Darmawan gugup.

“Kamu pasti ada janji dengan kekasihmu di sana, ya, sehingga kamu nggak ingin lama-lama tinggal di sini bersamaku?”, tebak Rani dengan mata berkaca-kaca.

“Oh tidak. Ini hanya soal janjiku untuk mengikuti pertandingan futsal bersama teman-teman di sana,” kata Darmawan dengan perasaan cemas.

“Sebegitu pentingkah pertandingan futsal itu sehingga kamu nggak pedulikan lagi aku yang sudah hampir satu tahun menunggu kehadiranmu?”, tanya Rani dengan tatapan mata curiga.

“Kamu penting sekali bagiku Rani. Tapi teman-teman terus mendesak agar aku pulangnya nggak terlalu lama, karena ada jadwal pertandingan futsal,” kata Darmawan lagi.

“Ya, udah, aku nggak akan menahanmu terlalu lama di sini. Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Tapi ketahuilah Darmawan, kemarin dan hari ini aku sudah tak melihat sikap hangatmu lagi sebagai seorang kekasih,”  ujar Rani sambil menangis.

“Percayalah Rani, meski aku tak bisa lama-lama di sini, hatiku tetap untukmu. Jangan khawatirkan aku,” ujar Darmawan yang sama sekali tak tergerak mengusap air mata Rani yang mulai membahasahi pipinya.

Setelah kepulangan Darmawan, Rani semalaman menangis. Meski sama sekali tak keluar ucapan kata putus, tapi ia merasa hubungannya dengan Darmawan sudah tamat. Dia benar-benar patah hati. Kenyataannya walau sebetulnya masih ada sisa waktu tiga minggu lag bagi Darmawan untuk mengunjunginya, tapi cowoknya itu tak pernah muncul lagi di rumahnya. Karenanya Rani bersikap pasrah terhadap nasib cintanya.

Rani benar-benar tak tahu kapan kekasihnya itu kembali ke Yogyakarta. Karena sejak itu Darmawan tak pernah lagi menghubunginya hingga sebulan sesudah itu tiba-tiba Darmawan mengirimkan pesan lewat  inbox facebook yang ia lihat pada HP-nya. Pesan itu berbunyi sebagai berikut:

Dear Rani,
Maafkan sikapku yang begitu dingin dan menyakitkan terhadapmu selama aku pulang kampung. Memang kamu benar, ada yang berubah denganku. Dua hari menjelang hari liburan, aku mendapatkan  jawaban dari seorang wanita yang aku taksir bahwa ia bisa menerima cintaku. Ketika kita berkomunikasi lewat HP yang terakhir sebelum liburanku,  aku memang masih bersikap hangat terhadapmu karena aku masih belum mendapatkan kepastian darinya. Namun dua hari menjelang pulang kampung dia memberikan kepastian.

Sebetulnya aku balik ke Jogjakarta secepat itu bukan karena ada pertandingan futsal tapi karena aku mau menikmati masa liburan bersamanya. Aku ingin mengenal dia lebih dalam dan ingin segera menjadi lebih dekat. Sudah enam bulan ini aku melakukan pendekatan padanya dan baru berbuah dua hari menjelang liburan.

Rani, maafkan aku, bila aku tak bisa memegang janji yang pernah kita ikrarkan bersama. Benar, katamu, cinta anak SMA itu masih sangat mudah berubah. Aku sendiri tak pernah menduga hal itu terjadi padaku. Ingat selama kita pacaran di SMA, aku sama sekali tak pernah berpaling ke gadis yang lain. Aku sama sekali tak pernah menduakanmu meski kesempatan sangat terbuka. Tapi ketika kita berjauhan aku merasa kesepian yang tak tertahankan. Dan tiba-tiba saja dalam hidupku hadir seorang wanita yang sangat menarik perhatianku dan aku merasa cocok dalam banyak hal dengannya.

Rani,maafkan aku, telah menyakiti hatimu. Semoga secepatnya kau mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku. Darmawan

Meski sudah menduga akan datangnya surat seperti ini, hati Rani tetap merasa sakit. Tapi ia tak mau berlama-lama memendam rasa sakti. Ia ingin segera Move On dengan belajar lebih keras dan melibatkan diri dengan berbagai aktivitas dengan teman-temannya. Ia sadar ia kini sudah mau kuliah, bukan anak SMA lagi yang cengeng.


Ia tak menyesal selama ini telah bersikap setia terhadap Darmawan yang mengkhianatinya. Ia justra merasa bangga  karena ia bukan pihak yang berkhianat tapi justru sebagai pihak yang berhasil mempertahankan kesetiaan dan memegang teguh komitmen. (ardison)

0 komentar:

Posting Komentar