Cinta John Lennon-Yoko Ono

Banyak yang berpikiran bahwa cinta yang berawal dari perselingkuhan adalah tanda-tanda tidak baik. Kalau cinta itu berlanjut dengan pernikahan, maka tidak akan menghaslkan pernikahan yang bahagia. Tapi tampaknya dalil seperti itu tidak berlaku bagi pasangan sejati John Lenon - Yoko Ono

Pada 23 Agustus 1962, Lennon menikah dengan Cynthia Powell. Pernikahan mereka dirahasiakan dari publik. Bahkan, saat Cynthia melahirkan anak pertamanya, Julian Lennon pada 8 April 1963 pun mereka tak boleh mempublikasikannya karena takut mengecewakan fans wanita Lennon.

Perkawinan itu bertahan selama 6 tahun saja. Lennon dan Cynthia bercerai pada 8 November 1968 karena Lennon berselingkuh dengan Yoko Ono.

Ada dua versi mengenai awal pertemuan Lennon dengan Ono. Yang pertama, mereka bertemu pada 9 November 1966, ketika Lennon pergi ke Indica Gallery di London. Di sana Ono sedang mempersiapkan pameran seninya. Versi kedua, mereka bertemu pada akhir tahun 1965, ketika Ono menggarap sebuah proyek musik untuk buku John Cage, Notations, di London. Saat itu, Lennon membantu proyeknya.

Kisah cinta Lennon dengan Ono berbeda saat bersama Cynthia yang sangat dirahasiakan. Bersama Ono, keduanya bebas memperlihatkan hubungannya. Mereka menikah pada 20 Maret 1969 di Gibraltar.

Hubungan mereka tak selamanya mulus. Mereka sempat berpisah pada tahun 1974 tapi kemudian bersatu kembali setahun kemudian.

Pada tanggal 20 Maret 1969, pasangan seingkuh itu meresmikan hubungan mereka ke dalam pernikahan. Dunia menyaksikan pernikahan itu sebagai bagian dari sejarah musik dunia. Pernikahan itu bahkan disebut-sebut sebagai penyebab bubarnya The Beatles, band paling fenomenal di sepanjang sejarah dunia ini.

Lennon dan Ono mengabadikan pernikahan mereka dengan merilis album kolaborasi antara keduanya pada Wedding Album, Live Peace in Toronto 1969, Some Time in New York City dan Double Fantasy.

Pilihan John terhadap Yoko kurang lebih berdasarkan atas keinginannya untuk memberontak terhadap nilai-nilai konservatif masyarakat Inggris. John tidak ingin mempunyai citra sebagai seorang gentleman Inggris yang mapan dan bahagia, seorang family man dengan istri (Cynthia Twist) serta seorang putra, John Charles Julian.

Pentolan Beatles ini menginginkan seseorang yang bisa dijadikan inspirasi, dapat mengimbangi jalan pikirannya dan ikut mewujudkannya. Ia menemukan kriteria tersebut pada Yoko, seorang seniman yang ditemuinya di sebuah galeri seni di London pada 1966. Saat itu Yoko sedang mamerkan karyanya seninya.

John tak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan seniman avant garde asal Jepang ini akan merubah hidupnya secara drastis. John bukan saja jatuh cinta pada karya seni yang ditampilkan, tetapi juga jatuh cinta kepada sang seniman. John bahkan rela untuk meninggalkan Cynthia dan anaknya, Julian Lennon. 

Pada tahun 1968 John mulai tinggal bersama Yoko di Inggris, barulah setahun kemudian mereka menikah di Gibraltar.

Umur Yoko yang delapan tahun lebih tua membuat John diberitakan mengidap Oedipus Complex, kelainan yang membuat seseorang yang memiliki kecenderungan menyukai orang yang jauh lebih tua. Sebuah keadaan psikologis yang didasarkan pada kisah cerita klasik tentang Raja Thebes, di mana Oedipus yang mengawini Jocasta, ibu kandungnya sendiri.

Tuduhan ini dikaitkan dengan trauma John saat kehilangan ibunya ketika ia baru berusia 16 tahun. John dikabarkan merindukan sosok wanita yang bisa berperan sebagai ibu dalam kehidupannya. Namun ia tidak peduli dengan tuduhan tersebut, rasa cintanya pada Yoko melebihi semuanya.

Menciptakan lagu bersama
John dan Yoko merasa mereka telah melengkapi kehidupan masing-masing. Keunikan mereka sebagai seniman memang sangat terlihat. Mereka juga berkali-kali melakukan kolaborasi dalam musik. Album pertama yang mereka produksi berdua yaitu Two Virgins, sempat menjadi kontroversi karena menampilkan foto tanpa busana mereka di sampul album tersebut.

Tak lama setelah kegilaan album Two Virgins, John dan Yoko kembali menjadi pembicaraan dunia. Setelah menikah, John dan Yoko mengundang pers ke kamar tempat mereka berbulan madu di Amsterdam Hilton hotel di Kanada, dan hanya dengan mengenakan pakaian tidur. Dalam kesempatan itu keduanya melancarkan kampanye perdamaian dunia. Lennon dan Ono menyampaikan pesan perdamaian yang mereka lakukan demi menentang perang Vietnam yang sedang berlangsung. Aksi ini mereka dikenal dengan nama 'bed-in for peace'. Ribuan fotografer dan wartawan dari seluruh dunia tak mau melewatkan momen ini untuk diabadikan dan dijadikan bahan berita.

Sejak saat itu pernikahan mereka semakin dibicarakan publik dan tak jarang banyak pihak yang memuji aksi kampanye perdamaian mereka.  Bahkan mereka pernah mengatakan bahwa pernikahan mereka didedikasikan untuk perdamaian dunia.

Namun kisah cinta Yoko dan John mendapat tentangan dari rekan-rekan John di Beatles khususnya Paul. Yoko juga sering bergabung di dalam sesi latihan dan rekaman untuk album The White Album yang membuat para personel Beatles lainnya semakin tidak menyukainya. Permasalahan di dalam Beatles semakin parah saat Paul, Ringo dan George secara terang terangan tak setuju jika John Lennon menjalin hubungan asmara dengan Yoko Ono. Permasalahan ini diakui John sendiri kepada awak media dibeberapa kesempatan.

"Mereka menghina dia. Sepertinya saya harus memilih antara The Beatles dan Yoko dan saya memilih Yoko," ungkap John Lennon yang dikutip dari ContactMusic.

John pada akhirnya memang lebih memilih Yoko dibanding Beatles. Sebuah fakta yang membuat wanita asal Jepang ini dibenci mayoritas dunia karena dianggap menghancurkan sebuah band paling besar di dunia. Para penggemar Beatles benar-benar mengkambing-hitamkan Yoko. Mereka menganggap jika Beatles tidak akan pernah bubar jika John tidak pernah bertemu Yoko.

Namun Yoko Ono tentu saja membantah dia sebagai penyebab bubarnya The Beatles. Dalam suatu interview pada tahun 1987, Yoko menyebut perpecahan itu disebabkan perasaan para anggota Beatles yang ingin merasakan kebebasan. Ia juga mengatakan bahwa ide berpisahnya Beatles bukan diawali John.

"Tiap orang jadi sangat bebas. John sebenarnya bukan orang pertama yang mau meninggalkan The Beatles," katanya Yoko yang dikutip dari Huffington Post.
"Kami melihat Ringo suatu malam dengan Maureen (istrinya) dan dia datang ke John dan saya dan bilang ingin keluar. Lalu George dan baru kemudian John.  

Paul McCartney adalah satu-satunya yang mau mempertahankan The Beatles. Tapi tiga lainnya berpikir Paul menganggap The Beatles sebagai band-nya. Mereka jadi seperti band-nya Paul, mereka tidak suka," lanjut Yoko.

Yoko juga mengatakan bahwa perpecahan The Beatles justru menimbulkan ketegangan pada hubungannya dengan Lennon. Ia menceritakan bahwa John sangat merindukan rekan-rekannya di Beatles dan menuntut Yoko untuk mengisi kekosongan tersebut dalam kehidupan John. Pernyataan Yoko membenarkan komentar Paul McCartney sebelumnya tentang bubarnya band tersebut. Paul sendiri mengakui bahwa Yoko bukan penyebab bubarnya Beatles.

"Dia tidak membuat grup bubar, saat itu grup memang sedang pecah," kata McCartney, seperti yang dikutip dari The Guardian.
Begitulah kisah cinta John Lennon dan Yoko Ono, sebuah percintaan yang sangat kuat meski di kelilingi banyak masalah. John dan Yoko tetap memiliki sebuah cinta yang kuat ditengah sorotan dan pandangan miring dari banyak orang. Namun kenyataannya, pasangan ini memberikan pelajaran kepada dunia bahwa cinta lebih kuat dari segalanya. Sama seperti salah satu lagu Beatles yang ditulis oleh John Lennon, All You Need Is Love.

Sayang sekali John Lennon kemudian mendahului Yoko Ono ke alam baka dengan tragis. Ia mati karena ditembak pada 8 Desember 1980. Hal itu menyisakan duka yang mendalam tak hanya bagi Yoko Ono, namun juga bagi penggemarnya di seluruh dunia.
Baru-baru ini pada tanggal 20 Maret 2013, Yoko Ono yang sudah berusia 80 tahun, membuat sebuah twit yang cukup menggugah di akun Twitternya. Ia memposting sebuah saksi bisu dari detik-detik kematian John Lennon, yaitu kacamata John Lennon dengan bekas bercak darah yang telah mengering.

Kacamata tersebut telah ditinggalkan pemiliknya selama 33 tahun. Namun bercak darah di salah satu sisinya mengingatkan kembali momen kelam kematian John, seolah baru kemarin hal itu terjadi. Ia memposting foto tersebut beberapa kali dengan menyertakan beberapa twit yang bersambung.

Diapun tak lupa menyisipkan pesan perdamaian yang sering ia suarakan bersama mendiang suaminya ketika masih hidup. Ia membeberkan, lebih dari 1.057.000 nyawa telah terbunuh oleh senjata api di Amerika Serikat, sejak suaminya ditembak. Sebanyak
31. 537 orang dibunuh oleh senjata api di Amerika Serikat setiap tahun. "Kita membuat negara yang indah ini menjadi area perang. Kematian orang yang kita cintai adalah pengalaman yang pahit. Setelah 33 tahun, anak kami, Sean, dan aku, masih merindukannya",  Yoko Ono. 

Yoko Ono memposting twitnya bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahannya bersma John Lennon yang ke 44.  Twit tersebut dibaca dan ditwit ulang oleh lebih dari 17.000 orang di seluruh dunia.

Dalam usainya yang sudah mencapai 80 tahun, Yoko Ono masih menyimpan foto kacamata almarhum suaminya. ia mentweet foto itu bukan sekedar untuk menunjukkan kerinduannya pada Lennon, namun juga untuk terus melanjutkan perjuangannya bersama Lennon dalam menjaga perdamaian dunia. 

Tidak semua orang sempat memikirkan perdamaian dunia dalam hidupnya seperti apa yang dilakukan John dan Yoko. Namun kita bisa memulainya dengan mencintai dan menyayangi keluarga di dunia. Satu cara sederhana untuk melestarikan perdamaian di dunia ini dimulai dari menyayangi orang-orang di sekitar Anda.

Begitulah kisah cinta John Lennon dan Yoko Ono, sebuah percintaan yang sangat kuat meski di kelilingi banyak masalah. John dan Yoko tetap memiliki sebuah cinta yang kuat ditengah sorotan dan pandangan miring dari banyak orang. Namun kenyataannya, pasangan ini memberikan pelajaran kepada dunia bahwa cinta lebih kuat dari segalanya. Sama seperti salah satu lagu Beatles yang ditulis oleh John Lennon, All You Need Is Love.


2 komentar:

Intan Kirana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 29 Mei 2016 02.49
Qirgis Jamaludin mengatakan...

Selamat jalan Jhon......

6 Juli 2017 14.30

Posting Komentar