Basudewa Kresna dan Raja Lalim

Raja Kangsa adalah raja yang lalim. Ia merebut tahta dari ayahnya sendiri, Ugrasena dengan cara menyekap dan memenjarakannya. Kedua orangtua Kresna termasuk yang jadi korban kelalimannya.



Setelah menjadi raja ia memungut upeti yang tinggi dan sering menyiksa warganya sendiri. Pada suatu ketika, ia mendengar ramalan yang menyatakan bahwa ia akan mati di tangan salah satu putra Dewaki. Karena mencemaskan nasibnya, ia mencoba membunuh Dewaki, namun Basudewa mencegahnya. Basudewa menyatakan bahwa dia dan istrinya bersedia dikurung dalam penjara dan berjanji akan menyerahkan setiap putra mereka yang baru lahir untuk dibunuh.

Setelah enam putra pertamanya terbunuh, para dewa memberikan anak ketujuh, yaitu Balarama atau Baladewa dan melarikannya dengan cara gaib. Bahkan Dewa Wisnu sendiri menjelma menjadi anak kedelapan dengan menyusup pada rahim Dewaki dan terlahir sebagai anak dengan nama Basudewa Kresna.

Ketika Kresna lahir, utusan Raja Kangsa masuk penjara untuk mengambilnya. Tapi tiba-tiba saja terjadi keajaiban. Sihir Dewa Wisnu mulai bekerja. Utusan raja menjadi beku seperti patung dan kehilangan kesadarannya. Begitu juga dengan para penghuni istana, termasuk prajurit dan pengawal istana menjadi beku seperti patung. Raja Kangsa ngantuk berat dan tertidur pulas.

Dengan mudah ayah Kresna, Basudewa, melarikan bayinya ke luar. Ia menitipkan bayinya pada Nanda dan Yasoda, sahabat Basudewa di Vrindavan. Kresna ditukar dengan bayi yang lain sehingga Kangsa terpedaya dan tidak membunuh kedua orangtua Kresna.

Nanda dan Yasoda yang membesarkan Kresna adalah  anggota komunitas  penggembala  sapi yang ada di Vrindavana. Sebagai anak-anak, Kresna sangat lucu dan nakal. Ia seringkali menembakkan sumpitnya pada kendi keju dan madu yang dibawa gadis-gadis dewa hingga berlubang dan kemudian meminum tetesannya di belakang pembawa kendi.

Pada masa kecilnya, Kresna telah melakukan berbagai hal yang menakjubkan. Ia membunuh berbagai raksasa—di antaranya Putana (raksasa wanita), Kesi (raksasa kuda), Agasura (raksasa ular), Ia juga menjinakkan naga Kaliya berkepala sembilan, yang telah meracuni air sungai Yamuna dan menewaskan banyak penggembala.

Pada masa remaja, Kresna menjadi seorang penggembala sapi dan menjadi pelindung rakyat Vrindavana. Kresna dipercaya mampu mengangkat bukit Gowardhana untuk melindungi penduduk Vrindavana dari tindakan Indra, pemimpin para dewa yang semena-mena dan mencegah kerusakan lahan hijau Gowardhana.

Suatu hari Dewa Indra marah ketika Kresna menyarankan rakyat Vrindavana menuruti petunjuk Kresna untuk merawat hewan dan lingkungan demi memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Kresna lebih mengutamakan warga untuk bertani daripada menyembah Indra setiap tahun dengan menghabiskan sumber daya mereka. Gerakan spiritual yang dimulai oleh Kresna memiliki sesuatu di dalamnya yang melawan bentuk  ortodoks  penyembahan dewa-dewa Weda seperti Indra.

Kresna sering bergaul dengan para gopi (wanita pemerah susu) di Vrindavana. Saat itulah ia jatuh cinta dengan salah seorang di antaranya, yang bernama Radha (putri Wresabanu, salah seorang penduduk asli Vrindavana.

Suatu ketika Kangsa akhirnya mendengar anak kedelapan dari Basudewa, yaitu Kresna sebetulnya masih hidup. Kresna beserta Baladewa yang masih muda diundang ke Mathura, ibukota Yadawa,  untuk mengikuti pertandingan gulat yang diselenggarakan Kangsa. Tujuan sebenarnya adalah membunuh Kresna dengan dalih pertandingan gulat.

Setelah mengalahkan para pegulat Kangsa, Kresna mengalahkan dan membunuh Kangsa. Ketika Kangsa sedang sekarat, Kresna menampakan dirinya sebagai Dewa Wisnu. Saat itulah Kangsa menyatakan maaf dan penyesalannya atas perbuatannya selama ini. Lalu ia mati.

Kresna menyerahkan kembali tahta Yadawa kepada ayah Kangsa, Ugrasena. Ia juga membebaskan ayah dan ibunya yang kepalanya sudah berada di bawah pisau pemenggal Kangsa. Kemudian ia sendiri menjadi pangeran di kerajaan tersebut.

Sebelum berdirinya kerajaan Dwaraka, kota Mathura—kediaman keluarga Kresna (Yadawa)—diserbu oleh Jarasanda, Raja Magadha karena dendam pribadi. Penyerbuan tersebut berhasil diredam berkali-kali, namun Jarasanda tidak menyerah. Kemudian Jarasanda dibantu oleh Kalayawana, yang memiliki dendam pribadi terhadap klan Yadawa.

Persekutuan Jarasanda dibantu oleh Kalayawana memaksa Kresna mengungsikan penduduk Yadawa ke suatu wilayah di India Barat yang menghadap Laut Arab (pada masa sekarang disebut Gujarat) dan mendirikan sebuah kerajaan di sana, bernama kerajaan Dwaraka. (secara harfiah berarti "kota banyak gerbang"). Setelah Dwaraka didirikan, Kresna mengalahkan Kalayawana dengan suatu jebakan.


Dalam kitab Bhagawatapurana diceritakan bahwa Narakasura dari kerajaan Pragjyotisha behasil mengalahkan Indra, pemimpin para dewa. Indra mengadukan hal tersebut kepada Kresna sehingga Kresna menyerbu Pragjyotisha dengan angkatan perangnya. Kresna berhasil mengalahkan Narakasura dan membebaskan 16.100 putri yang ditawan oleh Narakasura. Kresna lalu menikahi semua putri yang ia bebaskan. Di antara para putri itu adalah SatyabamaJambawati, Kalindi, Mitrawrinda, Nagnajiti, Badra dan Laksana.

Tujuan Kresna menikahi 16.100 putri itu adalah untuk mengembalikan kehormatan mereka. Menurut adat sosial yang ketat pada masa itu, seluruh wanita tawanan memiliki martabat rendah, dan tidak memungkinkan untuk menikah, karena mereka di bawah kendali Narakasura.


Kresna juga dikenal sebagai figur yang membantu Pandawa memerangi Kurawa. Tujuannya tak lain untuk membersihkan kejahatan dan ketidakadilan di Hastinapura, yang disebabkan perilaku para Kurawa. Dalam perang antara Pandawa dan Kurawa, Kresna memposisikan diri sebagai kusir Arjuna.

1 komentar:

Intan Kirana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 29 Mei 2016 02.52

Posting Komentar