Pengantin Remaja

Pernikahan dini selalu saja menimbulkan banyak masalah. Seperti dialami Safira, yang sebenarnya siswi pintar.


Safira adalah gadis yang pintar. Sejak SD nilai-nilainya selalu bagus, terutama mata pelajaran matematika. Bahkan prestasi seperti itu tetap bertahan hingga ia duduk di kelas 1 SMA. Tapi tiba-tiba saja saat mendekati ujian, gadis manis itu menghilang dari sekolah. Tentu ini membuat banyak teman sekolahnya bertanya-tanya, kemana gerangan dia. Usut punya usut terrnyata dia hamil dan terpaksa menikah di usia remaja.

Sayang sekali ketika teman-teman seusianya sedang menjalani pendidikan di sekolah, ia malah sibuk menjalankan tugas memandikan dan menyusui bayi. Ketika teman-teman remajanya bebas bergaul dengan siapa saja, ia terkurung di rumah demi komitmennya sebagai ibu rumah tangga. Ketika  gadis-gadis seusainya asyik bermain-main, ia disibukkan dengan kegiatan  membersihkan rumah, mencuci baju dan piring, menyiapkan kopi dan sarapan untuk suaminya.

Awalnya Safira  cuek saja menghadapi jebakan nasib buruk  seperti itu. Saat menjalani masa-masa sekolah ia memang tak pernah memikirkan masa depan. Ia menjalani hidup ini seperti air yang mengalir. Ia tak pernah berpikir bahwa kelak ia harus menjadi begini atau begitu supaya ia hidup bahagia dan sejahtera.

Mungkin ini semua akibat lingkungan keluarganya yang memang rata-rata  berpendidikan rendah. Tak pernah terpikir bagi kedua orangtuanya untuk memberikan bimbingan dan petunjuk bagaimana seharusnya menghadapi masa depan. Begitu juga tentang bagaimana seharusnya bergaul dengan lawan jenisnya.

Karena tak ada yang memberikan arahan, ia mau saja diajak kemana-mana oleh pria yang berprofesi sebagai mekanik di sebuah bengkel, yang bernama Reza itu. Safira bahkan melihat hal itu sebagai sarana untuk sedikit melonggarkan tekanan nasib buruk yang menimpa dirinya sekeluarga. Baginya, saat-saat bersama kekasihnya itu sebagai hiburan.

Bahkan ketika Reza mengajaknya tidur, ia tak menolak. Ia menganggapnya semua itu alamiah saja, wajar saja. Karena memang kedua orangtua tak pernah memberikan peringatan tentang bahayanya terlalu dekat dengan pria dewasa dalam usia yang terlalu dini. Ya, begitulah, akhirnya, tak terelakkan lagi, ia hamil saat masih kelas 1 SMA dan harus menikah dalam usia sangat muda. Suatu pernikahan tanpa disertai sikap selektif dalam memilih pasangan dan tanpa perencanaan bagaimana ke depannya.

Walaupun suaminya sudah bekerja, tapi yang membuat nasib Safira terasa menyedihkan adalah ternyata suaminya itu sering bolos kerja. Untungnya suaminya itu tukang yang sangat trampil sehingga tempat bekerjanya tak berani begitu saja memecatnya. Bosnya berharap cepat atau lambat Reza sadar dan mau rajin bekerja. Bosnya khawatir Reza pindah ke bengkel lainnya. Tapi karena sering bolos gaji bulanan suaminya tak pernah penuh.  Bila saja suaminya rajin bekerja tentu ia tak akan pernah kekurangan keuangan. Apalagi kalau suaminya menghentikan kebiasaan merokok yang setiap hari bisa menghabiskan 1 bungkus rokok.

Akibat kemalasan suaminya itu dan kebiasaan merokoknya, uang belanjanyapun  minim sekali. Jangankan untuk membeli susu sang bayi, untuk makan sehari-haripun sudah susah.
Untungnya ibu mertuanya sering turun tangan menutup kekurangan uang belanja keluarganya.  Setiap tanggal tua, ibu mertuanya yang berprofesi sebagai pedagang itu selalu tak lupa mengunjunginya di tempat kos. Dan setiap berkunjung, ibu mertua selalu bertanya padanya, apakah uangnya masih cukup sampai akhir bulan. Kalau ia bilang sudah nipis, ibu mertuanya itu selalu merogoh kantung untuk menambah uang belanjanya.

Tapi yang membuatnya kaget, ibu mertuanya itu selalu menyarankan agar kalau bayinya sudah agak besar sebaiknya ia tak ragu meninggalkan suaminya. Ibu mertuanya bilang ia menyarankan seperti itu tak lain karena tak ingin dirinya menderita karena temperamen Reza yang buruk. Selain malas bekerja, Reza suka ringan tangan. Kalau marah ia tak segan-segan memukul istri-istrinya.

Ya memang ternyata istri Reza tak hanya Safira. Sebelum menikah dengan Safira, Reza sudah memiliki dua istri, yang semuanya masih di bawah umur dan hasil kecelakaan. Hal itu awalnya sangat mengejutkan Safira, tapi kini ia sudah merasa biasa.

Yang paling membuatnya gelisah adalah pengakuan mertuanya kalau Reza suka memukuli istri-istrinya.  “Karena ia suka ringan tangan, para orangtua istri Reza tak pernah rela melepaskan putrinya hidup bersama Reza. Mereka tetap tinggal dengan orangtua mereka masing-masing. Hanya kamu yang masih tinggal bersama Reza,” jelas ibunya.

Saat ini istri Reza yang kedua, Dini, sedang dalam proses perceraian. Orangtua wanita ini tak rela anaknya terus bersama Reza karena sering jadi korban pemukulan Reza. Mereka siap menjodohkan Dini dengan pria lain yang lebih baik. Ya memang keluarga Dini ini termasuk orang yang berpendidikan. Jadi mereka tahu betul anaknya akan menjadi sengsara bila terus bersama Reza. Dan keputusan keluarga Dini sangat didukung oleh ibu Reza sendiri.

Sementara istri pertama Reza, Endah, memilih tetap menjadi istri Reza. Selain sudah terlanjur memiliki anak, ia merasa tak tahu lagi harus bagaimana dalam menghadapi hidupnya yang selalu penuh penderitaan. Ia terbiasa hidup menderita karena berasal dari keluarga miskin. Ia pasrah pada nasib dan bersikap menerima apapun yang terjadi padanya. Tapi keluarganya tak pernah melepaskan dirinya untuk tinggal serumah dengan Reza.

“Safira setelah anakmu besar, kamu tak perlu berlama-lama ikut Reza. Ceraikan saja dia karena bersama Reza kamu akan sengsara,” kata ibu Reza, Ny. Wina dengan iba.

“Enggak, bu. Aku benar-benar mencintainya. Aku akan menerima dia apa adanya. Aku sama sekali tak pernah berpikir berpisah dengannya,” ujar Safira.

“Lihat saja nanti. Kalau kamu sudah merasakan perilaku buruk Reza, pikiranmu akan terbuka. Kamu akan merasa menyesal hidup bersamanya,” kata Ny. Wina. Wanita itu terdiam sejenak lalu bertanya pada Safira, “Apa selama ini kamu pernah dipukul Reza?”

Dengan wajah memerah dan rasa takut, Safira menggeleng-gelengkan kepala.

“Makanya kamu masih ingin tetap bersamanya. Tapi yang aku khawatirkan, kalau suatu saat ia mulai melakukan kekerasan terhadap dirimu. Ia tidak hanya main pukul terhadap istri-istrinya saja. Bahkan aku, ibunya sendiri, yang membesarkannya,  sering dibentak-bentak,” lanjut Ny. Wina.

Safira memandang wajah mertuanya itu dengan tatapan tak percaya dan setengah tidak percaya.
“Masa, bu, Reza sudah sampai seperti itu?”, tanya Safira.

“Ya, nanti pasti kamu akan mengalaminya sendiri. Dia itu, kalau sedang nggak punya uang selalu minta ibu. Kalau nggak dikasih dia akan membentak-bentak. Aku sering terlibat pertengkaran hebat dengannya karena tidak memenuhi permintaannya,” tutur mertuanya.

Mertuanya itu pun menambahkan, “Kalau ibu tak kasih uang kepadanya bukan berarti tidak punya uang. Ibu hanya khawatir uang pemberian uang ibu dibuat senang-senang sendiri dan tidak dikasihkan istri-istrinya. Aku lebih suka memberikan uang itu sendiri kepada istrinya untuk mencukupi kebutuhan istri dan anaknya dalam sebulan,” ujar mertuanya.

“Terima kasih. Ibu begitu baik kepada saya,” jawab Safira  terharu melihat perhatian mertuanya yang begitu besar terhadap dirinya.

“Aku menyesal sekali punya anak seperti dia. Sebelum melahirkan ibu selalu minta diberikan anak yang baik dan soleh oleh Gusti Allah, tapi  apa boleh buat kalau akhirnya aku mendapatkan anak seperti itu,”  ujar Ny. Wina berapi-api.

“Sabar saja, bu, orang sabar itu dicintai Tuhan,” hibur Safira sekenanya.

“Kamu mungkin juga belum tahu, meskipun dia itu sudah punya tiga istri, tapi dia masih suka berhubungan dengan wanita-wanita lain di luar. Saya sering dikomplain oleh keluarga istri-istri anakku. Tapi bagaimana lagi. Ia tak peduli pada anak istrinya. Ia hanya peduli dengan dirinya sendiri,” ujar ibu mertua.

Safira tak menjawab dan hanya menunduk saja.

“Aku dengar ketika sekolah kamu anak yang pintar tapi kemudian harus berhenti sekolah karena dirusak oleh Reza. Aku berharap kamu tidak terus memasrahkan dirimu pada Reza. Dia bukan tipe suami yang baik. Tinggalkan dia, selesaikan SMA-mu, bekerja, dan temukan kembali jodoh yang jauh lebih baik dari Reza,” lanjut mertuanya.

“Tapi, bu, bagaimana dengan anakku ini? Dia butuh perhatian dan kasih sayang ibunya,” tutur Safira.

“Jangan khawatir tentang dia. Aku akan merawatnya. Nanti kalau hidupmu sudah enak, ambillah dia kapan saja. Aku yakin anakmu akan tumbuh lebih sehat dan pintar bila kamu besarkan sendiri tanpa ayahnya. Karena ayahnya sudah rusak berat,” kata ibu Reza.

Lanjut ibu mertuanya lagi, “Oh, iya satu lagi yang mungkin membuatmu terkejut. Suamimu itu suka judi dan mabuk-mabukan. Makanya  ketika Reza punya istri tiga, aku sebagai ibunya sangat tidak senang. Itu berarti akan semakin banyak wanita yang dia buat sengsara.”

Safira kaget juga mendengar pengakuan ibu mertuanya yang begitu blak-blakan tentang sifat-sifat Reza. Ia benar-benar tak menyangka suaminya begitu buruk perilakunya. Seingatnya ketika mereka masih pacaran, ia sangat lembut dan kata-katanya manis. Dan karena ketidakmatangan jiwanya, ia termakan begitu saja dengan penampilan luar dan dengan kegantengan Reza sehingga ia mau saja dijadikan pacarnya dan bahkan tidur dengannya.

Safira tiba-tiba merasakan hidup begitu rumit dan berat setelah ia menikah. Ia sangat menyesal begitu mengetahui secara mendalam perilaku suaminya. Dan ia menjadi sangat takut ketika mendengar suaminya ternyata ringan tangan. Bagaimana kalau suaminya itu sampai melakukan kekerasan terhadap dirinya?

Tapi apa yang bisa ia perbuat dalam kondisi seperti  sekarang ini? Ia tak mungkin meninggalkan rumah untuk bekerja. Selain tak tega dengan bayinya yang masih merah, ia juga tak punya bekal untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Soalnya ia kan cuma jebolan SMA kelas 1.
**********


Suatu  petang, tiba-tiba Safira mendengar bunyi benda-benda dibanting. Ketika ia menengok ke dapur, ia terkejut melihat suaminya yang sambil marah-marah membanting piring, gelas dan mangkuk yang berisi lauk dan sayuran ke lantai. Tak ayal lagi lantai jadi kotor karena dipenuhi makanan yang berserakan.

Safira pun ketakutan dan di benaknya langsung terbayang apa yang beberapa waktu lalu dikatakan oleh mertuanya tentang suaminya. Ia khawatir sebentar lagi ia akan terkena gamparan suaminya. Dan benar saja tiba-tiba saja plak, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya. Safira sempat terhuyung-huyung. Tapi ia tak kuasa melawan. Ia hanya bisa mengadu kesakitan.
“Mas apa salahku, kenapa kamu tiba-tiba membanting piring dan memukul aku?”, tanya Safiran sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.

“Tuh, lihat makanan apa yang kamu berikan padaku. Masa hanya nasi dan sepotong tempe dan sayuran yang sudah basi. Kamu tahu nggak aku ini sudah capai-capai carikan duit untukmu, tapi kau hanya memberikan makanan yang seperti ini,” teriak Reza dengan nada tinggi.

“Uang belanjaku sudah tipis, Mas. Uang yang tersisa  bisanya hanya untuk beli lauk seperti itu. Dan soal sayuran itu, maaf, Mas aku lupa membuangnya. Aku letih sekali setelah seharian sibuk dengan pekerjaan rumah dan merawat anak kita,” jelas Safira ketakutan.

Ibu remaja itupun  mencoba mengalihkan perhatian suaminya dengan menyapu pecahan-pecahan kaca an tumpahan makanan yang berserakan di lantai dan membuangnya di tempat sampah.

“Aku nggak percaya uang belanjaannya nggak cukup. Pasti kau menghambur-hamburkan uang untuk jajan,” bentak suaminya.

“Masya Allah, Mas, setiap hari aku hanya tinggal di rumah ngurus anak dan memberesi pekerjaan rumah. Tanya para tetangga, apakah aku pernah keluar rumah dan jajan di luar. Uang belanjanya memang sudah mepet sekali, Mas. Kita harus benar-benar  berhemat. Lagi pula aku harus menyisihkan lebih banyak uang belanja untuk susu anak kita,” jelas Safira di sela-sela mengepel lantai.

“Kalau kita keluarkan lagi uang untuk beli makanan pengganti malam ini, uang belanjanya nggak cukup, Mas. Aku tak tega mengorbankan uang susu untuk anak,” lanjut Safira memelas.

“Ya, sudah, ini kamu belikan nasi soto sesudah selesai mengepel,” perintah suaminya sambil menyodorkan dua lembar uang sepuluhribuan tanpa perasaan bersalah. Suaminya segera berlalu dan nonton televisi.

Safira pun cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ngepel lantainya. Tak berapa lama kemudian ia keluar rumah untuk membeli nasi soto di kampung tetangga. Selama dalam perjalanan, ia mencoba mencerna kembali apa yang barusan terjadi.

“Benar juga kata mertua kalau anaknya suka memukul. Kalau begini terus aku akan hidup dalam ketakutan dan akan membuatku menderita. Hm betapa bodohnya aku sampai jatuh ke tangan orang yang punya tingkah laku buruk. Tapi tak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Keluhan tak akan mengubah apapun.,” ujar Safira dalam hati.

Ia pun mulai memikirkan kemungkinan meninggalkan suaminya seperti yang disarankan ibunya Reza. Ah, rasanya ia tak tega dengan bayinya. Ia masih terlalu kecil untuk ditinggalkan ibunya. Tunggulah sampai selesainya masa menyusui sebab kata  bidan yang membantunya melahirkan,  ASI itu sangat baik bagi perkembangan bayi. “Aku harus bicara lagi dengan mertuaku. Bukankah beliau sanggup merawat bayiku?”,  ujar Safira mulai gelisah membayangkan situasi horor yang bakal ia hadapi selanjutnya.

Tiba-tiba ia merasa sangat benci kepada suaminya. Keinginannya untuk melepaskan diri dari cengeramannya pun kian meluap hanya dalam hitungan jam. “Ya, aku harus melepaskan diri dari orang jahat ini. Aku akan menunggu saat yang tepat untuk melakukannya,” ujar Safira sambil menguatkan tekadnya.

Setelah sampai di rumah dan makan nasi soto bersama suaminya, Safira pergi ke tempat tidur di samping bayinya. Ia betul-betul kelelahan karena harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dan merawat bayi sendirian. Safira baru sadar betapa beratnya kehidupan rumah tangga. Apalagi kini ia hidup bersama laki-laki yang setiap saat bisa melakukan kekerasan terhadap dirinya.
**********

Setelah satu setengah tahun mengalami kekerasan dari suaminya, ia mulai berhenti menyusui bayinya. Anak perempuannya itu kini menginjak usia 1,5 tahun. Dengan mendapatkan ASI dan perawatan yang telaten, anaknya yang ia beri nama Rifka itu tumbuh dengan baik dan sehat. Tidak hanya itu, ia benar-benar anak perempuan yang cantik dan lucu.

Ia senang sekaligus sedih setiap memandang Rifka. Senang karena ia tumbuh sehat dan cantik, tapi sedih mengingat bagaimana nasibnya kelak. Setelah sekitar dua tahun mengarungi rumah tangga, ia sama sekali tak melihat ada perubahan pada suaminya.

Memang suaminya kini sudah mulai rajin bekerja, tapi uang belanjaannya tetap saja minim. Reza suka senang-senang sendiri di luaran daripada menambah uang belanja istrinya. Sebagian besar penghasilannya digunakan untuk mabuk-mabukan, main judi dan main perempuan.  Reza pun masih sering datang ke rumah ibunya untuk minta duit. “Hm benar-benar suami yang tidak bertanggungjawab dan memalukan,” pikir Safira. 

Dan yang paling mengerikan, kebiasaannya main pukul semakin menjadi-jadi. Sudah tak terbilang berapa kali ia mendapatkan pukulan dari suaminya. Karena itulah ia sudah tak betah tinggal lebih lama lagi bersama suaminya. Ia ingin segera mengajukan gugatan cerai.
Ketika ibu mertuanya, Ny. Wina mengunjunginya di rumah kontrakan,  Safira pun curhat habis-habisan. Begitu ibunya datang ia langsung mengajukan pertanyaan, “Ibu, apakah saran ibu agar aku meninggalkan Reza masih berlaku?”

“Oh, ibu tetap menganjurkan kamu meninggalkan Reza. Aku tahu kau mulai merasakan perilaku buruk suamimu dan kamu sudah tidak tahan lagi hidup bersamanya. Aku sedih mendengarnya, Nak”,  jawab Ny. Wina sedih. Safira sungguh terharu mendengar kata-kata mertuanya yang begitu penuh pengertian.

“Betul, Bu. Aku sudah berkali-kali mendapatkan pukulan darinya. Aku juga telah melihat sendiri ia suka mambu-mabukan dan berjudi. Tapi Bu, apakah benar ibu mau merawat bayiku kalau aku meninggalkan Reza?”, tanya Safira.

“Tentu saja, Nak. Aku mau bantu kamu. Begitu kamu keluar dari rumah ini, aku akan mengambilalih perawatan bayimu. Dan bila kau sudah merasa mampu, ambillah anakmu,” kata  ibu Reza.

“Tapi bagaimana Bu kalau Reza menolak menceraikanku dan memukuli aku?”, tanya Safira.

“Aku dan mertua lakimu, akan turun tangan menghadapinya,” ujar ibu Reza.
Safira lega sekali mendengar jawaban ibu Reza. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan keinginan cerainya pada suaminya. Begitu ia minta cerai, ia berencana secepatnya keluar dari rumah dan kembali ke rumah orangtuanya sambil menunggu proses perceraian.

Hal pertama yang akan ia lakukan adalah cari pekerjaan apa saja seperti jadi buruh pabrik atau penjaga toko. Pokoknya apa sajalah yang mungkin  bisa ia dapatkan. Ia akan hubungi teman-teman dan kenalannya untuk mendapatkan lowongan pekerjaan.

Pada suatu malam ketika suaminya tengah bersantai sambil nonton televisi, ia mendekatinya dan duduk di kursi di seberang suaminya, “Mas aku ingin bicarakan soal hubungan kita......,” kata-kata Safira tertahan. Tiba-tiba ia merasa takut sekali meneruskan ucapannya. Ia khawatir suaminya ngamuk. Tapi ia harus memaksakan diri untuk mengatakannya.

“Ada apa Safira, ayo cepat katakan,” ujar Reza sedikit kaget karena tak dinyana Safira akan bicara soal hubungan mereka.

“Begini Mas, aku sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Mas terhadapku. Aku  ingin bercerai Mas,” ucap Safira dengan ekspresi ketakutan.

Tiba-tiba Reza bangkit dan berjalan menuju Safira dan mencengkeram bajunya di bagian dada sehingga ia dalam posisi berdiri. “Kurang ajar kamu sudah selingkuh dengan pria lain ya hingga kamu minta cerai,” teriak Reza dengan lantang sambil mendaratkan beberapa kali pukulan ke arah wajah istrinya.

Safirapun terjatuh ke kembali ke kursinya. Ia menjerit kesakitan dan menangis dengan keras. Ia meraba keningnya yang mulai mengucurkan darah. “Nggak, Mas aku nggak selingkuh. Aku hanya tak tahan dengan perlakuanmu yang suka main pukul,” ujar Safira sambil menjerit-jerit. Ia sengaja menjerit dengan keras sekali agar para tetangga mendengar dan segera berdatangan dan mengamankan dirinya.

Reza kembali mencengkeram krah bajunya dan memukulnya. Kepala Safira terasa sakit sekali dan kepalanya  berkunang-kunang. Samar-samar ia melihat para tetangganya  berdatangan ke rumahnya. Mereka memegangi dan menjauhkan Reza dari dirinya. Tapi ia keburu tak sadarkan diri. Begitu sadar, ia berada di atas tempat tidur dengan mertua ada di sampingnya. Dengan lembut mertuanya membelai-belai rambutnya sambil berkata, “Rupanya kau sudah sadar, Nak?”, sapa ibunya.

“Apa yang terjadi denganku bu dan aku sekarang ada dimana?”,  tanya Safira.

“Kau baru saja dianiayai suamimu dan pingsan. Para tetanggamu lalu membawamu ke rumahku. Suamimu sekarang sudah diamankan di kantor polisi atas laporan tetanggamu yang  melihat kamu dipukuli suamimu,” jelas ibu Reza.

“Bagaimana dengan Rifka, bu?”, tanya Safira.

“Oh, itu dia. Ia tidur nyenyak di kamar ibu. Ia diungsikan sama para tetanggamu di sini,” jawab ibu Reza.

Safira pun bangkit dan hendak turun dari tempat tidur untuk mendatangi Rifka. “Aku ingin mengambilnya, Bu dan  tidur dengannya di sini,” kata Safira.

“Apa kondisimu benar-benar sudah baik?”, tanya ibu mertuanya.

“Sudah mending, Bu. Aku nggak apa-apa kok, Cuma muka dan tulang-tulangku masih agak nyeri. Tapi aku kuat berdiri dan menggendong Rifka,” kata Safira.

“Oh, syukurlah kalau begitu,” ujar ibu mertuanya.

Keesokan harinya setelah pada malam hari tidur nyenyak bersama bayinya, Safira berpamitan pada mertuanya untuk kembali ke rumah orangtuanya. “Bu, tolong ya, aku titip Rifka. Nanti kalau saya sudah dapat pekerjaan dan menyelesaikan sekolahku, aku akan ambil lagi anakku,” kata Safira.

“Jangan khawatir Safira, ibu akan menjaga dan merawat Rifka dengan baik,” kata ibu mertuanya.

Atas bantuan  salah seorang tetangganya, Safira mendapatkan pekerjaan yang cukup nyaman dan penghasilannya pun tak terlalu buruk: jadi satpam di sebuah apartemen besar. Ia bisa mendapatkan pekerjaan itu karena tubuhnya cukup tinggi sesuai persyaratan yang diminta pengelola apartemen. Selain itu ia juga meneruskan pendidikan SMA-nya melalui Kejar Paket C.

Ia pun menjadi begitu gembira dan bersyukur begitu surat cerainya turun dan  mendapatkan hak asuh atas anaknya. Safira kini bagai memasuki kehidupan yang baru. Selain sudah memiliki penghasilan tetap, dengan tanpa halangan apapun ia bisa menjenguk Rifka setiap saat di rumah eks mertuanya. Belahan hatinya itu semakin lama semakin lucu dan menggemaskan. (Rengga)



8 komentar:

Intan Kirana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 29 Mei 2016 02.46
JAVA NEWS mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 10 Maret 2017 14.19
DOMINO206.COM mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 28 Mei 2017 14.12
Resty ayudinata mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 8 Juni 2017 02.30
Resty ayudinata mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 9 Juni 2017 03.26
Monica lakos mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 10 Juni 2017 03.20
DOMINO206.COM mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 17 Juni 2017 18.35
Scary secret25 mengatakan...

Keren banget ceritanya. Suka ihhhh

21 Juni 2017 06.41

Posting Komentar