Rahasia Gadis Pintar

Ia adalah gadis yang pintar, kelihatan alim, dan punya cita-cita jadi akuntan. Tapi siapa nyana ia menyimpan rahasia besar.



Akhirnya ia bisa juga duduk satu meja dengan gadis anggun ini. Hm, gadis itu benar-benar manis. Siapapun cowok yang melihatnya pasti kepincut pada pandangan pertama. Nilai plusnya yang lain dia memakai kerudung. Wah ia pasti seorang gadis yang alim dan sholeh. Begitu pikir Hendro.
Dan yang paling menarik hati Hendro adalah wajahnya mirip sekali dengan penyanyi mungil yang lagi ngetop: Fatika. Tapi yang ini memiliki keunggulan fisik: bodinya tinggi dan proporsional.
Yang jadi pertanyaan Hendro kenapa ia selalu ketemu gadis ini di Kafe Mal bukan di tempat lain yang kesannya lebih bagus. Ini adalah yang ketiga kalinya ia bertemu dengan “Fatika” di tiga mal yang berbeda. Yang pertama di Mal Kelapa Gading, yang kedua di Plaza Andika dan yang ketiga, sekarang ini, di Plaza Bintang.
Kali ini Hendro tak bisa membendung keinginannya lagi untuk bicara dengan “Fatika”. Ia pun menghampiri meja gadis yang sedang kongkow-kongkow dengan seorang cewek manis lainnya.
“Selamat siang sist. Boleh saya ikut bergabung?”,  tanya Hendro.
“Silakan!,”  sambut si “Fatika” dan temannya ramah.
“Jangan khawatir sist, saya yang traktir,” kata Hendro.
“Bener, nih?”,  sambut teman “Fatika” sambil tersenyum.
“Bener. Eh, ngomong-ngomong kenalan dulu dong, saya Hendro,” ujar mahasiswa tingkat II itu sambil menjulurkan tangannya ke “Fatika”.
“Saya Melisa,” ujar “Fatika” membalas uluran tangan Hendro
“Saya Dinar,” kata teman “Fatika”.
Setelah melakukan pemesanan makanan dan minuman Hendro melanjutkan pembicaraannya.
“Kalian masih pada sekolah nih?”, Tanya Hendro
“Ya, kami teman sekelas, kelas 1 SMA,” kata Melisa
“Oh, saya kira kalian sudah kuliah seperti aku. Soalnya kamu  kelihatan dewasa dan tubuh kalian pada tinggi-tinggi,” kata Hendro tersenyum.
“Mas kuliah di mana sih?”, tanya Melisa.
“Aku tingkat II di Institut Teknologi Nusantara,” jawab Hendro.
“Hm... keren. Mas pasti pintar ya? ITN itu kan tempat ngumpulnya anak-anak pintar. Kakak saya saja yang sangat pintar nggak bisa masuk,” kata Melisa antusias, “Dan pastinya Mas pintar matematika ya? Ajari saya dong. Aku tak terlalu bagus pada mata pelajaran ini,” ujar Melisa.
“Lho kan kamu punya kakak yang pintar dan pastinya juga pintar matematika?”, tanya Hendro.
“Betul, tapi kakak saya itu mana mau ngajari adiknya. Kalau toh mau ngajari, dia nggak sabaran dan maunya lari melulu. Ajarin aku ya mas, ini tak kasih nomor teleponku,” ujar Melisa sambil kirim miscall lewat HP-nya.
“Baiklah, aku mau ngajarin kamu dua kali seminggu. Kamu yang datang ke rumahku atau aku yang datang ke rumahmu?”, tanya Hendro sambil melihat pada layar HP-nya yang berdering. Ia melihat nomor Melisa, lalu menyimpannya dan mengucapkan terima kasih.
“Mas, saja yang datang ke rumahku. Kan nggak enak cewek datang ke rumah cowok. Orangtuaku dan saudara-saudaraku baik kok,” jelas Melisa.
“Baiklah, tapi setiap hari Senin dan Jumat,  ya. Pas waktuku longgar,” jawab Hendro.
“Boleh. Tak tunggu mulai lusa ya, Mas?” jawab Melisa kegirangan.
“Kalau Dinar bagaimana?”, tanya Hendro merasa tak enak melihat teman “Fatika” itu hanya pasif mendengarkan.
“Kalau aku sih nggak suka matematika, terlalu susah bagi aku,” aku Dinar.
“Nggak ikut gabung dengan Melisa?”, tanya Hendro.
“Nggak Mas. Aku pusing kalau lihat angka-angka dan pelajaran yang rumit-rumit. Kalau untuk Melisa cocok, dia kan bercita-cita jadi akuntan,” jawab Dinar.
“Betul Melisa?”, tanya Hendro.
“Betul sekali, Mas. Selepas SMA aku mau melanjutkan ke Sekolah Tinggi Akutansi”, jawab Melisa.
“Salut deh buat kamu. Baru 1 SMA sudah memikirkan masa depan. Tapi bagaimana dengan nilai-nilai matematikamu sekarang?”, tanya Hendro.
“Cukup bagus,” ujar Melisa.
“Lho kok minta dilesin?”, tanya Hendro lagi.
“Ya, karena nilai ulanganku sekarang masih sekitar 7 - 8, aku inginnya nilai 9 - 10, biar kalau masuk STA bisa bersaing dengan yang pintar-pintar. Aku khawatir nggak bisa bersaing dengan mereka kalau nggak les. Ya, itu karena kebanyakan mereka les di luar. Sedangkan aku nggak les,” ujar Melisa.
Sejenak Hendro merenung. Dalam hati ia memuji Melisa sebagai seorang gadis yang punya kualitas dan keinginan yang kuat untuk maju. Bayangkan ketika gadis-gadis seusianya hanya mikir bersenang-senang saja, ia sudah memikirkan masa depan dan bagaimana meningkatkan kualitas.
Ia tak rugi punya perhatian khusus pada gadis ini. Ya sejak ketemu dua kali melihat Melisa di plaza beberapa bulan sebelumnya, ia sangat tertarik dengan gadis ini. Sejak pertama kali melihat sebetulnya ia sudah ingin nyamperin mejanya dan berbincang-bincang dengannya. Tapi ia masih belum memiliki nyali untuk melakukan itu.
Setelah sempat berbincang-bincang dengan gadis itu, ia makin tertarik saja. Ternyata Melisa pintar dan berpikiran maju. Makanya ia rela memberikan les matematika gratis. Apalagi ia punya maksud lain: ingin lengket dengan Melisa dan kalau bisa menjadi kekasihnya.
Maka pada suatu malam pada hari Selasa usai Maghrib, Hendro datang ke rumah Melisa untuk yang pertama kalinya. Hendro terkejut ternyata rumah Melisa sangat sederhana. Rumahnya tak lebih dari 60 m2 dan tak memiliki halaman alias full bangunan. Dinding-dindingnya tampak sudah mengelupas sebagai tanda lama tak tersentuh renovasi. Di ruang tamu yang sempit hanya ada televisi warna jadul 12 inch dan meja kursi yang sudah lama tak diganti. Ya di meja kursi tamu itulah ia ngajari Melisa matematika.
Pikiran Hendro jadi nerawang dan berpikir dalam hati. “Kok bisa ya dengan kondisi keluarga seperti itu, Melisa sering nongkrong di plaza. HP yang dipegang Melisa juga bukan barang murahan. Itu adalah smartphone yang harganya jutaan. Dan baju yang dikenakan Melisa meskipun pakai kerudung, tapi selalu tampak modis dan ngetren”
Tapi pikiran-pikiran buruk Hendro langsung sirna begitu melihat Melisa begitu cepat menangkap pelajaran yang ia ajarkan. Tiba-tiba hatinya bergetar setiap kali memandangi Melisa. Hati Hendro pun kian bulat ingin memilikinya.
Di sela-sela ngajari Matematika, Hendro mengajukan pertanyaan, “Dik Melisa sudah punya pacar ya?”, tanya  Hendro.
“Nggak sempat mikir pacar, Mas. Waktuku banyak tersita untuk belajar demi mengejar cita-cita masuk Sekolah Tinggi Akuntansi. Kalau nggak gitu aku khawatir nggak lolos seleksi. Ya hanya sekali-kali saja aku keluar sama teman untuk refreshing ke plaza atau tempat lain biar nggak stress, tapi bukan untuk pacaran,” kata Melisa tersenyum.
Hendro lega sekali mendengar jawaban itu. Ini berarti ia memiliki peluang untuk masuk dalam kehidupan Melisa. Apalagi dengan kepintarannya dalam pelajaran matematika, pasti keberadaannya akan menunjang cita-cita Melisa. Tapi ia tak berani menyampaikan rasa cintanya saat ini juga. Ia khawatir Melisa kaget karena pernyataan cintanya yang terlalu cepat. Ia memilih bersabar dulu.
Pada les yang kedua, Hendro semakin menikmati manisnya saat-saat bersama Melisa. Selain cepat menangkap apa yang ia ajarkan ternyata Melisa merupakan teman bicara yang baik. Les privat ini ia bagi ke dalam dua sesi yang diselingi dengan  masa istirahat. Saat rehat inilah ia terlibat pembicaraan yang hangat dengan Melisa.
“Kalau begini terus Melisa optimis bisa bersaing menghadapi tes masuk ke Sekolah Tinggi Akuntansi, Mas. Kalau sebelumnya, aku nggak berani terlalu berharap. Teman-teman sekelas Melisa pandai-pandai dan pada les semua. Aku pasti kalah bersaing,” ucap Melisa dengan nada gembira.
Hendro tersenyum mendengar pengakuan Melissa. “Tapi apakah kamu nggak mengalami kesulitan dengan caraku mengajar?”, tanya Hendro.
“Sama sekali tidak, Mas. Aku suka cara Mas mengajar, sistematis, step by step dan rinci. Bahkan guruku di kelaspun mengajarinya tidak sebagus ini,” kata Melisa.
Mahasiswa tingkat dua itu pun merasa tersanjung. Ia bangga mendapatkan pujian dari seorang gadis cantik yang saat ini sedang ditaksirnya. Tapi ia tetap berusaha menahan diri agar tak cepat-cepat menyatakan cinta.
“Aku bersyukur, Mas telah mengenalmu. Kamu tahulah, Mas, keadaanku ya seperti ini  Ayahku hanya seorang pegawai rendahan dan ibuku di rumah saja. Aku masih punya dua saudara lagi yang jadi tanggungan mereka berdua. Jadi kalau tidak ada Mas, bagaimana aku bisa mendapatkan pelajaran tambahan seperti ini. Aku nggak punya beaya Mas. Buku saja pinjam sana kemari,” tutur Melisa.
Hendro terdiam sejenak. Ia jadi teringat bahwa sebelum ini ia sudah ketemu Melisa tiga kali di plaza. Melisa memegang smartphone mahal dan bajunya pun cukup modis dan trendi dengan dibalut kerudung yang indah. Hm penampilan seperti ini tidaklah pas dengan kondisi rumah Melisa. Tiba-tiba Hendro merasa risau bagaimana Melisa bisa menikmati ‘kemewahan’ seperti itu.
Tapi Hendro kemudian ingat ada seorang remaja tetangganya yang begitu disayangi oleh pamannya sehingga anak itu setiap bulan mendapatkan hadiah dan  uang saku yang cukup besar darinya. Itu tampak dari apa yang dimiliki anak itu. Walaupun orangtuanya ekonominya pas-pasan, tapi anak itu punya console game PS3 dengan kaset-kasetnya yang komplit, Kalau anak itu keluar rumah tujuannya juga bukan ke tempat-tempat untuk anak-anak orang miskin. Ia sering kongkow-kongkow dengan teman-teman sekolah, yang ekonominya jauh lebih baik darinya. Dan ia punya motor keluaran terbaru, yang mustahil itu pemberian dari orangtuanya.
Mengingat itu Hendro tak berani suudzon. Mungkin apa yang dialami Melisa sama dengan yang dialami anak remaja tetangganya. Atau diam-diam Melisa punya sumber pendapatan sendiri yang tidak ia ketahui. Tapi ia tak berani menanyakan hal yang tentu sangat pribadi itu pada Melisa. Takut Melisa tersinggung dan marah karena ia terlalu ingin tahu urusan pribadi orang.
Sudah enam bulan Hendro ngelesi Melisa. Kemajuan Melisa sungguh luar biasa. Nilai-nilai matematika yang semula hanya di kisaran 7-8 kini melonjak menjadi antara 8-9. Ia melihat gadis itu semakin rajin belajar. Nilai-nilai pelajaran lainnya pun juga naik semua. Ia bisa mengetahui semua itu karena gadis itu selalu menunjukkah hasil ulangan kepada dirinya.
Tapi tentang pribadi Melisa, bagi Hendro tetap menjadi misteri. Hendro tetap tak tahu banyak tentang kehidupan Melisa. Pertanyaan-pertanyaan tentang kenapa Melissa bisa memiliki smartphone mahal tetap menjadi misteri. Begitu juga tentang kehidupan gadis itu di luar rumah ia tak banyak tahu. Semua itu terjadi karena ia tak berani bertanya dan juga tak berani menyelidik.
Yang membuat Hendro risau, Melisa tak pernah mengundang dirinya datang pada malam minggu sebagai tanda Melisa juga punya perasaan terhadap dirinya. Bahkan gadis itu sama sekali tak pernah menyingung-nyinggung soal asmara. Ia menangkap hal itu sebagai tanda-tanda gadis itu tak memiliki ketertarikan asmara kepada dirinya.
Kalau sebagai teman sih memang Melisa sangat menyenangkan. Pengetahuannya cukup luas sehingga bisa mengimbangi setiap pembicaraannya.  Ia merasakan perasaan pertemanan jauh lebih kental dibanding perasaan asmara. Karena itulah ia jadi tak memiliki keberanian untuk menyatakan cinta. Ia khawatir Melisa tak ada hati dan ia jadi patah hati. Hm sungguh ia tak siap kalau hal seperti itu harus terjadi.
Seperti biasanya Hendro kembali datang ke rumah Melisa untuk ngelesi. Tapi di tengah-tengah memberikan pelajaran, Smartphone Melisa berdering. Ketika melihat layar, Melisa tampak tidak senang. Ia lalu pamit menuju kamarnya untuk menjawab telepon itu. Sepuluh menit kemudian Melisa baru kembali. Tampak sekali raut mukanya menunjukkan perasaan tidak senang.
“Maaf ya, Mas, ini ada teman yang ngganggu. Ini ada cowok yang pernah aku tolak cintanya, memaksa untuk datang ke rumah. Aku nggak berani mengizinkan datang, nanti dikiranya aku memberikan harapan. Bahkan kalau aku punya waktu longgar pun, aku nggak berani izini dia datang. Aku sudah tahu watak dia, Mas. Jadi aku nggak mau ambil resiko,” ujar Melisa.
Hendro lega mendengarnya. Hm berarti memang Melisa itu gadis yang baik dan pintar. Ia begitu selektif memilih cowok. Tapi ia juga sedih karena sampai sekarang ia tak tahu apa-apa tentang pribadi Melissa. Pembicaraannya dengan Melisa selama ini masih berputar-putar di sekitar pelajaran, sekolah dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat. Itu saja.
Dan Hendro juga heran kenapa sampai sejauh ini Melisa tak pernah curhat tentang kehidupan pribadinya kecuali soal pelajaran. Ya Melisa baru mengeluh dan curhat kalau sedang menghadapi kesulitan mengerjakan PR atau ulangan. Selebihnya tidak ada. Inilah yang membuatnya enggan bicara soal pribadi dan asmara. Ia mengutuk dirinya sendirinya karena terbawa irama gadis itu. Mestinya sebaliknya gadis itulah yang mengikui iramanya karena ia jauh lebih tua dan dewasa.
Pada Rabu Malam seusai mencari buku di toko buku di Plaza Andika, Hendro  sangat terkejut melihat pemandangan di hadapannya: Melisa sedang keluar dari sebuah restoran mewah dengan teman wanitanya dan seorang pria perlente . Ia pun dengan mengendap-endap mengikuti langkah mereka. Hm mereka menuju tempat parkir mobil dan mereka masuk ke sebuah mobil yang cukup mewah, Toyota Fortuner.
Hendro berpikir pria itu pasti bukan ayahnya karena Melisa pernah bilang ayahnya hanyalah seorang pegawai rendahan. Pria itu pasti juga bukan pamannya karena seorang paman kok punya acara berdua dengan keponakannya dan teman wanitanya. Pikiran Hendro jadi berkecamuk dan galau. Tiba-tiba saja ia jadi membenci Melisa. Ia ingat smartphone mahal yang dimiliki Melisa ataupun pakaian-pakain bagus yang dikenakan gadis itu. Hm apakah mungkin itu pemberian dari om-om itu. “Kurang ajar. Aku nggak akan mau lagi memberi les pada gadis nakal itu, “ pikir Hendro.
Sebetulnya ia ingin menguntit mobil itu tapi tak mungkin terkejar. Tempat parkir mobil dengan sepeda motor yang dikendarainya tempatnya terpisah tiga lantai. Mobil om-om itu ada di lantai tiga sedangkan sepeda motornya ada di lantai ground. Apalagi jalan-jalan di sekitar plaza pasti padat. Ya sudah dia menyerah dengan meninggalkan misteri yang mengganggu pikirannya.
Benar saja Hendro tak mau lagi datang ke rumah Melissa untuk ngelesi. Saat jam ngelesi tiba Hendro memilih tetap tinggal di rumah. Ketika Melisa nilpun, Hendro tak mau mengangkatnya. Bahkan sampai 10 kali Melisa nilpun tetap tak diangkat oleh Hendro.
Akhirnya Melisapun mengiriminya SMS ke HP Hendro. “Mas Hendro, apa salah Melisa hingga, Mas, nggak mau ngelesi aku. Mas tak memberikan kabar dan bahkan aku telepon berkali-kali Mas tak menjawab. Ada apa Mas, apa ada yang salah denganku? Tahukah Mas hatiku sakit sekali. Malam ini aku terus-terusan menangis dan tak bisa belajar.”
Saking marahnya Hendro sama sekali tak mau menanggapi SMS itu. Ia pun memilih keluar rumah dengan teman-teman kuliah untuk melupakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Melisa. “Persetan dengan Melisa. Buat apa aku ngajari gadis yang moralnya nggak beres,” kata Hendro dalam hati.
Hari-hari setelah itu Melisa terus menelpon dan mengirimkan SMS yang sama sekali tak digubris oleh Hendro. Sampai suatu ketika Melisa mengirimi SMS yang membuat Hendro tergerak. “Mas Hendro yang aku kasihi, aku mohon mas mau datang ke rumah untuk memberikan penjelasan kenapa Mas nggak mau ngelesi lagi dan juga kenapa mas tak mau membalas telepon dan SMS Melisa. Mas aku rela mas mencaci maki aku, asal mas mau memberikan penjelasan. Kita berteman secara baik-baik, aku berharap kalau mas mau putuskan pertemanan juga dengan cara baik-baik. Bukankah mas dulu yang berinisiatif berkenalan dengan Melisa. Kalau mas mau putuskan pertemanan, datanglah kepada Melisa dan katakanlah.”
Membaca bunyi SMS itu Hendro jadi kasihan. Ia jadi menyesal sekali kenapa harus mengenal wanita yang ayu dan pintar, tapi memilih jalan yang sesat seperti Melisa. Ia masih berharap perkiraannya keliru. Tapi apapun kebenarannya karena Melisa sudah memintanya untuk bertemu secara baik-baik, ia harus memenuhinya. Ia harus mengungkapkan apa yang sudah ditemuinya di plaza itu agar gadis itu memahami kenapa ia tak mau menemuinya lagi. Hendro membalas SMS itu. “Baiklah Melisa datanglah ke Kafe Toast. Jangan bawa uang berlebih, aku yang traktir.”
Malam itu Hendro melihat Melisa sudah datang lebih dulu ke Kafe Toast. Ia terlihat duduk di meja paling pojok. Tampaknya ia sengaja memilih tempat yang terpencil agar bisa lebih bebas berbincang dengannya. Saat mendekat ke meja, mata gadis itu terlihat sembab, dan mukanya tampak pucat. Hendro tiba-tiba merasa iba.
Setelah memesan makanan dan minuman untuk dirinya sendiri dan Melisa, Hendropun mulai berbicara. “Maaf ya, Melisa, selama seminggu ini aku membuatmu sedih dan kacau. Aku melakukan itu karena aku begitu marah ketika melihat kamu dan teman wanitamu berjalan bersama pria perlente dari resto itu menuju tempat parkir mobil. Aku jadi punya pikiran buruk terhadapmu. Apalagi ketika kamu dan mereka masuk ke mobil mewah itu,” ujar Hendro.
Tanpa dinyana-nyana, Gadis itu langsung berurai air mata. “Maafkan aku, Mas. Aku telah berbuat tercela karena aku ingin cita-citaku jadi akuntan tercapai. Aku merasa sangsi Mas bisa mencapai cita-cita dengan mengandalkan keuangan orangtuaku,” kata Melisa pelan sekali. Ia tampaknya tak ingin suaranya kedengaran orang-orang yang ada di kafe.
Dengan suara perlahan juga, Hendro bertanya, “Jadi kamu dibooking ya sama om-om itu? Aku sudah menduga pasti yang terjadi seperti itu?”
Melisa terdiam sejenak, lalu mengatakan, “Tidak seperti itu. Dialah Mas pria yang menjanjikan mau menjadi membeayai studiku. Ia sanggup membeayai sekolahku sampai perguruan tinggi asalkan aku mau jadi istri sirinya,” ujar Melisa. Air matanya tampak mengalir semakin deras.
“Semudah itukah kamu menyerah pada kehidupan ini. Kenapa kamu tidak mencoba bertahan. Banyak jalan untuk bisa tetap sekolah meski nggak punya beaya. Kalau kamu pintar pasti mudah dapatkan beasiswa. Apalagi sekarang ada aku yang mau ngelesi kamu secara gratis,” ujar Hendro.
“Tapi kedatangan Mas terlambat. Aku sudah terjerat masalah seperti ini sejak 3 SMP akibat pengaruh teman-temanku, Mas,” ujar Melissa yang tangisnya mulai sedikit  mereda.
“Apakah temanmu Dinar seperti kamu juga?”, tanya Hendro.
“Ya dialah yang selalu mencarikan aku om-om sejak SMP. Dan dia juga yang memperkenalkan orang itu dengan aku,” aku Melisa.
“Ya, Allah sudah sejauh itukah kamu dan teman-temanmu Melisa. Lalu untuk apa kamu mengenakan kerudung itu? Untuk mengelabui orang-orang di sekitarmu?”,  tanya Hendro.
“Tidak mas. Aku pakai kerudung ini benar-benar karena aku ingin menjadi wanita sholehah. Ini benar-benar tak ada hubungannya dengan perilakuku yang buruk ini. Aku berharap dengan rajin shalat dan pakai kerudung suatu ketika aku bisa terbebas dari keadaan buruk ini. Aku benar-benar merindukan kehidupan yang bersih, Mas. Dan kepada om yang Mas lihat itu, aku nggak mau jadi anak asuhnya. Aku ingin jadi istri sirinya sehingga apa yang aku lakukan dengannya tidak menjadi perzinahan,” ujar Melisa memelas.
Mendengar pengakuan yang tulus itu, hati Hendro benar-benar tersentuh. Ia jadi ingin membantu gadis ini keluar dari kehidupannya yang buruk seperti itu. “Baiklah kalau begitu putuskan hubunganmu dengan teman-temanmu yang brengsek dan om-om itu. Aku berjanji aku akan tetap ngelesi kamu dan membantu keuanganmu,” kata Hendro.
“Sulit sekali Mas melepaskan diri dari mereka selama aku masih satu kelas dengan mereka. Aku akan merasa tertekan dan khawatir mereka jadi memusuhiku. Mereka itu selalu tidak suka dengan gadis-gadis yang sok alim. Mereka selalu mengejek  teman-teman gadis lainnya yang mengaku masih perawan. Aku ikut mereka karena aku tak kuasa menghadapi tekanan mereka,” tutur Melisa.
“Kalau begitu kamu pindah sekolah saja, Melisa. Aku bantu beayanya. Biar kamu benar-benar bisa lepas dari pengaruh buruk teman-temanmu,” tegas Hendro yang merasa tak sulit menyisihkan uang tabungannya yang cukup besar untuk membeayai kepindahan sekolah Melisa. Sebagai anak seorang pengusaha ekspedisi yang cukup besar, yang uang saku bulannya juga besar, keuangannya tak kan terbebani bila membantu Melisa.
“Benarkah, Mas?”, tanya Melisa dengan mata berbinar. Ia pun kemudian menyalami Hendro sambil berkata, “Terima kasih, Mas. Mas telah berbaik hati menyelamatkan hidup Melisa. Aku akan ikuti semua kata-kata Mas,” ujar Melisa.
“Tapi aku akan terus memantaumu. Kalau dalam setahun ini kamu masih terlibat dalam hubungan yang seperti itu lagi, aku tak mau membantumu lagi,” ujar Hendro yang disambut dengan anggukan oleh Melisa.
Di hari-hari selanjutnya Hendro kembali ngelesi Melisa. Namun sekarang ada yang berubah. Kalau dulunya ia punya perasaan asmara terhadap Melisa kini telah berubah menjadi perasaan sayang dari kakak kepada adiknya.


0 komentar:

Posting Komentar