Ramayana: Kisah Cinta Rama dan Sinta

Ketika mengikuti suaminya berburu rusa, Sinta diculik Rahwana. Bagaimana nasib Sinta di tangan raksasa itu?


Alkisah  di sebelah utara Sungai Gangga berdiri sebuah Kerajaan Kosala, dengan ibukotanya Ayodhya. Bertindak sebagai raja adalah Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: KosalyaKekayi, dan Sumitra.
           
Istana dipenuhi orang-orang bijak serta luhur perbuatannya. Prabu Dasarata sendiri memang cakap karena ia mahir akan segala ilmu filsafat agama. Tak mengherankan di tangan Prabu Dasarata, Kerajaan Kosala mengalami kejayaan dan disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di seluruh dunia.

Namun dia bersedih karena tidak kunjung diberikan keturunan. Karena itulah ia menyelenggarakan ritual agar segera dikarunia anak. Semua perlengkapan upacara sudah disediakan untuk mengundang para Dewa. Sang Maha Pendeta membacakan mantra untuk menghadirkan Bhatara Siwa dalam bentuk api suci

Sesaji yang dipersembahkan dalam ritual tersebut, dalam bentuk santapan yang nikmat rasa serta baunya. Setelah ritual selesai, sesaji diserahkan Maha Pendeta pada para permaisuri raja untuk disantap. Tak lama berselang, para permaisuri kesayangan Prabu Dasarata melahirkan putera.

Dari permaisuri Dewi Kosalya lahirlah putra sulung, Sang Rama, yang konon merupakan penjelmaan Dewa Wisnu. Dari Dewi Kekayi lahir Bharata yang terkenal sakti mandraguna, sedangkan Dewi Sumitra melahirkan dua orang putra bernama Lakshmana dan Satrugna.

Empat putra raja itu diberi pelajaran panah memanah oleh Bagawan Wasista dalam waktu tidak lama. Akhirnya mereka semuanya menjadi pintar dan cekatan tentang ilmu memanah.

Pada suatu hari, Resi Wiswamitra meminta bantuan Sang Rama untuk melindungi pertapaan di tengah hutan dari gangguan para raksasa. Setelah berunding dengan Prabu Dasarata, Resi Wiswamitra dan Sang Rama berangkat ke tengah hutan diiringi adik lain ibu, Lakshmana. Selama perjalanannya, Sang Rama dan Lakshmana diberi ilmu kerohanian dari Resi Wiswamitra.

Di lingkungan  pertapaan Rama dan Lakshmana tak henti-hentinya membunuh para raksasa yang mengganggu upacara para Resi. Ketika mereka melewati Mithila, Sang Rama mengikuti sayembara yang diadakan Prabu Janaka. Ia berhasil memenangkan sayembara dan berhak meminang Dewi Sinta, puteri Prabu Janaka. Dengan membawa Dewi Sinta, Rama dan Lakshmana kembali pulang ke Ayodhya.

Prabu Dasarata yang sudah tua, ingin menyerahkan tahta kepada Rama. Atas permohonan Dewi Kekayi, Sang Prabu dengan berat hati menyerahkan tahta kepada Bharata. Sedangkan Rama dipaksa meninggalkan kerajaan selama 14 tahun.

Walau ibunya dengki pada Rama, tapi Bharata sangat baik hati. Ia justru menginginkan Rama sebagai penerus tahta, namun Rama menolak dan menginginkan hidup di hutan bersama istrinya dan Lakshmana. Akhirnya Bharata memerintah Kerajaan Kosala atas nama Sang Rama.

Dalam masa pengasingannya di hutan, Rama dan Lakshmana bertemu dengan berbagai raksasa, termasuk raksasa wanita Surpanaka yang ingin menikahi Rama dan Lakshmana. Namun keduanya menolak sehingga terjadilah pertempuran. Hidung Surpanaka terluka oleh pedang Lakshmana.

Surpanaka mengadu kepada saudaranya Rahwana bahwa ia dianiyaya. Rawana menjadi marah dan berniat membalas dendam. Ia menuju ke tempat Rama dan Lakshmana. Melihat kecantikan Sinta, Rahwana tergiur untuk menjadikannya istri.

Rahwana kemudian merencanakan suatu tipu muslihat untuk menculik Sinta. Ia memerintahkan raksasa Marica  mengubah diri menjadi kijang keemasan dan melintas di depan Rama dan Sinta. Melihat kijang rupawan itu, Sinta meminta Rama menangkapnya dan memberikannya kepadanya.

Namun karena tak kunjung kembali, Lakshama yang menunggu Sinta berniat mencari Rama. Untuk melindungi Sinta, sebelum pergi Lakshama membuat lingkaran dimana Shinta tak boleh mengeluarkan anggota badan sedikitpun dari lingkaran itu.

Benar juga Rahwana tak berhasil menculik Sinta karena terhalang oleh lingkaran itu. Tapi Rahwana tak kehilangan akal. Ia  menyamar sebagai brahmana yang mencari sedekah. Melihat brahmana menghampirinya, Sinta mengulurkan tangan keluar dari lingkaran untuk memberikan sedekah. Padaha saat itulah Rahwana berhasil mengeluarkan Sinta dari lingkaran dan membawanya ke Alengka.

Burung Jatayu yang berusaha menghalangi, tewas oleh senjata Rahwana. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Jatayu masih sempat mengabarkan nasib Sinta kepada Rama dan Laksmana. Kebetulan saat itu mereka berhasil membunuh Marica yang mengelabuhi mereka dengan menjadi kijang jadi-jadian. Tapi ketika mereka sampai di lokasi Sinta sudah tak ada.

Dalam mencari Sinta, Rama dan Laksamana berjumpa Raja Kera bernama Sugriwa  dan Hanuman.  Mereka mengikat persahabatan dalam suka dan duka. Dengan bantuan Rama, Sugriwa dapat merebut kembali Kerajaan Kiskenda dari kakaknya yang lalim, Subali.  Sebagai balas jasa Sugriwa membantu Rama untuk mendapatkan kembali Shinta dengan bantuan Hanuman dan pasukan keranya. Mereka juga didukung pasukan yang dipimpin Anggada, anak Subali.


Untuk mencapai Kerajaan Alengka yang dipimpin Rahwana, Sugriwa membangun jembatan Situbanda. Dengan adanya jembatan itu, tentara Sugriwa yang dibantu Hanuman dengan ribuan pasukan keranya (wanara), dapat menyeberangi Alengka.

Terjadilah pertempuran hebat antara Pasukan kera Sugriwa dan pasukan raksasa Rahwana. Saat pertempuran tengah berlangsung, Hanuman berhasil menyusup ke istana dimana Dewi Sinta ditawan. Meski sempat tertangkap, ia berhasil meloloskan diri dan kemudian membakar ibukota Alengka.

Rahwana yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya termasuk puteranya –Indrajit – untuk menggempur Rama. Nasihat Wibisana (adiknya) diabaikan dan ia malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak Rama.  Walau memiliki senjata sakti nagapasa, Indrajit gugur di tangan Lakshmana.

Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu, Rahwana tampil ke muka dan bertarung dengan Rama. Dengan senjata panah Brahmāstra yang sakti, Rama berhasil menewaskan Rahwana. Setelah Rawana gugur, tahta Kerajaan Alengka diserahkan kepada Wibisana

Rama, Sinta, dan Lakshmana pulang ke Ayodhya dengan selamat. Ketika sampai di Ayodhya, Bharata menyambut mereka dengan takzim dan menyerahkan tahta kepada Rama. Hanuman menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk mengabdi kepada Rama.

Yang menjadi masalah, rakyat meragukan kesucian Sinta selama diculik Rahwana. Rama membelanya habis-habisan. Tapi Sinta tak ingin terus-terusan menjadi tertuduh. Ia pun melakukan upacara bakar diri untuk membuktikan kesuciannya. Atas pertolongan Dewa Api, Dewi Sinta tak luka sedikitpun oleh api. Rakyat Ayodhya akhirnya tak meragukan lagi kesucian Dewi Sinta dan menerimanya sebagai Permaisuri Rama.


Kemudian Dewi Sita tinggal di pertapaan Rsi Walmiki dan melahirkan Kusa dan Lawa. Mereka kemudian kembali ke istana Sang Rama pada saat upacara Aswamedha. Pada saat itulah mereka menyanyikan Ramayana yang digubah oleh Rsi Walmiki.

10 komentar:

Unknown mengatakan...

Nice article.

3 Desember 2015 22.46
Blog Zombie mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 22 Maret 2016 21.28
Intan Kirana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 29 Mei 2016 02.46
Halim'z Wisnuhadi mengatakan...

Good article

19 Januari 2017 19.33
blog zombie mengatakan...

Obat Radang Pita Suara

10 Februari 2017 18.33
JAVA NEWS mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 7 Maret 2017 11.43
Laras Riswana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 26 April 2017 17.08
candra aria mengatakan...

oiya izin share ya gan,,tmksh
bagi orglain ksh ini biasa sj,,tpi bg sy ksh ini sgguhh sngtlah mnyntuh....bc dri awal di didik,,trpisah kasihnya..

25 Mei 2017 11.27
JAVA NEWS mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 2 Juni 2017 08.25
subahan nairo mengatakan...

Good story

17 November 2017 08.08

Posting Komentar