Dongeng Jepang: Heroisme 47 Ronin

47 Ronin balas dendam terhadap pejabat yang bertanggungjawab atas kematian tuan mereka. Tindakan mereka dianggap heroik sebagai wujud kesetiaan. 

Pada tahun 1701, kaisar Higashiyama mengirim utusan dari singgasananya di Kyoto ke Istana Shogun di Edo (sekarang Tokyo). Kira Yoshinaka, bertugas sebagai pemimpin utusan. Dua  daimyo muda, Asano Naganori of Ako dan Kamei Sama of Tsumano, yang sedang berada di ibukota  mendapat tugas untuk menjaga utusan kaisar.
Kira ditugaskan untuk melatih sopan santun istana kepada daimyo. Asano dan Kamei yang juga ikut pelatihan menawarkan hadiah untuk Kira agar diluluskan. Tapi Kira menganggap keduanya secara menyeluruh tidak layak. Ia pura-pura menolaknya. Ia mulai mengancam menghukum kedua daimyo itu.
Kamei begitu marah dengan ancaman yang bernada menghina dan ingin membunuhnya, tapi Asano bertindak hati-hati. Takut akan nasib tuan mereka, anak buah Kamei memberi uang dalam jumlah besar pada Kira, dan pejabat itu pun mulai memperlakukan Kamei dengan lebih baik. Akan tetapi ia tetap menyiksa Asano, hingga daimyo muda itu tak tahan.
Ketika Kira menyebut Asano sebagai “anak dusun yang tak tahu sopan santun” di gedung utama, Asano menarik pedangnya dan menyerang pejabat itu. Kira hanya menderita luka ringan di kepalanya, tapi keshogunan menghukum dengan keras  pelaku kekerasan yang telah menarik pedang di dalam benteng Edo. Asano yang berusia 34 tahun dipaksa melakukan seppuku (bunuh diri).
Sesudah kematian Asano, keshogunan mengambil wilayahnya, membiarkan keluarganya menjadi miskin dan para prajurit samurainya kehilangan pekerjaan dan menjadi ronin. Biasanya samurai diharapkan mengikuti tuannya yang mati dengan melakukan bunuh diri karena merasa menjadi orang tak terhormat akibat kehilangan tuannya. Akan tetapi sebanyak 47 prajurit Asano memutuskan melanjutkan hidup dan menuntut balas.
Dimpimpin oleh Oishi Yoshio, 47 Ronin melakukan sumpah rahasia akan membunuh Kira sebagai balas dendam. Karena ketakutan, Kira membentengi rumahnya dan mempekerjakan sejumlah besar pengawal.  Ronin Ako ditugaskan untuk mengamati Kira hingga ia lengah saat beristirahat.
Untuk mengalihkan perhatian pengawal Kira, Ronin berpencar ke beberapa tempat, menyamar sebagai pedagang atau buruh. Salah satu di antara mereka kemudian  menikah dengan keluarga Kira dan membangunkan rumah besar untuknya sehingga ia memiliki akses untuk menjalankan rencana teman-temannya.
Oishi sendiri mulai minum dan menghabiskan banyak waktu dengan wanita tuna susila, saat melakukan penyamaran yang sangat meyakinkan. Ketika  seorang samurai dari Satsuma mengetahu Oiishi yang sedang mabuk tergeletak di jalanan, ia mengejek dan menendangnya di wajah sebagai tanda  penghinaan. Oishi menceraikan istrinya dan mengirimnya bersama anak-anak mereka yang masih muda ke luar, untuk melindungi mereka. Anak tertuanya memilih tetap tinggal.
Ketika salju turun pada sore tanggal 14 Desember 1702,  47 ronin bertemu sekali lagi di Honjo, dekat Edo, mempersiapkan serangan. Seorang ronin muda ditugaskan pergi ke Ako dan menceritakan kisah tentang mereka. 46 ronin  pertama-tama memperingatkan para tetangga Kira akan maksud mereka, kemudian mengepung rumah pejabat itu dengan bersenjatakan tangga, pemukul domba dan pedang.
Diam-diam, beberapa Ronin memanjat dinding rumah besar Kira, kemudian melumpuhkan dan mengikat para penjaga rumah. Dengan isyarat drum, ronin menyerang dari depan dan belakang. Para samurai Kira sedang tertidur. Mereka terbangun ketika mendengar adanya serangan. Bahkan ada yang begitu paniknya sehingga bergegas keluar untuk menyambut musuh tanpa memakai sepatu di tengah turunnya hujan salju.
Kira sendiri, yang hanya mengenakan pakaian dalam, berlari untuk mencari tempat persembunyian di gudang penyimpanan. Para ronin butuh  waktu 1 jam untuk mencarinya sebelum akhirnya menemukannya.
Oishi menawarkan Kira pedang pendek (wakizashi), sama dengan yang digunakan Asano untuk melakukan seppuku. Ia segera menyadari bahwa Kira tidak memiliki keberanian membunuh dirinya sendiri dengan terhormat. Pejabat itu  tidak memiliki naluri untuk menghunus pedang, dan dicekam ketakutan. Akhinrya Oishi memutuskan memenggal kepala Kira.
Ronin berkumpul kembali di halaman rumah besar itu. Semuanya 46 masih hidup. Mereka telah membunuh sebanyak 40 samurai Kira, dengan hanya empat teman yang terluka.
Pada siang harinya, para ronin melakukan perjalanan ke kota untuk mengunjungi Sengakuji Temple, dimana majikan mereka dimakamkan. Cerita balas dendam itu menyebar ke seluruh penjuru kota dengan cepat dan massa berkumpul untuk merayakannya.
Oishi setelah membersihkan kepala Kira, lalu menghadirkannya di makam Asano. Keempat puluh enam ronin itu kemudian duduk dan menunggu ditangkap.
Ketika pemerintahan militer memutuskan nasib mereka, ronin terbagi ke dalam empat kelompok dan dirumahkan oleh keluarga-keluarga daimyo - Hosokawa, Mari, Midzuno,dan Matsudaira. Ronin telah menjadi pahlawan nasional karena kesetiaan mereka pada prinsip bushido dan keberanian mereka menunjukkan kesetiaan pada tuannya yang terbunuh.
Banyak orang yang berharap bahwa mereka diampuni. Walaupun dalam hati shogun tergoda untuk memberikan pengampunan, para penasihatnya  tidak berkenan terhadap tindakan illegal mereka. Pada 4 Pebruari 1703, mereka diperintahkan melakukan seppuku – suatu hukuman yang lebih terhormat daripada eksekusi.
Berharap adanya penundaan di menit-menit terakhir, empat daimyo yang mempekerjakan ronin-ronin itu menunggu hingga malam hari, tapi tetap tidak ada maaf. Keempat puluh enam ronin, termasuk Oishi dan putranya yang berusia 16 tahun, melakukan seppuku.
Mereka dikuburkan dekat majikan mereka di Sengkuji Temple di Tokyo. Makam mereka secara cepat menjadi tempat bagi para penziarah yang mengagumi Jepang. Salah satu dari orang pertama yang berkunjung adalah samurai dari Satsuma yang menendang Oishi di jalanan. Ia meminta maaf dan membunuh dirinya sendiri juga.
Nasib ronin keempatpuluh tujuh tidak seluruhnya jelas. Banyak sumber mengatakan bahwa ketika ia kembali menceritakan kisah itu pada tanah kelahiran ronin Ako, Shogun mengampuninya karena masih muda. Ia hidup sampai usia lanjut dan kemudian dikuburkan berdampingan dengan yang lain. Untuk meredakan kemarahan publik atas hukuman bagi para ronin, Pemerintahan Shogun mengembalikan gelar samurai mereka dan sepersepuluh tanah Asano diberikan pada anak tertuanya.
Selama masa Tokugawa, Jepang berada pada masa perdamaian. Sejak itu  tak ada lagi peperangan banyak samurai kehilangan pekerjaannya. Selain itu banyak orang Jepang yang takut kehormatan dan jiwa mereka akan surut. Cerita tentang 47 ronin itu memberikan harapan pada orang-orang bahwa samurai yang benar masih ada. Cerita itu kemudian diadaptasi pada drama kabuki yang tak terhitung jumlahnya, pertunjukan boneka bunraku, cetakan-cetakan pada kayu, film dan pertunjukan televisi. Versi fiksi dari cerita itu dikenal sebagai Chushingura, dan masih populer sampai sekarang.

Orang-orang dari seluruh dunia masih melakukan perjalanan ke Sengkuji Temple untuk melihat makam Asano dan 47 ronin. Mereka juga bisa melihat tanda terima uang yang diberikan pada pihak kuil oleh teman-teman Kira, ketika mereka meminta kepala temannya untuk dikuburkan.  

0 komentar:

Posting Komentar