Milyuner Yang Pilih Tinggal di Gubuk Kayu

Jacky Chan menyumbangkan separuh kekayaannya untuk kegiatan amal dan Bill Gates menyalurkan 58 billion dollar AS. Tapi Karl Rabeder berbeda dengan mereka

Bisnismen dari Telfs Australia itu menghabiskan hampir seluruh kekayaannya untuk membantu orang-orang mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia sendiri rela hidup hanya dengan pendapatan 1.350 dollar sebulan atau sekitar Rp 15 juta rupiah. Tentu jumlah ini sangat jauh dari kemampuannya yang sebenarnya.

Pada tahun 2010 muncul berita mengejutkan. Karl mengumumkan ia sedang dalam proses menjual properti dan bisnis mewahnya karena ia menyadari uang kontraproduktif dan benar-benar membuatnya tidak bahagia. Tujuan hidupnya adalah tidak memiliki sesuatupun yang tersisa “Benar-benar tak satupun”, katanya

The Old Karl Rabeder (Photo © DPA)Add caption
Karl datang dari sebuah keluarga miskin, dimana berlaku kaedah bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia mengakui dalam waktu yang lama ia percaya semakin banyak hartanya maka ia akan semakin bahagia. Tapi akhirnya ia mendengarkan suara hatinya yang memintanya menghentikan apa yang ia lakukan dan memulai kehidupan nyatanya. Ia mulai merasakan seperti budak yang bekerja untuk hal-hal yang sebenarnya tidak ia perlukan atau inginkan.

Karl akhirnya membuat keputusan besar selama liburan di Hawai. Karl dan istrinya ingin melepaskan semua uangnya, tapi menyadari mereka tidak menemukan seseorang yang bisa dititipi uang itu. Keduanya merasa semua orang  seperti aktor, yang pura-pura bersahabat dan tak ada seorangpun yang menunjukkan jati dirinya.

Ia juga mengalami perasaan bersalah dalam perjalanannya ke Afrika dan Amerika Latin. Ia mulai merasa seperti ada “suatu hubungan antara kekayaan kita dan kemiskinan mereka”. Tiba-tiba ia menyadari bahwa apabila ia tidak meninggalkan gaya hidup konsumtif saat ini juga, ia tidak akan melakukannya selamanya.

Rabeder mengundi  rumah mewahnya di Alpine dengan menjual 21,999 kartu lotre masing-masing seharga $134 kepada orang-orang yang ingin tinggal di rumah mewah, menjual rumah liburannya di Provence, koleksi gandolanya, sebuah mobil Audi A8, dan bisnis dekorasi yang membantunya menjadi kaya. Ia mendirikan organisasi yang disebut  MyMicroCredit, yang membantu orang-orang di negara dunia ketiga dan mentransfer semua uang di rekeningnya.

Ketika seorang wartawan menanyakan bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-harinya setelah melepaskan semua kekayaannya, Karl menjelaskan bahwa kehidupannya telah membaik sejak mengadopasi gaya hidup hemat. Ditanya apakah kehidupannya sebaik yang ia bayangkan, Karl Rabeder mengatakan itu “lebih baik”.

Rabeder mengakui uang adalah hal besar pada awalnya, karena ia menawarkan kebebasan yang nyata. Uang membuatnya bisa melaksanakan hasratnya untuk meluncur dengan gantole atau membeayai studinya, yang tidak dapat diberikan orangtuanya. Akan tetapi ia menyadari ia membuat kekeliruan telah berpikir bahwa 10 kali lipat kekayaan akan membuat 10 kali lipat kebahagiaan, yang sama sekali tidak benar. Ketika hanya memfokuskan pada sukses keuangan, seseorang kekurangan hal-hal yang membuatnya menjadi manusia. Ketika ia kaya orang hanya tertarik berinteraksi dengannya karena uang yang ia punyai, bukan karena siapa dirinya.

Karl Rabeder yang biasa tinggal di rumah berukuran 321 meter persegi di Tyrolean Telfs,  pindah ke sebuah gubug kayu berukuran 19 meter persegi, dan hidup hanya dengan pasokan uang $1350 sebulan. Ia lewatkan hidupnya dengan menjadi penatar gaya hidup dan memberikan ceramah di seminar-seminar dengan tema-tema seperti “Kebahagiaan Dapat Dipelajari” atau “Cukup Uang Untuk Bahagia” kepada orang-orang yang ingin mendengar argumentasinya. Ia bahkan menerbitkan sebuah buku yang diberi judul “Ia yang Tidak Memiliki Sesuatu yang Dapat Memberikan Segala Sesuatu”.

Ia tidak menghasilkan uang sebanyak sebelumnya, Beberapa orang curiga bahwa sebenarnya Karl masih menyimpan sesuatu yang tersisa dari bisnis yang biasa ia lakukan. Tapi mereka salah karena Rabeder merasa baik-baik saja dengan melaksanakan karir barunya yang menyenangkan dan baik untuknya. Ia juga bisa duduk-duduk di teras setiap hari dengan kaki yang disinari matahari. Ia benar-benar telah menyumbangkan semua dananya kepada organisasinya MyMicroCredit.

Meskipun begitu pantang bagi Karl untuk menilai orang-orang yang memelihara kekayaan mereka. ”Saya tidak mempunya hak memberi nasehat kepada orang lain. Saya hanya mendengarkan suara hati dan jiwaku,” kata dia.


Pertanyaannya, apakah setelah empat tahun ini, Karl masih betah tinggal di gubuk sempitnya ya atau sudah kembali ke rumah mewah yang baru? odditycentral.com

0 komentar:

Posting Komentar