Jeritan Hati Seorang PKL

Baru sepekan Budi menggelar dagangan di pinggir jalan, rombong mie ayamnya sudah diambil satpol PP dalam suatu razia. Padahal rombong itu dibeli dari hasil tabungannya selama bertahun-tahun. Jiwa Budi terguncang hebat.

Budi baru saja mendapatkan solusi atas masalah susahnya mendapatkan pekerjaan usia lulus SMA. Setelah sekitar setahun surat lamarannya ditolak dimana-mana, ia memutuskan untuk berwirausaha saja. Kebetulan ia masih punya tabungan. Ia memanfaatkan tabungannya itu untuk membeli rombong dan kemudian menjual makanan sebagai PKL.

Selama beberapa hari ini dia hanya melamun saja. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk bertahan hidup. Ia sudah ke sana ke mari untuk cari utangan. Ke para tetangga sudah, kepada para sanak famili sudah. Tapi malangnya ia hanya mendapatkan cibiran.
           
Ia tak bisa berharap orangtuanya memberikan modal. Keluarganya hanyalah orang miskin. Ayahnya seorang sopir angkot sedangkan ibunya hanya di rumah saja mengurus rumah tangga. Adiknya ada tiga yang masih kecil-kecil dan semuanya sekolah.

Sejak awal ia ingin segera mendapatkan pekerjaan selepas SMA agar dapat membantu beaya sekolah adik-adiknya sekalian meringankan beban orangtuanya. Tapi apa daya ia menghadapi banyak kendala yang tidak ia duga sebelumnya.

Di tengah keputusasaannya itu, akhirnya ia pun menulis surat kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Bunyinya: "Ya, Tuhan, tolonglah hambamu yang tanpa daya ini. Aku butuh modal Rp 5 juta untuk memulai kembali usahaku. Kalau tak segera mendapatkannya, aku akan terus menjadi pengangguran. Kasihanilah orangtuaku yang kini beban hidupnya terlalu berat. Ia harus menghidupi pengangguran seperti aku dan tiga adikku yang maish kecil-kecil. Hanya kemurahan-Mu saja yang akan menyelamatkan hidupku dan keluargaku. Ya, Tuhan kirimkanlah aku uang Rp 5 juta agar aku bisa mulai usaha lagi."

Budi segera mengirim surat itu ke kantor pos. Tentu saja pegawai yang mensortir surat-surat kaget ada surat yang ditujukan kepada Tuhan. Surat itupun menjadi pembicaraan yang ramai di kalangan pegawai kantor pos.

Kepala Kantor Pos setempat yang mendengar kasus itu langsung berinisiatif menggalang dana untuk diberikan kepada pengirim surat. "Kasihan betul orang ini. Aku harus melakukan sesuatu agar ia tetap percaya kepada Tuhan," ujarnya dalam hati.

Dalam penggalangan dana itu, uang yang terkumpul kurang dari separuhnya, yaitu Rp 2 juta. Tapi ya itulah usaha maksimal yang bisa dlakukan Kepala Kantor Pos. Ia pun lalu mengirim uang itu lewat wesel. Di situ tertulis nama pengirim: Tuhan.


Setelah menerima wesel, Budi tampak tidak terlalu gembira. Ia pun kembali mengirim surat kepada Tuhan. "Ya, Tuhan, aku mengucapkan puji syukur ke hadhiratmu karena Engkau berkenan mengirim uang seperti yang aku minta. Tapi aku berharap kalau Engkau mengirimi aku kembali uang janganlah melalui kantor pos. Karena para pegawai kantor pos  pada korup semua. Uang yang Engkau kirimkan kepadaku, Ya, Tuhan, disunat mereka Rp 3 juta."

0 komentar:

Posting Komentar