Kado Ulang Tahun Yang Hilang

Sudah sekitar setahun aku berada dalam tahanan yang hampa, sehampa hatiku. Aku masuk ke sini karena sebuah kesalahan yang bahkan aku sendiri tidak dapat memaafkannya. 


Bermula dari awal tahun lalu, setelah aku dan istriku, Rila, pulang dari bulan madu d Belanda setelah menikah. Kami bahagia, mungkin pasangan paling bahagia, di planet bumi ini. Aku berharap Rila segera memiliki anak, karena dengan hal itu lengkaplah sudah kebahagiaan kami.

Namun setelah sebulan pulang dari Belanda, rutinitas pun mulai menjamah hari-hari kami. Dia bekerja, aku bekerja. Kesibukan mulai menjauhkan aku dan Rila. Kami mulai sering cekcok. Kuanggap itu biasa, namanya juga pengantin baru.

Namun tiba-tiba saja suatu ketika hatiku disergap perasaan curiga. Aku cemburu dan marah melihat Rila sering mengangkat teleponnya dengan menjauh dariku. Sekalipun Rila mengatakan itu adalah teman kerjanya, tapi aku tak percaya.

Aku sering bertanya kenapa telepon saja harus sembunyi-sembunyi. Rila merespon dengan meminta aku tidak perlu curiga. Namun hatiku tidak tenang dan dadaku sering terasa sesak. Apalagi Rila mulai sering menolak diantar dengan alasan dia bisa ke kantor bersama teman-temannya. Kuakui sejak saat itu hubungan kami agak dingin. Lebih-lebih karena pertanyaanku sering tak mendapat jawaban yang jelas darinya.

Aku mencium gelagat bahwa Rila menemui orang lain di belakangku. Dan sepertinya itu benar. Suatu sore aku memergokinya di sebuah restoran bersama seorang pria muda. Mereka nampak bingung ketika aku datang bagaikan reality show yang memergoki sebuah perselingkuhan. Aku begitu marah dan sang pria berkali-kali berkata bahwa ini tak seperti yang kupikirkan. Namun aku sudah naik pitam, karena menemukan amplop tes kehamilan yang menunjukkan itu hasil positif. Aku menduga bahwa itu adalah buah perselingkuhan mereka.

Aku menjadi kalap di restoran umum itu. Aku menghajar pria itu hingga mulutnya berdarah-darah. Rila berusaha melerai tapi aku benar-benar tak bisa dikendalikan lagi. Aku mendorong tubuhnya hingga dia terbentur meja dan pingsan. Mungkin aku tidak akan berhenti bila keamanan tak segera menahanku. Aku berteriak, mengamuk dan mencaci maki mereka.

Namun tahukah kalian? Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku terlalu dibutakan cemburu dan ternyata Rila meninggal karena benturan keras di kepalanya. Meja itu memang terbuat dari batuan tebal dan besar. Saat itu dia mungkin sudah sekarat, aku hanya mengira dia pingsan. Dan hal ini bukanlah satu-satunya penyesalan.

Seminggu setelah aku resmi ditahan, pemuda yang kuhajar muncul di hadapanku. Ia mengatakan sebuah kenyataan pahit yang harus kutelan untuk kedua kalinya. Ia datang padaku dengan seragam dokter, ia memperkenalkan diri sebagai Danis, seorang dokter kandungan. Dia adalah sahabat Rila sejak kuliah. Rila memang mengandung, namun bukan anak dari Danis, melainkan anakku. Sudah beberapa hari Rila merasakan hal yang aneh pada tubuhnya, maka ia berkonsultasi pada teman-teman kerjanya.

Ternyata mereka merekomendasikan dokter kandungan yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Akhirnya, diam-diam Rila melakukan kontrol ke dokter itu karena tidak mau mengganggu kesibukanku dan ingin memberikan sedikit kejutan. Tak lama kemudian, Rila membuat janji dengan Danis karena hasil pemeriksaan kandungannya sudah keluar.

Rila sangat bahagia ketika dia tahu dia hamil. Dia juga berencana memberikan hasil pemeriksaan itu kepadaku saat aku berulang tahun. Namun sebelum itu, dia ingin merahasiakannya karena ingin menjadikannya kejutan dan kado uang tahunku. Seandainya tidak terjadi insiden seperti itu itu, tiga hari kemudian aku akan menerima kabar baik yang kunantikan selama ini.


Kini aku selalu dihantui rasa sesal yang dalam. Mengapa cemburu ini tersulut begitu cepat, sehingga tak ada waktu bagi akal sehatku untuk berpikir. Aku bahkan tidak ingin keluar dari sel. Bila kelak aku keluar dari penjara, rasanya ingin mengubur diriku sendiri di dalam tanah. Aku kehilangan pekerjaan, kepercayaan, istri dan juga anakku. (vemale.com)

0 komentar:

Posting Komentar