Mama Kenapa Bisa Begini!

Jauh sebelum peristiwa itu terjadi sebenarnya suaminya sudah menunjukkan perilaku penuh kekerasan. Tapi ia tak kuasa menjauh darinya.


Suatu hari di bulan Mei 1999, sebut saja Lena, berencana untuk pergi ke rumah orangtuanya di Dumai untuk bertemu dengan anak ketiganya dan adiknya yang sedang melahirkan. Suaminya, Sitompul, tidak dapat ikut karena ia tidak memperoleh cuti dari tempat kerjanya.

Ketika hari menjelang sore, Lena meminta pertolongan seorang pria untuk mengambilkan buah kelapa dari pohon di samping rumahnya. Pada saat ia mengucapkan terima kasih kepada pria itu, suaminya datang sambil menatap Lena lalu menyuruh salah seorang anaknya untuk meminjam pisau parang kepada tetangganya.

Sambil membereskan buah kelapa yang baru saja dipetik, Lena memperhatikan suaminya sedang mengasah pisau parang di depan rumah.

Setelah berkemas, jam 3 sore Lena dan kedua orang anaknya pergi meninggalkan rumah. Ketika hendak pergi, ia tidak menemukan Sitompul di dalam rumah. Akhirnya mereka pun pergi tanpa sempat berpamitan kepada suaminya. Baru saja  melangkah 100 meter dari rumah, Lena menyuruh salah seorang anaknya untuk pulang mengganti alas kakinya dengan sepatu. Anak itu pun segera berlari menuju ke rumah, sementara Lena berjalan pelan bersama anak satunya lagi di tengah perkebunan kelapa sawit.

Di tengah perkebunan, terlihat Sitompul sedang duduk jongkok di bawah pohon. Hati Lena mulai merasa resah dan jantungnya berdetak tidak beraturan ketika langkah kakinya semakin mendekati suaminya.

Sitompul bangkit berdiri dan menghentikan perjalanan Lena. "Hm, rupanya kau ada main dengan pria lain di belakangku.  Makanya kamu berkali-kali mau minta cerai!" bentak suaminya.

Lalu ia mengambil parang yang ia selipkan di belakang celananya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di depan Lena. Maka dengan membabibuta Sitompul membacok istrinya. Lena berusaha lari sekuat tenaga namun ia terjatuh. Sitompul segera mengayunkan kembali parangnya dan luka di tubuh Lena semakin parah. Sekujur tubuhnya berdarah-darah.

Dalam keadaan terkapar dengan tubuh terluka, Lena dihampiri oleh anaknya yang barusan datang. Ia tidak meninggalkan sang ibu ketika ayahnya sedang mencoba menghabisi nyawa mamanya. "Mama, kenapa bisa begini?" tanya anaknya sambil bersujud di dekat Lena dan memeluk kepala mamanya di pangkuannya.

"Nggak apa-apa nak, mama nggak apa-apa," jawab Lena. Lalu anak itu menangis menciumi ibunya.

Melihat anak dan istrinya menangis, Sitompul bangkit berdiri dan hendak menghabisi nyawa anaknya. Namun anaknya itu segera berlari. Sitompul tidak mengejar. Sitompul melemparkan parangnya ke samping tubuh istrinya dan mengambil dompet miliknya.

"Pa, jangan pergi, jangan tinggalkan saya. Tolong saya, pa! Bawa saya ke rumah sakit, saya takut di sini," seru Lena sambil mengerang kesakitan dan kemudian meninggal

Sitompul menoleh dan menjawab, "Di situ sajalah kamu. Saya mau pergi ke kantor polisi."

Sebenarnya di awal pernikahan mereka, sifat asli Sitompul mulai kelihatan. Ia sering bersikap kasar kepada istrinya, mabuk-mabukan dan bermain judi. Jika ada sesuatu yang membuatnya emosi maka ia akan melempar barang-barang yang ada di rumahnya dan selalu mengancam Lena dengan pisau parang.

Selain mempunyai ilmu pengasihan, Sitompul juga mempunyai ilmu untuk mengobati orang. Dia suka didatangi oleh orang-orang yang mau berobat kepadanya. Tetapi tidak jarang juga rumah mereka didatangi oleh orang-orang yang datang menagih hutang kepada Lena ketika Sitompul tidak pulang ke rumah. Mereka adalah pemilik lapo - warung tongkrongan orang Batak. Dengan terpaksa Lena pun harus menerima ancaman dari orang-orang tersebut sementara suaminya sendiri jarang pulang ke rumah.

Setelah anak pertama mereka lahir, perilaku Sitompul juga tidak berubah. Dia malah semakin berani bertindak kasar. Keributan pun selalu terjadi. Sitompul tidak mempunyai tanggung jawab sebagai seorang suami dan bapak. Ia sering menghabiskan uangnya untuk berjudi sehingga terkadang anak dan istrinya sampai tidak bisa makan karena tidak memiliki uang sepeser pun.

Tidak tahan dengan keadaan rumah tangga yang penuh dengan kekerasan, Lena pun akhirnya memilih untuk bercerai dengan suaminya. Namun setelah perceraian tersebut, anak Lena mengalami sakit karena kerinduan kepada ayahnya. Sitompul datang menjenguk. Dan di hadapan keduaorangtuanya, anak mereka berkata, "Mama sama bapak tidak boleh berpisah. Mama sama bapak harus bersatu seperti dulu." Mendengar ucapan anaknya yang sedang sakit membuat  Lena memutuskan untuk tinggal kembali bersama Sitompul.

"Saya merasa bukan badan saya saja yang sakit, tetapi hati saya sangat sakit. Karena seakan-akan saya merasa saya adalah sapi perah suami saya. Tetapi terus terang untuk meninggalkan suami saya, saya sudah malu. Sudah sekitar empat kali saya pergi tinggalkan suami dan balik kembali. Hingga saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan meninggalkan suami saya lagi," kata Lena seperti ditirukan seorang tetangganyaDan beberapa waktu kemudian terjadilah peristiwa itu. (jawaban.com)


0 komentar:

Posting Komentar