Misteri Pemain Gitar Tua

Pria yang berwajah kaku dan pucat itu menghentikannya di malam yang telah larut. Ia meminta gitarnya dan memainkannya sambil bernyanyi.


Antok adalah seorang musisi yang sering diundang bernyanyi sambil bermain gitar di acara-acara hajatan di desanya. Tak jarang pula ia diundang untuk bermain gitar tunggal di kota-kota sekitar. Pendeknya ia pemain gitar yang sudah cukup dikenal di desa dan kota-kota di sekitarnya.

Suatu hari ia dapat job bermain musik di daerah yang berlokasi sekitar 5 km dari desanya Itu adalah sebuah hajatan pernikahan yang berlangsung sampai larut malam.

Ia dapat giliran menghibur tamu yang sedang menghadiri melekan pada bagian akhir acara. Setelah selesai main ia mengurus honornya pada pihak pemilik hajatan. Ia tak lupa menyempatkan diri untuk makan karena tiba-tiba saja perutnya keroncongan.

Tapi ia kaget begitu selesai makan tempat hajatan sudah sangat sepi. Biasanya bila ia mau pulang gampang sekali ia mendapatkan tumpangan karena namanya sudah dikenal di desanya dan sekitarnya. Kali ini ia tak menemukan seorangpun yang bisa dimintai tumpangan.

Itu berarti ia harus pulang sendiri dengan berjalan kaki. Padahal ia harus melewati jalan yang terkenal angker. Sudah banyak orang yang lewat jalan itu dihampiri penampakan manusia yang menyeramkan dengan wajah yang rusak

Antok jadi takut memikirkannya Tapi bagaimanapun ia harus pulang. Maka ia memberanikan diri melangkah pergi dengan menenteng gitarnya

Sampai di suatu tempat dekat perempatan jalan tiba-tiba muncul seorang pria tinggi kurus menghampirnya. Wajahnya terlihat kaku dan pucat. Tidak ada wajah rusak dan menyeramkan tapi tetap membuatnya takut.

Pria paruh baya itu meminta gitarnya. Dengan ketrampilan yang baik dan kualitas vocal yang lumayan pria itu bermain gitar sambil bernyanyi.

Ia menyanyikan lagu-lagu yang popular empat tahun yang lalu. Suara vocal, lirik dan cabikan gitarnya terdengar sangat menyayat hati. Ini membuat Antok kian takut dan deg-degan.

Pria itu terus memainkan gitarnya. Ia sama sekali tak memberikan kesempatan padanya untuk giliran memamerkan permainan gitarnya

Walau pria itu tak berusaha menakutinya ia tetap takut. Ia jadi tak bisa menikmati permainan musiknya. Ia tak berani meminta kembali gitarnya dan pamit pulang. Badannya seolah seperti patung yang susah digerakkan.

Tapi setelah beberapa lagu, tiba-tiba saja ia sudah berada di depan rumahnya. Pria itu mengembalikan gitarnya. Antokpun lega.

“Kenapa bapak berbaik hati mengantarkan aku pulang?”, tanya Antok.

“Aku bersimpati padamu. Kamu seperti aku yang sama-sama pemain music. Aku ingin mengantar dan menjagamu karena aku khawatir kamu dibunuh secara brutal seperti yang terjadi padaku empat tahun yang lalu,” jawab pria itu yang segera menghilang di kegelapan malam.


Antok pun bergumam, “Terima kasih teman, kau telah mengantarkan dan menjagaku pulang ke rumah.”

0 komentar:

Posting Komentar