Playboy Fesbuk

Erna akhir-akhir ini melihat gelagat yang tak beres pada Roni, suaminya. Pria yang biasanya suka tinggal di rumah itu, beberapa bulan terakhir ini sering keluar rumah. Biasanya kalau pamit dia mengatakan mau ke rumah kenalan atau ada acara dengan teman-teman lama.

Yang lebih membuatnya curiga Roni semakin getol saja main fesbukan. Setahu dia yang suka fesbukan hanyalah anak-anak remaja saja. Ketika hal ini ia tanyakan pada suaminya ia menjawab itu tidak benar. “Sekarang banyak orang seusia kita main fesbukan. Biasanya mereka ngobrol dengan mantan teman SD, SMP, SMA atau bahkan teman kuliah. Beberapa kali aku menggelar reuni dengan teman-teman sekolah ya berkat fesbuk,” jelas Roni.
Memang Erna tahu betul riwayat fesbukan suaminya. Saat mengatakan keinginannya membuat akun fesbuk, Roni bilang ingin melacak keberadaan teman-teman lamanya di masa sekolah. Tak lama kemudian dia mengggelar acara reuni dengan teman-teman SMA. Ia turut hadir karena reuni itu digelar di kotanya. Selanjutnya suaminya menghadiri reuni SD dan SMP tapi karena di luar kota ia tak bisa ikut. Dan bahkan reuni selanjutnya, reuni teman kuliah diadakan di luar Jawa sehingga ia juga tidak ikut.
Lama-lama ia jadi curiga karena selain fesbukannya keseringan semakin lama Roni semakin sering keluar rumah setelah beberapa kali acara reunian. Ia bertanya-tanya, ada apa dalam sebulan Roni bisa keluar rumah sampai 10 kali. Acara rutinnya keluar bersama dengan Roni pun jadi sering terbengkelai.
Sebenarnya dari sisi keuangan tak ada masalah. Keuangan keluarganya tidak sampai terganggu dengan aktivitas Roni mengingat pendapatan suaminya sebagai manajer sebuah perusahaan  tergolong cukup besar.
Tapi justru itulah yang ia takutkan. Jangan-jangan suaminya menggunakan uangnya untuk merayu gadis-gadis yang ia kenal di fesbuk. Untuk membuktikan kecurigaannya itu, Ernapun diam-diam membuat akun fesbuk dengan identitas palsu atas nama Marina. Ia lalu mengajukan pertemanan pada suaminya yang memakai nama samaran Abiyasa.
Ia jadi sangat kaget karena begitu pertemanan sudah terjalin, Roni langsung pasang jurus untuk merayunya di inbox.
“Dear,Marina, aku sangat tertarik membaca biodatamu. Sebagai seorang  manajer di sebuah perusahaan tentu kamu seorang yang cerdas. Aku lihat kamu juga masih single. Kebetulan sekali aku juga masih single dan juga seorang manajer. Mungkin kita bisa terus berhubungan. Mungkin kita bisa cocok satu sama lain,” ujar Abiyasa.
“Ya, saya juga sangat senang bisa berkenalan dengan Abang. Saya lihat Abang masih cukup muda tapi sudah menjadi seorang manajer. Saya yakin karir Abang sangat cemerlang dan kelak akan meraih kesuksesan yang lebih besar. Saya juga tertarik untuk mengenal Abang lebih jauh,” tulis Erna sambil memendam amarah karena ternyata suaminya seorang tukang rayu di fesbuk dan suka mengaku masih single.
“Itu artinya kita harus segera kopi darat agar kita bisa saling mengenal lebih dalam,” ujar Roni.
“Boleh. Saya dengan senang hati menunggu undangan Abang,” ujar Marina.
“Tapi tampaknya belum dalam waktu dekat ini. Pekerjaan kantor sangat banyak sehingga aku sering harus lembur. Tapi aku berjanji akan berusaha menyisihkan waktu untuk kopi darat kita, Marina,” ujar Roni.
Hati Marina semakin dongkol. Ia kini menyadari suaminya telah menjelma menjadi seorang tukang rayu wanita dan makin pandai berbohong.  Ia tahu suaminya tak pernah lembur. Ia memang sering keluar rumah. Tapi ia selalu mengaku ada acara dengan teman-temannya. Kalau nggak makan, karaokean, nonton film ya reunian. Dan itu selalu dilakukan sepulang dari kantor.
Marina mulai berpikir jangan-jangan kecurigaannya selama ini benar. Suaminya telah menjalin hubungan dengan sejumlah wanita sehingga ia jadi sering keluar rumah dengan beberapa wanita secara bergiliran. “Kurang ajar. Aku harus lihat isi laptopnya bila ia tidak sedang di rumah,” umpat Marina dalam hati.
Ia kemudian kembali ke laptopnya. Ia menjawab inbox Abiyasa. “Baiklah, aku dengan sabar akan selalu menantikan undangan dari Abang,” ujar Erna. Setelah itu mereka sepakat mengakhiri pembicaraan.
Suatu malam setelah Roni pamitan keluar rumah,  Erna segera menghampiri meja laptop di meja kerja suaminya di rumah. Ia berharap Roni tidak memprotek laptopnya dengan password. Dan ia juga berharap Roni tidak logout setelah fesbukan karena ia tak tahu email dan password akun Roni.
Untunglah apa yang ia harapkan jadi kenyataan sehingga dengan mudah ia bisa melihat isi FB suaminya. Ketika ia membuka inbox ia sangat terkejut karena setidaknya ia melihat ada tiga wanita yang terlibat dialog mesra dengan suaminya. Mereka adalah Tika, Elly, dan Lisa. Ia juga melihat ada dialog mesranya dengan suaminya dengan memakai nama Marina. 
"Pantas Roni menunda kopi darat denganku. Lha wong kekasihnya sudah ada tiga orang. Gila, benar-benar gila," umpatnya dalam hati.
Erna segera menyusun rencana. Maka iapun dengan cermat mencatat akun tiga wanita yang menjadi kekasih suaminya itu. Setelah menutup laptop, ia segera meninggalkan meja kerja Roni.
Lalu ia langsung masuk ke kamar dan membuka laptopnya. Selanjutnya ia membuka akun FB-nya dan mencari ketiga nama kekasih suaminya itu. Setelah itu ia mengajukan permintaan pertemanan. Beberapa minggu kemudian, ia menjadi akrab dengan ketiga wanita kekasih suaminya itu berkat percakapan yang terus-menerus lewat inbox
Ia biasanya melakukan percakapan dengan para wanita itu pada siang hari ketika menyelesaikan pekerjaan rumah bersama pembantunya. Dari ketiga wanita itu dua adalah janda sedangkan yang satunya lagi masih gadis. Dari akun Marina, Erna menghubungkan ketiganya lewat percakapan kelompok. Dari beberapa kali obrolan akhirnya mereka tahu telah menjadi kekasih dari pria yang sama. Dan dari mereka, Erna tahu kalau selama ini suaminya nggombal dengan mengaku duren single. Tapi kepada mereka ia tetap merahasiakan hubungannya dengan Roni.
Akhirnya keempatnya membuat kesepakatan  akan menjebak Roni. Salah seorang di antaranya mengadakan janjian kencan dengan lebih dulu makan di restoran. Pada saat itulah tiga wanita yang lainnya tiba-tiba muncul di restoran secara bersama-sama untuk mempermalukan Roni.
Mereka juga sepakat  baru masuk restoraan setelah pesanan makanan sudah ditaruh di meja oleh pelayan restoran  Skenarionya tiga kekasih yang lain mendatangi Roni dan kencannya, lalu memarahinya habis-habisan. Kemudian para wanita itu melumurkan nasi ke wajah Roni.
Tapi setelah percakapan itu Erna punya rencana lain. Ia segera menghubungi teman FB laki-laki yang baru dikenalnya beberapa hari lalu. Karena laki-laki itu tipenya sama dengan suaminya dan telah merayunya juga, ia pun memberikan penawaran kencan dengan acara makan lebih dulu di restoran yang sama dengan suaminya.
Pada waktu yang telah ditentukan, Erna dan pria yang bernama Edwin itupun datang ke restoran. Sesampainya di areal parkir, Erna mengamati di sekeliling apakah mobil suaminya sudah ada di situ. Ia lega karena ternyata mobil suaminya sudah ada di situ.
Ia meminta teman prianya itu menunggu di dalam mobil. “Tunggu di sini dulu ya sayang. Aku mau keluar dulu sebentar,” ujar Erna seraya membuka pintu mobil teman kencannya. Ia bergegas menuju pintu bagian depan restoran. Pelan-pelan ia membuka pintu  restoran dan mengintip para tamu yang ada di dalam. Ia melihat suaminya tengah berdua dengan seorang wanita yang cukup cantik sedang menantikan makanan yang mereka pesan.
Erna bergegas kembali ke mobil teman prianya. Ia lalu mengajak pria itu masuk dan mengambil tempat duduk jauh di belakang suaminya. Setelah memesan makanan, mereka terlibat pembicaraan yang mesra. Sesekali erna mengamati suami dan teman wanitanya, yang ada agak jauh di depannya.
Ia lihat makanan sudah mulai diantar oleh pramusaji ke meja mereka. Tapi tak lama kemudian muncul dua wanita lainnya yang langsung menghampiri mereka. Keributan pun tak terhindarkan. Dan yang membuat Erna puas apa yang jadi skenarionya berjalan sempurna walau tanpa kehadirannya di meja makan suaminya. Para wanita itu ramai-ramai melumuri muka suaminya dengan nasi. Sebagian lagi menyiram suaminya dengan sayuran.
Dengan hati yang sangat puas, Erna mengajak teman prianya bergegas keluar. “Rumah makan ini sedang ribut. Nggak nyaman meneruskan makan di sini. Ayo Mas kita bayar tagihannya dan kita segera keluar dari sini.”

Saat teman prianya sedang membayar makanan di kasir, Erna melihat suami dan ketiga kekasihnya digiring ke ruangan satpam untuk diadili. Tak berapa lama, Erna dan teman prianya meninggalkan rumah makan itu untuk sebuah kencan yang memabukkan.