Uji Nyali

Empat cowok sedang bermain uji nyali berlomba mendekati teman cewek mereka. Siapakah yang menjadi pemenangnya?

Namanya Velisa. Ia tidak sekedar cantik tapi ia gadis yang pintar dan memiliki banyak aktivitas di sekolah maupun di luar. Aditya hanyalah  salah satu saja dari sekian banyak cowok di sekolahnya yang jadi penggemar berat gadis itu. Tapi tak sekalipun ia berani mendekat, apalagi menyapa. Yang ia bisa lakukan hanyalah mengagumi dia dari jauh.

Lalu apa sih kelebihan gadis itu hingga banyak cowok di sekolah itu yang tergila-gila padanya?  Yang jelas ia selalu mendapat nilai terbaik bila ulangan pada mata pelajaran apa aja. Dan pada kenaikan kelas 1 barusan ia berhasil meraih predikat murid terbaik di sekolah.

Aktivitasnya di luaran adalah menjadi anggota Dance Group. Di sekolahpun ia menjadi salah satu pemain bola volley. Hebat, kan?  Yang membuat teman-teman Velisa merasa aneh, termasuk Aditya, cewek ini sejak SMP hingga setelah kenaikan kelas 1 belum pernah memiliki pacar. Itu setidak menurut isu yang berkembang di kalangan pelajar di sekolahnya.

“Wah jangan-jangan dia tipe cewek yang dingin, yang tidak bisa merasakan kehangatan cinta,” ujar Awang ketika sedang kumpul bersama gengnya di sekolah.

“Kalau masalahnya seperti itu sih, aku siap menghangatkan dirinya. Aku akan bertindak seperti api unggun. Ha..ha..ha....,” gurau Bondan.

“Ah, aku nggak percaya. Dia kan terlihat sangat terawat dan selalu menjaga penampilan. Itu artinya ia masih menginginkan perhatian lawan jenis. Aku benar-benar tak melihat tanda-tanda ia  cewek yang sedang frustasi atau dingin. Mungkin ia hanya tidak mau terlalu cepat pacaran. Mungkin ia punya cita-cita yang harus dicapai lebih dulu,” sahut Bagus.

“Hm, apa ya enaknya punya pacar cantik dan punya banyak kelebihan. Kalau cowoknya nggak lebih hebat segala-galanya dari dia pasti minder dan memilih mundur. Mungkin itu sebabnya nggak banyak cowok yang berani mendekatinya. Mereka pada minder,” kata Bondan mengungkapkan pendapatnya.

“Kalau kamu berani nggak mendekat dia?”, tanya Aditya.

“Nggak ah. Aku ini kan hanya siswa dengan prestasi rata-rata saja dan ekonomi yang juga rata-rata. Kalau aku dekati dia, pasti banyak yang tertawai aku. Dan mungkin kalau toh Velisa mau pacaran,   pasti dia milih cowok yang sudah kuliah, bukan seperti kita,” ujar Bondan.

“Sama dengan aku dong. Aku juga nggak berani mendekatinya meski naksir berat. Meski prestasi belajarku  di atas rata-rata tapi tetap kalah sama dia. Apalagi soal ekonomi. Dia itu, kan, kalau sekolah diantar mobil, sedangkan kita hanya pake motor saja. Kalau kita nekad mendekatinya pasti kita dicurigai mau menguras hartanya saja. Ha..ha...ha...,”  gurau Aditya seolah menertawakan dirinya sendiri.

“Aku terus terang ngeri punya pacar cantik dan pintar. Paling-paling cewek kayak gitu sering nyuekin pacarnya. Habis dia kan sibuk melulu dengan aktivitas belajar dan kegiatan yang lain. Kalau ngomong sama dia, pasti kita bakal diceramahi karena dia merasa sebagai cewek super. Hm nggak mau ah pacaran sama dia. Dan pasti kemana-mana dia dipelototi dan digoda cowok-cowok yang pasti bikin kita cemburu. Ha...ha...ha....,” giliran Awang yang menertawakan dirinya sendiri.

“Ya kamu ngomong seperti itu kan karena kamu tahu kamu nggak akan masuk nominasinya. Sebab kalau dia bersanding denganmu akan terlihat seperti The Beast and The Beutiful,” ejek Bondan pada Awang.

“Wah wajah kayak Tom Cruise gini, kok dibilangin The Beast. Kalau aku mau si Velisa itu pasti takluk sama aku. Ha..ha..ha....,” ujar Awang menghibur diri.

“Kalau aku sih lebih suka cari cewek yang biasa-biasa saja. Yang levelnya di bawahku. Karena kan tugas cowok itu  membimbing ceweknya. Ya kayak kehidupan rumah tangga juga, laki-laki itu selalu harus bisa berperan menjaga, momong dan melindungi ceweknya. Kalau dia levelnya di atas kita, kita nanti yang akan dibimbingnya. Kalau kita kalah segala-galanya dari cewek kita nanti kita bisa kehilangan wibawa,” kata Bagus.

“Lho, lah kok ngelantur gitu. Masa pacaran kok disama-samakan dengan kehidupan rumah tangga. Jauh sekali bro. Kalau pacaran itu, kan, masa penjajakan. Kita sekedar belajar berbagai karakter lawan jenis kita saja. Kalau rumah tangga itu sudah ada ikatannya. Aku kira nggak ada salahnya kalau kita bisa mancari cewek yang lebih segala-galanya dari kita. Biar kita punya pengalaman yang fantastis. Itu pun kalau dianya mau sama kita. Ha..ha...ha...,” kata Aditya kembali ngakak.

“Sayangnya dia nggak bakalan mau sama kamu Dit. Kalau dia pacaran sama kamu, pasti kerjamu pulang pergi sekolah nunut mobil dia, jajan juga nunut dia, dia mau nonton atau mau makan di restoran yang bayarin semua dia. Hua haaaaa,” kata Awang terbahak-bahak.

“Bagaimana kalau kita taruhan. Kalau aku bisa menggaet dia, kamu bayarin SPP-ku selama satu tahun?  Sebaliknya kalau kamu yang menang, aku yang bayarin SPP-mu,” tantang Aditya.

“Benar kamu berani taruhan seperti itu? Ayo!”, sahut Awang.

“Siapa juga yang punya duit bayarin SPP-mu setahun. Lagian aku ini kan bukan penjudi seperti kamu?”, kata Aditya tertawa.

“Siapa juga yang penjudi. Aku terima tantanganmu itu juga pura-pura. Emangnya guwe bos yang punya banyak duit untuk bayari SPP-mu dalam setahun. Ha..ha..ha....,” balas Awang.
Tiba-tiba tanpa diduga Velisa muncul di hadapan mereka bersama dua cewek lainnya.

“Selamat siang, teman-teman. Ini aku bersama dua pengurus OSIS ini mau menawari teman-teman yang mau ikut kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Ada yang berminat?”,  tanya Velisa sambil tersenyum.

Aditya, Awang, Bagus, dan Bondan lalu saling berpandangan. Mereka bingung bagaimana mau menjawabnya. Mikir pengeluaran untuk SPP dan beaya untuk mengerjakan PR dan tugas sekolah saja, orangtua mereka sudah sering mengeluh, apalagi pake ikut kegiatan ekstra kurikuler, pasti orangtua mereka lebih kencang teriak-teriaknya.

Tapi kalau mereka langsung menolak rasanya nggak tega mengecewakan ketiga gadis manis-manis itu. Aditya berpikir keras bagaimana ia melakukan penolakan secara diplomatis. Biar ketiga cewek itu tak tersinggung.

“Memangnya kegiatan apa saja yang bisa kami ikuti?”, tanya Aditya. Sementara teman-temannya yang lain terdiam.

“Ini ada list yang bisa kalian isi,” ujar Velisa sambil menyodorkan sebuah kertas print-printan. Ia pun lalu menjelaskan, “Dalam list ini ada berbagai kegiatan yang bisa kalian pilih. Tapi nantinya kita hanya mengadakan lima kegiatan yang paling banyak dipilih. Kalau terlalu banyak kegiatannya kita akan kesulitan mengelolanya.”

“O, begitu? Kalau aku sih lihat-lihat dulu kesibukanku dalam setahun ini. Kalau sekiranya aku punya cukup waktu, saya mungkin akan pilih salah satu dari kegiatan yang ada dilist ini. Aku tak bisa jawab sekarang sist. Aku perlu waktu untuk memutuskannya. Nanti kalau aku sudah punya pilihan, aku datang ke ruangan OSIS,” ujar Aditya sok sibuk.

“Aku juga sama dengan Aditya,” ujar Bondan.

“Aku juga,” kata Awang.

“Aku juga,” kata Bagus.

“Wah kalian kompak sekali njawabnya. Tapi jangan lama-lama yang mikirnya. Rugi lho kalau selama masa SMA ini kamu nggak punya  kegiatan di sekolah,” sahut Velisa tanpa terlihat kecewa.

“Iya, ini sudah banyak siswa-siswa yang daftar. Untuk cowok yang paling banyak diikuti adalah futsal. Dan untuk ceweknya banyak yang ikut dance dan drama,” ujar seorang pengurus OSIS yang menyertai Velisa.

“Ya, beri waktu aku dan teman-teman untuk berpikir dulu. Soalnya kita-kita ini ingin fokus ke pelajaran dulu. Kalau sekiranya kami pikir kegiatan itu nggak ngganggu pelajaran, kami pasti ikut,” kata Aditya berbasa-basi.
Setelah ketiga cewek itu pergi, kembali keempat cowok itu ngrumpi tentang Velisa. Ngomongkan tentang gadis itu sepertinya tak akan pernah ada matinya. Ada saja sisi cewek itu yang menarik.

“Hm andai saja orangtua saya kaya, saya pasti menawarkan diri jadi pengurus OSIS agar aku bisa selalu dekat dengan Velisa yang anggun itu. Cewek itu benar-benar tipeke. Wajahnya kayak  Bunga Citra Lestari, penyanyi favoritku,” ujar Bagus.

“Sayangnya kamu bukanlah tipe Velisa. Bagaimana mungkin kamu bisa jadi tipenya, lha wong kamu itu jelek, miskin, dan nggak berprestasi lagi. Hua..ha..ha...,”  goda Awang.

“Ah itu, kan, kamu lihatnya sekarang. Siapa tahu 10 atau 20 tahun kemudian aku jadi pengusaha sukses dan bisa melebihi dia dalam segala hal. Ingat roda kehidupan itu selalu berputar. Kadang kita ada di bawah tapi kadang di atas,” balas Bagus tak mau kalah.

“Bagaimana mungkin kamu bisa jadi pengusaha sukses, kalau sekolah aja nggak becus?”, ejek Awang.

“Jangan salah bro. Banyak orang-orang sukses dulunya ketika sekolah dianggap bodoh dan tak pernah masuk ranking. Bahkan banyak di antara mereka yang berpendidikan rendah.  Hm kesuksesan itu tidak ditentukan pendidikan di sekolah. Yang penting bagaimana usahanya,” kata Bagus.

“Betul sekali. Aku juga sering baca banyak pengusaha besar atau orang sukses yang pada masa kecilnya miskin sekali. Jadi kita harus optimis bahwa kita tetap punya peluang untuk menjadi orang sukes di masa depan. Dan tentu saja menggaet cewek seperti Velisa. Yang seharusnya kita pikirkan bagaimana kita mulai mempersiapkan diri sejak sekarang dengan belajar keras. Ya tampaknya hanya itu peluang kita.  Nggak usah mikir soal cewek dulu,” ujar Aditya.

“Tapi konon ciri orang sukses itu adalah mempunyai keberanian yang besar. Bagaimana kalau kita uji nyali mendekati Velisa. Bukan untuk memacari tapi sekedar untuk mengenalnya saja. Siapa yang paling dulu berhasil bertamu ke rumahnya, dialah di antara kita, yang paling berani dan punya peluang paling besar menjadi sukses di masa depan,” kata Awang melontarkan tantangan.

“Boleh juga nih. Tapi nggak pake taruhan ya? Maklum kita ini kan orang-orang kantong kering. Mana mungkin kita bisa bayar kalau kalah taruhan. Lagian taruhan itu melanggar agama,” tegas Aditya.

“Aku siap saja,” kata Bagus sambil nyengir.

“Oke lah kalau begitu. Lalu mulai kapan uji nyalinya?” tanya Bondan.

“Ya mulai sekaraang juga. Kalau kamu berani menemui dia di rumahnya malam ini juga dan mendahului lainnya, lakukanlah. Kalau kamu berani melakukannya, berarti kamu menang,” kata Awang.

“Lalu bagaimana cara membuktikan kalau kamu benar-benar sudah datang ke sana?”, tanya Aditya.

“Begini saja bila seorang di antara kita mau datang ke rumah Velisa, tiga lainnya harus diberitahu lewat HP. Jadi kita bisa ngikuti dari belakang untuk membuktikannya,” ujar Awang.

“Oke juga idenya. Gimana kawan-kawan semua. Setuju nggak?” tanya Aditya.

“Setuju,” ujar bagus

“Aku ikut kalian sajalah,” tambah Bondan.

********

Malam itu Aditya tengah bersiap-siap meluncur ke rumah Velisa dengan motornya. Ini sebenarnya bukan keputusan yang mudah. Ia butuh waktu 1 minggu untuk mengumpulkan keberaniannya datang ke rumah cewek paling top markotop di sekolahnya itu. Untungnya teman-temannya yang lain ternyata juga belum berkunjung ke rumah Velisa. Mudah-mudahan saja pada malam dia bertemu dengan gadis itu tidak tempuk dengan teman-temannya yang lain. Sebab ia bisa malu.

Ya memang banyak hal yang mengganggu pikirannya saat mau memutuskan mendatangi rumah Velisa. Setelah siang itu dia bersama gengnya memutuskan untuk adu nyali, saat berada di rumah Aditya jadi tergoda untuk menjadi yang paling dahulu mendatangi rumah Velisa. Tapi di benaknya tumbuh keragu-raguan. “Apa ya alasan yang akan kukatakan untuk menemui dia. 

Apakah untuk menjelaskan ketidakikutsertaannya dalam kegiatan ekstra kurikuler yang ditawarkan Velisa. Wah ini akan sulit sekali. Soalnya jelas dia dan teman-temannya  nggak akan ikut. Mau menggunakan alasan ini rasanya nggak enak sekali. Kecuali kalau ia dan teman-teman memang mau ikut kegiatan, pasti Velisa senang sekali menerima kehadirannya.

Atau mungkin ia bilang  saja mau pinjam buku atau tanya pelajaran yang nggak dipahami. Wah ini jelas alasan yang cengeng. Masa cowok pinjam buku atau minta dijari pelajaran sulit pada cewek. 
“Ini jelas memalukan sekali. Atau mungkin aku bisa katakan aku hanya ingin main saja. Tapi apakah Velisa mau buang-buang waktu ngobrol tentang hal-hal yang tidak penting. Kan, ia cewek yang luar biasa sibuk dan banyak kegiatan. Tentu ia hanya mau menerima kedatangan seseorang yang punya sesuatu yang penting untuknya," pikirnya.

Tiba-tiba terlintas ide di pikirannya untuk mendatangi Velisa dengan alasan mau membicarakan soal kegiatan ekstra kurikuler. Ya paling tidak kalau ia mengajukan alasan itu ketika janjian lewat telepon, Velisa pasti akan mau menerimanya di rumah. Ia melihat gadis itu sangat antusias menghidupkan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Setelah sampai di rumahnya ia akan terus terang saja bilang kalau ia tidak bisa ikut dengan alasan nggak ada beaya.

Aditya berpikir tak masalah bila kemudian Velisa tak simpati dan mengganggap remeh dirinya setelah dia mengakui alasan tak bisa ikut kegiatan ekstrakurikuler. “Toh aku tak punya target menggaet dia. Tujuan kedatanganku, kan  semata-mata untuk memenangkan uji nyali dengan teman-temannya sekelas”,   pikir Aditya.

Tapi ketika membayangkan rumah Velisa yang mewah dan  dikelilingi dengan tembok tinggi, ia kembali ragu-ragu. Ia merasa minder sekali. Apalagi kalau masuk harus ngebel dulu, lalu berhadapan dengan satpam yang membukakan pintu. Satpam di rumah Velisa tentu akan nyengir ketika melihat dirinya datang ke sebuah rumah mewah hanya membawa motor.

Tapi Aditya berusaha menguatkan dirinya bahwa  ia harus berani mendatangi Velisa ke rumahnya. Ia harus mampu mengatasi rasa minder dan kekatrokannya. Akhirnya ia pun menghubungi nomor Velisa yang ia dapatkan dengan menanyakan ke Bagian Administrasi Sekolah.

Untungnya dengan ramah Velissa mau menerimanya. Bahkan lewat pesawat telepon, ia bisa mendengar Velisa antusias sekali mempersilakan dia datang ke rumahnya. “Ah, ternyata Velisa itu tak seangker dan sesombong kelihatannya. Ternyata dia itu cewek yang ramah sekali, bahkan terhadap orang seperti aku,” ujar Aditya dalam hati.

Ya itulah jawaban Velisa ketika ia menanyakan kesediaan dirinya datang ke rumahnya tiga hari sebelumnya. Tentu apa yang ia dapatkan itu tak keburu ia beritahukan pada rekan-rekannya. Ia bermaksud menelepon teman-temannya saat ia sudah ada di depan pagar rumah Velisa.

Apa yang selama ini dibayangkan Aditya betul juga. Rumah Velisa betul-betul mewah. Ketika satpam rumah Velisa membukakan pintu pagar, rumah berlantai dua itu benar-benar memiliki arsitektur yang bagus. Halaman rumah itu luas sekali dan dihiasi dengan taman yang hijau dan cantik. Antara halaman dengan bangunan induk rumah dipisahkan jalan aspal untuk lewat mobil pemilik rumah dari pintu pagar menuju garasi atau begitu sebaliknya.

Ketika masuk ke dalam rumah itu, interiornya mirip sekali dengan yang sering ia saksikan di film-film: ruang tamu yang luas. ada tangga yang melingkar menuju lantai atas. Lalu ada lantai yang berselimutkan permadami indah, mebeler mewah, televisi layar datar yang besar. Dan Aditya tiba-tiba merasa kedinginan sekali karena selama ini ia tak pernah menikmati ruangan ber-AC.

Berat rasanya melangkah masuk ke ruang tamu. Tapi sudah kepalang basa. Ia pun menguatkan hatinya memberanikan diri duduk di kursi yang empuk. Tak lama kemudian Velisa dengan senyum manisnya menyalami dan menyapanya.

“Aditya kamu mau minum apa? Kopi , teh atau es sirup?“, tanya Velisa.

Karena kedinginan ia pun bilang mau teh hangat. Velisapun segera memanggil pelayan rumah untuk membuatkan minuman dan membawa makanan kecil ke ruang tamu.

“Aditya, terima kasih ya, kamu sudah mau datang ke rumahku,” ucap Velisa tersenyum manis.

Aditya jadi heran kenapa Velisa ngomong seperti itu. Menurut pikirannya dengan kekaaan dan kepintarannya pastilah Velisa memiliki banyak teman. Lalu kenapa ia sampai berterima kasih terhadap orang seperti dirinya.

“Saya kira kamu nggak mau terima teman sepertiku karena aku pikir pasti teman-teman cowok yang datang ke sini kebanyakan  bawa mobil,” kata Aditya mencoba melontarkan pancingan.

“Enggak juga. Kamu mungkin nggak percaya sejak aku masuk sekolah kita sampai sekarang baru kamu cowok yang mau berkunjung ke rumahku. Kalau cewek sih banyak yang datang ke rumahku. Itu pun aku biasanya yang ngajak mereka. Aku nggak tahu apakah mereka mengira aku ini orang sombong atau bagaimana. Karena itulah aku menggalang teman-teman sekolah untuk mengikuti acara ekstra kurikuler agar aku punya banyak teman dan teman-teman mau berkunjung ke rumahku. Aku ini anak tunggal dan aku ingin sekali punya banyak teman, agar aku tidak kesepian,” jelas Velisa, yang membuat Aditya bengong.

“Mungkin teman-teman pada minder karena melihat kamu pulang pergi diantar mobil mewah. Dan penampilan kamu  benar-benar berbeda dengan teman-teman lainnya. Mana ada cewek di sekolah kita yang pegang smartphone bagus kayak milik kamu. Akupun sebenarnya berat sekali datang ke rumahmu karena aku merasa minder sekali. Banyak sekali cowok di kelas kita yang minder seperti aku. Apalagi kamu cewek pintar dan banyak aktivitas,”  jelas Aditya.

“Oh, ya? Kalau begitu mungkin aku harus mulai belajar datang ke sekolah pakai motor saja dan bawa HP yang biasa saja, agar teman-teman tak menjaga jarak dengan aku. Mungkin maksudmu begitu?”,  tanya Velisa.

“Ya, mungkin seperti itulah biar teman-teman nggak merasa minder bila ingin berteman denganmu. Sekolah kita ini memang sekolah favorit, tapi banyak siswa yang orangtuanya biasa-biasa saja. Kalau toh ada yang kaya, tapi jelas tak bisa menandingi kekayaan keluargamu. Aku tahu banyak tentang ini,” jawab Aditya.

“Terima kasih sekali Aditya. Kamu telah memberikan masukan yang bagus sekali buatku. Baiklah mulai besok aku akan mengubah penampilan dan mulai belajar mengendarai motor,” kata Velisa.

“Oh, ya Velisa, aku mau bilang sesuatu kepadamu tapi jangan kecewa ya?”, kata Aditya.

“Silakan bilang saja. Aku tahu kamu cowok yang baik, pasti apa yang kamu ungkapkan bukan hal yang menyakitkan kan?”,  ujar Velisa tersenyum.

“Aku dan teman-temanku sebenarnya ingin sekali ikut aktivitas di sekolah seperti yang kamu inginkan. Tapi kami semua bukan teman-teman yang kelebihan uang saku. Kami khawatir kalau ikut aktivitas sekolah, kami akan membebani orangtua kami yang sudah sangat berat menanggung beaya sekolah kami. Semula aku malu kalau harus berterus-terang seperti ini. Tapi aku harus katakan ini agar tidak timbul kesan aku dan teman-teman sombong nggak mau ikut kegiatan,” ungkap Aditya. 

“Ya kalau itu alasannya, saya bisa maklumi. Tapi kalau boleh, aku berharap kamu mau jadi temanku. Kalau aku lagi nggak sibuk datanglah ke rumahku. Telepon saja dulu. Atau kamu bisa ngobrol denganku pada jam istirahat di sekolah. Biasanya setelah menyantap makanan yang kubawa, aku selalu baca-baca di perpustakaan,” kata Velisa.

“Kebiasaanmu di perpustakaan itu mungkin juga membuat kamu terkesan cewek yang pintar sekali dan memang kenyataannya pintar. Itu juga sering membuat para cowok takut,” kata Aditya.

“Kalau kebiasaan baca itu nggak bisa aku hilangi karena itu sudah hobi. Tapi mungkin aku akan ubah penampilan yang sekiranya membuat aku terkesan sebagai cewek elit,” kata Velisa.

Ya itulah yang mungkin dimaksudkan pepatah “Banyak Jalan Menuju Roma”.  Uji nyali yang disulkan temannya, Awang,  ternyata menjadi pembuka jalan baginya untuk mendapatkan Velisa. Ia kini bukan hanya sebagai teman biasa tapi sudah menjadi teman istimewa. Secara tak terduga, uji nyali itu membuat dia berani datang ke rumah Velisa dan kemudian berkawan dan akhirnya jadian.






0 komentar:

Posting Komentar