Kebaikan Yang Terlupakan

Dimas memang anak yang nakal. Ia sering malas bangun pagi, sehingga kedua orangtuanya harus berteriak-teriak lebih dulu untuk membangunkannya. Kalau tidak diteriaki seperti itu, Dimas tak mau bangun dan akhirnya terlambat sekolah.


Karena seringkali terlambat masuk sekolah, orangtuanya pun jadi sering dipanggil ke sekolah untuk diberi teguran oleh guru. Orangtuanya pun tak pernah jemu-jemunya menasihatinya, tapi Dimas tetap malas bangun pagi.

Selain itu Dimas juga malas belajar. Pekerjaan sehari-harinya hanya main game dan nonton televisi. Berkali-kali orangtuanya menegurnya dan memintanya belajar secara teratur, tapi Dimas tetap bandel.

Suatu ketika ayahnya bersikap tegas. Ketika sedang main game, ayahnya mematikan laptop dan menguncinya di almari. Tapi Dimas tetap tak mau belajar. Ia malah beralih nonton televisi. Ayahnya pun lalu mematikannya.

"Ayah jahat. Masa main game nggak boleh, nonton televisi nggak boleh. Kerjaaannya tiap hari marahin Dimas melulu," teriak Dimas sambil menangis.

"Bukan nggak boleh, Dimas. Kamu boleh main game dan nonton televisi tapi ada batasannya. Tidak boleh terus-terusan. Dan lagian kamu harus belajar setiap hari agar kamu bisa naik kelas dan nilaimu bagus," tutur ayahnya.

"Ayah jahat, ayah jahat, lebih baik aku pergi saja dari rumah ini," ujar Dimas.

Ketika ayahnya berteriak memintanya tetap tinggal di rumah, Dimas tak mau mendengarkannya. Ia mengambil sepeda lalu pergi keluar rumah.

Dimas terus menelusuri jalan sejak sore hari. Ia tak tahu harus pergi kemana. Ia terus mengayuh sepedanya. Kalau lelah ia menghentikan laju sepedanya dan beristirahat. Setelah itu baru jalan lagi tanpa tujuan yang jelas.

Saat ia melewati sebuah depot kecil yang sepi sekitar jam 8 malam, ia tiba-tiba merasa lapar. Ia lalu sadar, ia pergi tanpa membawa bekal makanan maupun uang. Setelah menyandarkan sepedanya ke dinding, ia melihat ke dalam depot itu sambil termangu.

Pemilik depot yang melihat anak itu segera menawarkan makanan. "Mau beli makanan, Nak. ayo masuk," sapa pemilik depot ramah.

"Saya lapar sekali Pak. Saya ingin beli makanan tapi tak punya uang," ujar Dimas dengan memelas.

"Kalu begitu, ayo masuk, aku ambilkan makanan gratis. Kebetulan tadi laris sekali. Sehingga sebagai ungkapan puji syukur kepada Tuhan, aku akan memberimu makanan gratis," ujar pemilik depot.

Dengan suka cita anak itu duduk dan menghadap meja makan. Tak lama kemudian pemilik depot membawakan nasi soto untuknya lengkap dengan telur rebus yang sudah dikuliti dan dibelah dua. Setelah kenyang menikmati sajian itu, ia mengucapkan terima kasih pada pemilik depot.

"Pak, saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak. Saya benar-benar terharu orang yang tidak saya kenal bisa begitu baik terhadap saya, tapi orangtua yang melahirkan aku justru begitu jahat," kata Dimas.

Pemilik depot yang tertarik dengan perkataan Dimas, lalu bertanya tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi antara Dimas dengan orangtuanya.

Setelah mendengar cerita Dimas, pemilik warung itu pun berkata, "Coba pikir, Nak Dimas, orangtuamu memberi makan kamu sejak kecil nggak kamu lihat kebaikannya sama sekali, sedangkan aku hanya memberimu makan sekali sudah kamu anggap baik. Lagian orangtuamua kan tidak hanya memberi makan, tapi memberimu tempat tinggal, pakaian dan membeayai sekolahmu juga," kata pemilik depot.

"Tapi orangtuaku selalu memarahiku," ujar Dimas membela diri.

"Itu karena kamu malas sekolah dan belajar, wajar kalau orangtuamu marah. Itu juga demi kebaikanmu. Agar kelak di kemudian hari kamu bisa menjadi orang sukses. Ayo sekarang pulang ke rumah dan minta maaf kepada kedua orangtuamu. Mereka sekarang pasti sudah bingung mencarimu," kata pemilik depot.

Dimas segera tersadar kalau pemilik depot itu benar. Ia pun bergegas pamit dan memacu sepedanya menuju ke rumah. Ia akan meminta maaf kepada kedua orangtuanya dan berjanji memperbaiki perilakunya.


0 komentar:

Posting Komentar