Keluarga Mama Meong di Kolong Atap

Tiga anak kucing, Mia, Mika, dan Maya selalu tampak gembira. Hampir setiap hari ketiganya bermain-main. Tak ada satupun makhluk yang pernah menggangu keberadaan mereka. Dan bila perut mereka keroncongan Ibu Meong selalu siap menyusui mereka tanpa gangguan apapun.

Mereka akan senang sekali bila ayah mereka datang menjenguk. Sebab bila bertemu, ayah tak lupa membersihkan tubuh anak-anaknya dengan menjilatinya. Mereka merasa ayah mereka benar-benar penyayang.

Ayah mereka juga suka sekali bercerita pada mereka tentang hal-hal yang lucu dan menyenangkan tentang dunia di luar mereka. Misalnya tentang perilaku orang-orang yang memelihara ayahnya di rumah salah seorang penduduk.

"Ayah tak pernah kesusahan mencari makan sendiri karena pemeliharaku selalu tak lupa menyediakan makanan untukku. Mereka juga selalu mengelus-elus ayah sebagai tanda mereka menyayangi ayah," cerita ayah mereka.

Tapi kemudian Mama Meong datang. "Tapi kadang ayahmu mendapatkan perlakuan buruk dari anak pemelihara ayahmu. Anak kecil itu sering sekali memukul dan mencekik ayahmu hingga kesakitan," kisah Mama Meong yang pernah menyaksikan suaminya disiksa anak pemilik rumah sebelah.

Tentu saja anak-anak kucing yang semula berkeinginan kuat untuk suatu hari nanti datang menemui pemilik rumah agar dipelihara jadi takut. "Aku ingin tinggal di sini saja, ayah. Di sini aman nggak ada yang mengganggu dan menyakiti kami," ujar Maya agak ketakutan.

"Aku nggak mau ikut ayah, nanti aku disiksa. Aku takut sama manusia," sambung Mika.
"Iya, anak-anak. Tidak semua kucing bisa mereka terima. Mereka itu suka membeda-bedakan makluk hidup. Mereka hanya mau memelihara kucing-kucing yang bagus dan cantik. Kalau seperti kita-kita ini, pasti diusir," kata Ibu Meong.

Ayah kucing-kucing itu pun jadi sedih. Apa yang dikatakan istrinya itu memang benar. Manusia itu sering bersikap diskriminatif. Pada kucing tertentu ia sayang sekali, tapi pada kucing yang lain mereka tak segan-segan berbuat jahat. Makanya ia tak berani membawa anak-anaknya ke pemeliharanya.

Ayah mereka memang seekor kucing yang gagah, tubuhnya selalu bersih dan tampak terawat. Berbeda dengan ayah mereka yang merupakan kucing peliharaan orang kampung, Ibu mereka, Ibu Meong adalah kucing liar. Ibu mereka tinggal berpindah-pindah dari satu atap ke atap rumah yang lain. Kalau nggak begitu ibu mereka tinggal di gudang yang jarang didatangi pemiliknya.

Ketika mendapatkan dirinya mengandung, Ibu Meong kebingungan mencari tempat untuk melahirkan.  Selain tak berani masuk ke rumah orang, di luaran juga tak ada tempat yang cukup longgar dan aman. Memang ada gudang barang yang tidak ada penghuni manusianya. Tapi gudang itu sering didatangi orang yang bongkar muat barang. Lalu ada juga beberapa rumah yang memiliki halaman yang cukup longgar. Tapi setiap saat penghuni rumah akan muncul untuk menyapu atau duduk-duduk.

Namun karena kebiasaannya berburu tikus di  kolong atap rumah-rumah penduduk, Mama Meong akhirnya memutuskan melahirkan anak-anaknya di situ. Di situ tidak ada makhluk asing yang mengusik keberadaan dia dan anak-anaknya. Di kolong atap juga banyak tikusnya, untuk makanannya. Ini benar-benar 'rumah' yang bagus bagi tiga anaknya.

Tapi semakin usia anak-anaknya bertambah, Mama Meong semakin khawatir. Sebab ketika mereka bermain di kolong atap, pasti gerakan tubuh mereka yang makin besar menimbulkan suara ribut bagi penghuni rumah. Belum lagi kalau anak-anaknya mulai mengeluarkan erangan saat main perang-perangan, pasti penghuni rumah di bawah akan terganggu.

Benar saja suatu hari karena anak-anaknya bikin ribut, pemilik rumah memukul-mukulkan batangan kayu pada atap rumah untuk mengusir mereka. Tentu saja anak-anak nya jadi kaget dan ketakutan.

"Bu, ada apa kok ada suara benda dipukul-pukulkan ke atap?" tanya Maya.

"Itu suara batangan kayu yang dipukulkan ke atap untuk mengusir kita. Mereka sekarang mulai merasa terganggu dengan kehadiran kita di sini," ujar Ibu Meong.

"Berarti kita sudah tidak nyaman lagi, Bu ya tinggal di sini. Kalau pemilik rumah terus menerus melakukan itu kita nggak bisa tenang," kata Mika.

"Betul sekali. Pemilik rumah akan berusaha terus agar kita meninggalkan kolong atap rumahnya. Mereka juga ingin hidup tenang seperti kita. Karena itu kita harus bersiap-siap mencari tempat baru," ujar Ibu Meong sedih.

"Terus kita tinggal dimana, Bu?" tanya Mia.

"Terpaksa kita nanti harus berpindah-pindah tempat. Kadang di gudang, kadang di halaman rumah orang, sesekali kita juga tinggal di kolong atap seperti ini," kata Mama Meong.

"Bagaimana kalau kita nanti ditangkap manusia dan disiksa?" tanya Mika ketakutan.

"Nggak gampang nangkap kita. Beda dengan ayah kalian yang nggak cari makanan sendiri, kita biasa berburu makanan sehingga gerakan kita menjadi sangat cepat dan gesit. Kita juga mudah sekali terbangun ketika ada orang yang mendekati kita. Jadi manusia nggak akan bisa menangkap kita," kata Ibu Meong.

"Tapi nanti kita nggak bisa ketemu sama Ayah, dong Ibu?" tanya Mia.


"Jangan khawatir. Kalau kita masih tinggal di daerah sini saja, pasti ayahmu akan sering menjenguk kita," ujar Ibu Meong berusaha menghibur hati anak-anaknya.

0 komentar:

Posting Komentar