Surat Wasiat

Udin, adalah seorang anak petani, yang suka foya-foya. Meskipun ia hanya seorang anak desa, gaya hidupnya bak anak orang kota. Pakaiannya selalu bagus dan mengikuti mode,  punya motor terbaru dan smartphone yang mahal dan canggih. 

Ia sering menghambur-hamburkan uang milik ayahnya untuk bersenang-senang dengan teman-teman berandalnya di kota. Kalau lagi ingin bersenang-senang, ia pasti memaksa ayahnya untuk memberi uang saku yang besar. Walau masih SMA, ia pun sudah akrab dengan minuman keras dan narkoba.

Prestasi di sekolahnya pun jeblog dan selalu terancam tidak naik kelas. Udin dikenal sebagai anak yang suka bolos dan selalu mengabaikan PR yang diberikan guru sekolah. Selain itu ia juga tak pernah membantu ayahnya bekerja di ladang maupun menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Suatu hari karena ulah anaknya itu, Pak Budi bangkrut. Tak lama kemudian ia meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung. Pria berusia 45 tahun itu pun meninggalkan surat wasiat untuk anak semata wayangnya, Udin. Anak yang masih berusia di bawah 20 tahun itu pun segera membaca surat wasiat ayahnya yang berbunyi:

"Anakku, aku akan mewariskan kepadamu rumah yang bagus dan luas, tanah sawah seluas  10 ha, sapi sebanyak 20 ekor, ayam 100 ekor, uang Rp 100 juta, mesin pertanian, dan alat pengolah susu untuk memproduksi mentega. Kembangkanlah terus hingga harta kita terus bertambah banyak."

Sampai di sini si Udin kegirangan. Walau ia mendengar ayahnya telah menjual beberapa sawah dan rumahnya yang bagus dan tinggal di rumah yang sederhana, ternyata tanpa dinyana sama sekali ayahnya masih memiliki simpanan harta yang luar biasa.

Lalu ia pun melanjutkan membaca surat wasiatnya, "Anakku, untuk kejelasan harta kita itu,  bukalah game Harvest Moon di komputer milik ayah! Mainkanlah level paling akhir dimana kita sudah memiliki banyak sekali harta!".


0 komentar:

Posting Komentar