Kisah Poliandri Drupadi dengan Pandawa Lima

Saat dalam pelarian setelah istananya di Wanabratha dibakar Kurawa, Pandawa yang menyamar sebagai brahmana mendengar tentang sayembara yang diadakan oleh Raja Drupodo dari Negeri Panchala untuk mencarikan suami bagi Dewi Drupadi. Sayembara itu diselenggarakan untuk para raja,  pangeran dan putra mahkota.

Karena Drupadi dikenal sebagai wanita yang cantik dan berbudi halus, maka banyak peserta dari berbagai kerajaan berdatangan ke negeri Panchala untuk mengikuti sayembara. Namun sayembaranya sangat sulit. Para peserta harus memanah sasaran yang diletakkan di udara. Tapi ketika membidik anak panahnya ke atas, peserta diharuskan hanya melihat bayangan target di dalam air yang terdapat pada kolam.

Tak satu pun dari para peserta, yang semuanya gagah perkasa itu, berhasil memenangkan sayembara. Bahkan tak ada satupun yang mampu mengangkat busur yang telah disediakan penyelenggara karena sangat berat bobotnya.

Ketika giliran Duryudono, ia mengutus Karna, Raja Angga, untuk mengikuti sayembara atas namanya. Baik Drestadyumna maupun Drupodo menolak karena peserta tidak boleh mewakili orang lain. Tapi dengan alasan ia tidak ahli memanah dan bahwa Karna adalah teman setianya,  Duryudono tetap ngotot untuk ikut sayembara.

Raja Angga kemudian menyatakan bahwa walaupun Duryudono tidak ahli memanah tapi ia ahli dalam berperang. "Dalam keahlian memimpin perang, saya bukan tandingan teman saya, Duryudono, " kata Kresna berusaha meyakinkan kompetensi Duryudono.

Duryudono menambahkan bahwa sayembara yang hanya menguji kemampuan memanah peserta tidak layak. Mestinya untuk menguji kemampuan seorang peserta, sayembaranya dalam bentuk pertandingan. "Mungkin juga pertandingan duel dengan menggunakan pedang," ujar Duryudono yang keahlian utamanya memainkan senjata gada itu.

Bahkan ketika Kresna juga melarang keikutsertaan Raja Angga, Duryudono tetap ngotot mengajukan Karna sebagai peserta. "Kalau tidak boleh ikut sayembara untuk saya, Karna akan maju untuk dirinya sendiri," kata Duryudono.

Drestadyumna, Drupodo dan Kresna pun membiarkan ketika Duryudono memaksa Karna tetap maju ke gelanggang sayembara. Karna dengan mudah mengangkat busur dari tempatnya dan memungut anak panah yang disediakan penyelenggara. Ia lalu memandangi bayangan target yang memantul dalam kolam. Ia tampak berusaha keras untuk konsentrasi.

Drupadi dengan gelisah dan berdebar-debar memandangi Karna. Ia telah diberitahu Kresna mereka yang bisa memenangkan sayembara hanya dua orang, yaitu Arjuna dan Karna, yang sama-sama ahli memanah. Tapi ia tidak suka pada Karna dan tak ingin dia memenangkan sayembara.

Ia ingat kata-kata Kresna bahwa  Arjuna adalah seorang pemanah terbaik dan moralnya pun bagus. Sedangkan Karna sebetulnya memiliki moral yang baik juga tapi sekarang ia ada di lingkungan buruk dan melindungi orang-orang jahat. Kresna memberikan pandangan pada Drupadi, jika Karna ikut dan dia tidak menghendakinya, ia berhak untuk menolak keikutsertaannya dalam sayembara.

Sesuai petunjuk guru spiritualnya itu, Drupadi angkat suara memecahkan kesunyian. "Aku tak ingin Karna menjadi suamiku karena ia hanyalah anak seorang kusir kereta," tegas Drupadi yang membuat para pangeran yang hadir kaget.

Karna protes karena Drupadi telah mempersoalkan kastanya. "Ini merupakan penghinaan bukan saja untuk saya tapi juga semua kalangan istana yang berprestasi bukan karena kasta tapi karena kemampuan dan kerja keras. Apa yang dilakukan Drupadi adalah sebuah dosa besar, Yang Mulia Raja Panchala" ujar Karna.

Drupodo menegaskan, adalah hak mutlak dirinya untuk menentukan keahlian dan asal-usul calon suami. Mereka yang merasa tidak memiliki keahlian memanah boleh tidak mengikuti sayembara.

Sementara itu Duryudono menuding dengan hanya menguji kemampuan memanah, sayembara ini menghina para peserta yang bukan hanya terdiri dari para pemanah. "Raja Drupodo telah mengubah sayembara ini menjadi permainan politik," kata Duryudono.

Drupadi kemudian menyahut, ia tak tahu menahu tentang persoalan politik dan tak ada niatan melecehkan para peserta yang bukan pemanah. "Kalau ada maksud saya untuk melecehkan peserta, biarlah sekarang juga saya dibakar oleh Dewa Matahari," katanya.

Setelah Drupadi mengucapkan sumpah, matahari jadi membesar dan bergerak-gerak, lalu mengeluarkan cahaya yang sangat terang sehingga membuat mereka yang hadir silau. Tapi matahari tak membakar Drupadi dan kembali mengecil dalam wujudnya yang normal, pertanda niatan Drupadi dalam sayembara tulus. Para peserta pun terdiam.

Setelah itu Drupadi menyambung ucapannya bahwa sayembara telah mensyaratkan bahwa para pesertanya hanyalah dari kalangan istana. "Kalau tidak pastilah semua kalangan rakyat bisa ikut dalam sayembara ini. Karna telah melanggar aturan sayembara karena ia nekad mengikuti sayembara, padahal persyaratan kastanya tidak terpenuhi," kata Drupadi.

Protes Duryudono
Duryudono mengatakan kepada Drupodo seharusnya ia memenjarakan putrinya yang arogan itu. Tak terima penghinaan itu, Drupodo bermaksud maju dan menghajar Duryudono, tapi dicegah oleh Kresna. Duryudono kemudian nekad masuk gelanggang sayembera. Di sana ia tidak memanah tapi berusaha mematahkan busur panah. Tapi usahanya itu tidak berhasil, karena panahnya terbang sendiri ke udara dan kemudian kembali lagi ke tempatnya.

"Raja Drupodo berterima kasih atas usaha Pangeran Duryudono untuk mematahkan busur. Tapi pangeran telah membuktikan sendiri tak mampu mematahkannya. Busur itu tidak hanya untuk sayembara, tapi juga menjalankan fungsi mendatangkan suami bagi Drupadi. Kalau tugas itu belum terselesaikan, busur itu tak akan bisa dipatahkan. Sekarang Pangeran Duryudono izinkanlah kami untuk melanjutkan sayembara," pinta Kresna dengan sopan.

Duryudono tak mengeluarkan sepatah katapun. Dengan rasa malu ia kembali ke kursi peserta.

Keikutsertaan Brahmana
"Raja Panchala, lanjutkan sayembara ini. Masih ada kstaria yang ada di sini yang akan mampu memenangkan sayembara ini. Bila kalangan istana tidak ada yang mampu memenangkan sayembara, beri kesempatan kalangan brahmana untuk mengikuti sayembara," kata Kresna.

"Basudewa Kresna, bukankah Drupadi calon Ratu? Seorang brahmana yang kerjanya mengumpulkan sedekah tidak cocok untuk dia," sergah Drupodo.

"Yang Mulia Raja Panchala, bila  brahmana menikah dengan calon Ratu, maka Ratu itu kelak akan menjadikan dia sebagai seorang raja," kata Kresna tersenyum.

Arjuna yang sudah hadir sebagai penonton sayembara tersenyum melihat kata-kata Krena. "Saudara-saudaraku yang bicara itu Basudewa Kresna, kakak Subadra dan temanku," ungkap Arjuna.

Karena rasa hormatnya yang begitu dalam terhadap Kresna, Drupodo pun mengikuti permintaan Kresna. Setelah ia mengumumkan para brahmana yang hadir sebagai penonton boleh menjadi peserta, Arjuna yang menyamar jadi brahmana dengan kumis dan jenggot yang lebat, dan rambut panjang yang dikucir, maju ke arena sayembara.

Tapi penyamaran Arjuna itu akhirnya terbongkar. Karna mengenalinya. "Itu Arjuna,  temanku Duryudono," ungkap Karna. Duryudono, Sengkuni dan Dursosonopun terkaget-kaget karena mereka selama ini menganggap Arjuna dan saudara-saudaranya sudah hangus terbakar.

Ketika Arjuna terbukti mampu memanah sasaran dengan baik sesuai persyaratan ia pun dinyatakan memenangkan sayembara. Ia bersama-sama saudara-saudaranya membawa Drupadi ke tempat penginapan ibunya. Sesampainya di tempat penginapan,  Arjuna langsung berteriak. "Ibu lihatlah hadiah yang aku bawa ini!" Kunti yang tengah bersemedi tanpa menoleh ke belakang menjawab sekenanya, "Hadiah itu bagilah rata di antara kalian berlima."

Menurut tradisi sesuatu yang sudah terucap, apalagi oleh seorang ibu, harus dilaksanakan. Karena itulah Pandawa Lima memutuskan untuk menjadikan Drupadi sebagai istri bersama. Drupodo menjadi gusar dan menolak pernikahan putrinya dengan Pandawa Lima. Baru setelah mendapatkan nasihat dari Kresna, Drupodo menerima anaknya menjalani pernikahan poliandri.

Kemenangan Arjuna dalam sayembara itu akhirnya sampai pada telinga Widura yang lalu menyampaikannya pada Bisma. Bisma meminta Widura mempersiapkan kehadiran Pandawa Lima ke Hastinapura untuk dilantik menjadi raja. Namun Sengkuni berusaha sebelum Pandawa sampai ke istana Duryudono sudah dilantik sebagai raja Hastinapura menggantikan ayahnya. Sehingga Yudistira tak memiliki peluang menjadi raja Hastinapura.

Kemarahan Bisma
Namun ketika upacara penobatan dilangsungkan, Bisma menghentikannya. Saat itu Pandawa mulai masuk istana.  Duryudono meminta kakeknya tidak menghentikan pelantikannya sebab dialah satu-satunya yang paling berhak menjadi raja setelah Pandawa melakukan dosa besar dengan melakukan poliandri dengan Drupadi. Bisma yang baru tahu hal itu marah besar pada Pandawa dan keluar istana tapi dia tidak mengizinkan upacara pelantikan Duryudono diteruskan.

Di luar Perdana Menteri Widura berusaha membujuk Bisma agar menghentikan kemarahannya dan kembali mendukung Pandawa Lima. Widura berkata, "Pandawa Lima dan Drupadi tak sengaja melakukan poliandri. Ada suatu sebab yang tak bisa mereka elakkan sehingga mereka harus berpoliandri."

Bisma ngotot tidak bisa lagi mengampuni Pandawa Lima dan cucu-cucunya itu harus keluar dari istana. "Mereka sudah membuat dosa besar dan kelaurga istana malu. Mereka harus dihukum keluar istana," tegas Bisma.

Widura dengan muka sedih menceritakan bahwa ketika Bima yang bersama saudara-saudaranya sampai di rumah mengabarkan Arjuna mendapatkan hadiah, tanpa menoleh ke arah datangnya mereka, Kunti meminta hadiah itu dibagi. Padahal yang dimaksudkan hadiah itu adalah Drupadi,  yang merupakan hadiah dari sayembara di Kerajaan Pancala.

"Menurut adat, apa yang diucapkan seseorang yang dihormati harus dilaksanakan. Dan kalau hanya salah satu dari Pandawa Lima yang menikahi Drupadi, maka empat saudaranya yang lain harus mengasingkan diri dan membujang. Kalau ini terjadi maka Hastinapura akan beralih ke tangan Duryudono dan tidak bisa mencapai kejayaannya," jelas Widura.

Bisma yang masih belum bisa menerima penjelasan dari Widura ngeloyor pergi. Dan Widura pun kembali ke dalam istana. Di sana ia menemukan Pandawa Lima sedang berhadapan dengan para Kurawa dengan membawa senjata seolah-olah siap berperang. Pandawa tak terima mereka dan Drupadi dihina habis-habisan oleh Kurawa karena dituduh melakukan dosa besar. Mereka pun mengangkat senjata, yang disambut para Kurawa dengan mengangkat senjata juga. Raja Drestarastra atas desakan Duryudono dan Sengkuni memerintahkan para prajurit kerajaan menangkap Pandawa Lima.

Ketika mengetahui hal itu, Bisma yang tampaknya sudah menyadari kesalahannya, menghadap Raja Drestarastra untuk melepaskan Pandawa Lima. Duryudono membela ayahnya. "Yang berhak memutuskan penangkapan itu Raja. Kakek tak memiliki hak karena hanya seorang Panglima Perang yang harus selalu mematuhi perintah raja," ujar Duryudono  dengan nada melecehkan.
           
"Yang Mulia Bisma, sebagai Panglima Perang kamu tidak bisa menentang keputusanku. Aku tetap akan memenjarakan Pandawa Lima," tegas Drestarastra.

"Ingatlah Drestarastra, tanpa aku kamu tidak akan pernah menjadi raja dan aku bisa sewaktu-waktu mencopot gelarmu sebagai raja. Lepaskan para Pandawa. Mereka tidak bersalah," jawab Bisma.

Hastinapura Pecah
Ketika hendak lebih mendekat ke Drestarastra, Duryudono dan Dursosono membentengi ayahnya agar Bisma tidak mendekat lagi. Drestarastrapun berkata, "Bagaimana aku bisa melepaskan hukuman pada orang yang telah melakukan dosa besar dan mengangkat senjata di istanaku," ujar raja bersikukuh.

"Oh, jadi itu keputusanmu? Baiklah kalau begitu  lihat saja apa yang aku lakukan," ujar Bisma sambil bergegas ke luar istana.

Setelah Bisma pergi, Sengkuni meminta raja membatalkan penangkapan Pandawa. Hal itu diprotes oleh Duryudono. Sengkuni bilang, "Keponakanku Duryudono, kita harus menuruti apa kemauan Kakek Bisma. Kita harus berusaha agar dia tetap ada di pihak kita. Kalau tidak, cita-cita kita untuk menguasai Hastinapura tidak akan terwujud. Ayo ikutlah aku untuk melihat betapa besar pengaruh kakek Bisma di kerajaan ini," ujar Sengkuni yang kemudian melangkah ke luar istana sambil diikuti Duryudono dan Dursosono.

Benar apa yang dikatakan Bisma. Dengan relatif mudah, Bisma  berhasil melepaskan Pandawa Lima dari tangan prajurit. Mereka sama sekali tak melakukan perlawanan ketika diperintah Bisma untuk melepaskan Pandawa Lima. Walau para prajurit itu tahu mereka mendapatkan perintah langsung dari raja untuk melakukan penangkapan.

Setelah melihat tak ada jalan keluar bagi perdamaian antara Pandawa dan Kurawa, akhirnya Bisma, Widura dan Drestarastra sepakat membagi separo wilayah Hastinapura kepada Pandawa Lima dimana Yudistira menjadi rajanya. Sedangkan  Duryudono hanya dilantik sebagai Putra Mahkota Hastinapura. Pandawa memilih wilayah gersang yang disebut Kandhawaprastha yang kelak akan berubah nama menjadi Indraparastha.

            

0 komentar:

Posting Komentar