Kisah Sukses Ciputra, Raja Real Estat Indonesia


Konglomerat Indonesia yang bergerak di bidang property, Ciputra, mulai mengenal usaha sejak dini sekali. Sejak ditinggalkan ayahnya, Ciputra selalu membantu sang Ibu berjualan kue. Di pagi harinya, Ciputra mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah."


Lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, pada tanggal 24 Agustus 1931 Ciputra dibesarkan dari keluarga yang pas-pasan. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, dari pasangan suami-istri Tjie Siem Poe dan Lie Eng Nio. Ia sudah terbiasa dengan pahit dan susahnya hidup di masa anak-anak.

Ketika berumur 6 tahun, Ciputra hidup bersama bibinya,. Di sini Ciputra harus membantu bibinya dalam membereskan berbagai pekerjaan rumah. Bibinya bersikap keras kepada Ciputra kecil. Walaupun begitu, Ciputra tetap mematuhi perintah bibinya itu. Ia menerimanya sebagai tanggungjawab. Kini, berkat bimbingan dan perlakuan keras dari bibinya, Ciputra sangat merasakan makna dari kerja keras tersebut.

Di masa kecil Ciputra memang akrab sekali dengan kesulitan dan kesedihan. Sejak usia dini dia sudah menjadi yatim. Ayah tercintanya dituding anti-Jepang oleh tentara pendudukan Jepang. Ayahnya, Tjie Siem Poe, ditangkap dan akhirnya harus meninggalkan Ciputra untuk selama-lamanya. Ayahnya meninggalkannya pada saat usianya mencapai 12 tahun.

Anak Nakal
Pada zaman itu sekolah merupakah hal yang cukup berat. Ciputra harus menempuh perjalanan sepanjang 7 kilometer dari rumahnya dengan berjalan kaki. Saat sekolah Ciputra dikenal sebagai anak yang nakal. Karena itulah ia sering tidak naik kelas.

Paska ditinggal sang ayah, barulah Ciputra bangkit dan mau belajar giat hingga selalu menjadi nomor 1 di sekolah.

Ciputra mengenyam pendidikan SMP di Gorontalo pada tahun 1950,  dan SMA di Manado pada tahun 1953. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah di Manado, Ciputra hijrah ke pulau Jawa. Keputusan Ciputra untuk merantau ke pulau Jawa, setamat SMA, membuatnya semakin mandiri.

Berkat ketekunannya, Ciputra berhasil masuk ke ITB (Institut Teknologi Bandung) Jurusan Arsitektur. Kegemilangan prestasi Ciputra mencuat pada saat ia kuliah. Sembari kuliah, Ciputra mendirikan perusahaan bersama temannya, sebuah konsultan Biro Arsitek Daya Tjipta, yang dioperasikan di sebuah garasi.

Namun karena dianggapnya kurang sesuai dengan harapannya, akhirnya Ciputra memutuskan untuk mendirikan perusahaan properti PT. Pembangunan Jaya pada tahun 1962. Proyek perdana yang digarapnya yaitu mengubah kawasan Senen yang dulunya dikenal sebagai daerah pelacuran, kumuh, miskin, dan banyak pencopetnya menjadi kawasan yang tertib, bersih, dan modern.

Di tahun berikutnya  Kawasan Senen telah berubah menjadi pusat perdagangan. Berkata sentuhan tangan tangan Ciputra, kawasan Senen berubah menjadi pusat perbelanjaan modern pertama dan terbaik di Jakarta.

Proyek keduanya adalah pembangunan Ancol. Ini adalah merupakan hasil visi dari Ir. Soekarno, dan atas permintaan Gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin, yang menginginkan Kawasan Ancol dijadikan seperti Disneyland di Amerika.

Usaha demi usaha terus dilakukan untuk menjadikan Ancol seperti Disneyland. Hasilnya Ciputra berhasil menempatkan Ancol sebagai sepuluh besar kawasan wisata terbesar di dunia, dengan jumlah pengunjung 12 juta orang per tahunnya. Saat ini Ciputra telah berhasil membangun 20 kota satelit di seluruh Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar