Susi Pujiastuti, Juragan Ikan Yang Jadi Menteri


Di Indonesia, pengusaha ikan dan penerbangan Susi Pudjiastuti berhenti sekolah saat masih duduk di bangku SMA untuk berbisnis. Ia kini berhasil menjadi pengusaha yang sukses dan baru-baru ini didapuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.


Susi Pudjiastuti membuktikan pendidikan formal bukanlah satu-satunya tangga menuju kesuksesan. Dengan ijasah SMP ia membuktikan dirinya bisa menjadi pengusaha yang sukses.

Begitu droup out dari sekolahnya, Susi remaja tak mau menyusahkan orang tua. Pengusaha penerbangan yang saat itu masih berusia 17 tahun itu tak mau hidup dengan cara nebeng orang tua. Sebagai gantinya, ia mencoba hidup mandiri. Tapi, kenyataan memang tak semudah yang dibayangkan. "Cuma bawa ijazah SMP, kalau ngelamar kerja jadi apa saya. Saya nggak mau yang biasa-biasa saja," ujarnya.

Kerja keras pun dilakoni Susi saat itu. Mulai dari berjualan baju, bed cover, hingga hasil-hasil bumi seperti cengkeh. Setiap hari, Susi harus berkeliling Kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga, dia menyadari bahwa potensi Pangandaran adalah di bidang perikanan. "Mulailah saya pengen jualan ikan karena setiap hari lihat ratusan nelayan," tuturnya.

Pada 1983, ia menjual perhiasan berupa gelang, kalung, serta cincin miliknya. Dari situ ia berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 750 ribu yang dipakainya untuk modal bisnis. Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran yang bekerja sebagai bakul ikan. Tiap pagi pada jam-jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain berkerumun di TPI (tempat pelelangan ikan).

Tentu tak mudah bagi Susi muda dalam menjalani profesi barunya ini. Di hari pertama misalnya, ia cuma berhasil mendapatkan 1 kilogram ikan saja, pesanan sebuah resto kecil kenalannya.  Esoknya, setelah ia mulai lebih bisa meyakinkan calon pembeli, ikan yang didapat lebih besar lagi jumlahnya. Tiga kilo, tujuh kilo… begitu seterusnya. Tak jarang, ia juga salah taksir hingga merugi saat ikan-ikan yang dibelinya harus dijual lagi. Bahkan, tak jarang pula pemesan ingkar, tak jadi membeli ikan dari Susi. Semua itu bagi Susi merupakan dinamika kerja, yang mesti dilalui di bidang apa pun.

Cuma dalam tempo setahun Susi bisa menguasai pasar Pangandaran. Bahkan ia menguasai pasar Cilacap yang bisa ditempuh dalam tempo tiga jam bermobil dari Pangandaran. Ini artinya sejak usia yang sangat muda Susi sudah sukses menjadi pengusaha yang bergerak di bidang perikanan.

Setelah usahanya makin maju, Susi pun mulai mengusahakan perahu untuk disewa nelayan. Hasil tangkapannya ia beli dengan harga yang baik. Dari satu dua perahu, kini ada ratusan perahu di Pangandaran dan Cilacap yang diakui nelayan penggunanya sebagai ‘punya Ibu Susi’.

“Produksi ikan nelayan Pangandaran (dan tempat lain di selatan Jawa)  itu amat berlimpah,” kata Susi. Entah dapat ilham dari mana, Susi muda pun mulai berpikir membuka pasar di luar Pangandaran dan sekitarnya. Sasarannya, kota besar Jakarta, yang menurut perkiraannya penduduknya memerlukan pasokan banyak ikan.  “Puluhan ton ikan segar tiap hari masuk ke Jakarta, dan selalu terserap habis! Intinya, ya, itu tadi… harus segar!” ucap Susi.  

Untuk angkutannya, dari awalnya hanya menyewa, lantas ia membeli truk, dengan sistem pendingin es batu, dan membawa hasil laut ke Jakarta. Dari sekadar membawanya langsung ke pasar-pasar di Jakarta, sampai kemudian ia menemukan ‘orang’ yang mau menerima langsung ikan-ikan yang dibawa truk-truknya. Bahkan kemudian ia dipercaya oleh beberapa pabrik sebagai pemasok tetap ikan segar untuk produksi ekspor.

“Tiap hari, pukul 15.00, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam. Mandi dan istirahat sebentar, lalu balik lagi ke Pangandaran,” kata Susi, tentang rutinitasnya.

Susi kemudian melihat lobster sebagai komoditi yang sangat menguntungkan.
Susi  pun berkelana dari satu tempat pendaratan ikan ke tempat pendaratan ikan lainnya. Nyaris semua pantai sepi di pesisir selatan Pulau Jawa ia telusuri. Ia mencoba  mengenal dari dekat para nelayannya, sambil  memesan lobster. Tentu, Susi siap membelinya dengan harga yang bagus, dengan catatan: lobster itu harus utuh anggota tubuhnya. 

Dalam menjual lobster,  Susi membawa dagangannya sendiri ke Jakarta untuk ditawarkan ke berbagai restoran seafood dan diekspor. Dari sinlah ia akhirnya paham ternyata pasar masih membentang luas di luar negeri. Karena besarnya permintaan luar negeri, untuk menyediakan stok lobster, Susi pun harus berkeliling Indonesia mencari lobster.

Sukses itu tak membuat Susi berhenti berkreasi. Diversifikasi usaha terus dilakukan. Tahun 1989 Susi membuka restoran Hilmans di dekat pantai, yang dikenal sebagai tempat wisata di Pangandaraan, dengan spesialisasi menu ikan segar. Calon pembeli bisa memilih sendiri ikan segar yang diminatinya, lalu para koki mengolahnya menjadi hidangan pilihan. 

Susi memang kian jauh melangkah. Tak cuma pedagang besar ataupun resto-resto di Jakarta yang menunggu pasokan ikan darinya tiap malam, tetapi juga pabrik-pabrik pengolahan ikan untuk ekspor. Konon, untuk lobster, Susi disebut-sebut sebagai pemasok utama yang menguasai 70% market share di Jakarta. 

Tahun 1996, Susi merintis pendirian pabrik pengolahan ikan di pekarangan samping rumahnya yang berada di depan terminal bus Pangandaran. Ia menggunakan bendera PT ASI Pudjiastuti Marine Product. Hasilnya menakjubkan! Tahun itu Susi mencatatkan diri sebagai bakul ikan Indonesia yang berhasil mengekspor lobster beku ke Jepang dengan label Susi Brand. 

Ratusan tenaga kerja lokal diserap pabriknya untuk menyiangi ikan. Limbah yang berupa tulang dan isi perut ikan dipisahkan, dicacah atau digiling, untuk pakan itik di kebunnya, sementara bagian dagingnya dibuat filet atau produk ikutannya (seperti bakso, dan lainnya). Cuma dalam tempo setahun setelah ia mengekspor lobster beku, berbagai  ragam jenis seafood beku dari pabrik Pangandaran itu diekspor ke Jepang dengan label Susi Brand dan bisa dilihat antara lain di pasar ikan Tsukiji, Tokyo.

Menembus pasar Jepang memang sebuah prestasi. Karena, Jepang merupakan pangsa pasar ikan segar terbesar di Asia, yang menerapkan aturan ketat untuk produk yang masuk ke negaranya. “Pengolahan ikan di pabrik saya dikerjakan sesuai standar internasional, termasuk tidak memakai bahan pengawet kimia,” tutur Susi. Selain itu, dia bisa menyediakan ikan segar yang ‘usianya’ kurang dari 24 jam dari penangkapan.


Dianggap Orang Gila
Walau tiga kali perkawinannya berakhir dengan perceraian, namun dengan suaminya yang terakhir ia mendapatkan banyak keberuntungan dalam bisnis. Dari suaminya yang terakhirlah, Christian von Strombeck, si Wonder Woman ini mendapat inspirasi untuk mengembangkan bisnis penerbangan.

Christian merupakan seorang ekspatriat yang pernah bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara yang sekarang bernama PT DI, Red).  Dengan Christian, Susi mulai berangan-angan memiliki sebuah pesawat dengan tujuan utama mengangkut hasil perikanan ke Jakarta.

Apalagi volume perdagangan ikannya terus meningkat. Saat itu masalah timbul karena di saat stok melimpah, transportasi malah tidak mendukung. Khususnya masalah ketersediaan transportasi udara untuk pengiriman ikan sampai ke tujuan dengan cepat. Untuk mengirim dengan kapal laut terlalu lama karena lobster bisa terancam busuk atau menurun kualitasnya.

Pada saat itulah timbul ide Susi lainnya untuk membeli sebuah pesawat. Gayung bersambut, sang suami Christian von Strombeck, yang merupakan pilot berkewarga-negaraan Jerman mendukungnya.

Sebuah pesawat jenis Cessna dia beli. Alat transportasi itu sangat membantunya mengangkut lobster dari daerah-ke daerah lainnya. Dibandingkan diangkut dengan darat yang butuh waktu relatif lama dan banyak lobster yang mati di jalan, tentu pengangkutan dengan pesawat ini lebih ekonomis.

Dengan menggunakan jalur darat, pengiriman ikan bisa memakan waktu hingga sembilan jam. Sesampai di Jakarta, banyak ikan yang mati. Padahal, jika mati, harga jualnya bisa anjlok separuh. Kalau dengan pesawat hanya membutuhkan waktu 1 jam saja.

Namun sebelumnya ia juga sudah memikirkan membangun landasan di desa-desa nelayan agar pesawatnya bisa terbang dan mendarat dengan lancar. "Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam," tegas ibu tiga anak dan satu cucu tersebut.

Mendapatkan pesawat untuk mengangkut barang dagangannya tidaklah mudah. Setelah ide pengadaan transportasi ikan lewat udara itu matang, Susi mulai mendekati bank untuk pengadaan dananya. "Kami mulai masukin business plan ke perbankan pada tahun 2000, tapi nggak laku. Diketawain sama orang bank dan dianggap gila. Para bangkir bilang,  'Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar'", ujar Susi.

Barulah pada tahun 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman sebesar USD 4,7 juta (sekitar Rp 47 miliar) untuk membangun landasan, serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan.

Transportasi udara sangat mendukung perluasan pasar pengolahan ikan milik Susi ke pasar ekspor ke Asia dan Amerika. Dengan pesawat terbang, lobster, ikan, dan hasil laut lainnya bisa sampai kepada pembeli di luar negeri dalam keadaan masih segar.

Dua pesawat yang ia miliki pada masa-masa awal ia punya pesawat, ia gunakan untuk mengangkut lobster dan ikan segar tangkapan nelayan di berbagai pantai di Indonesia ke pasar Jakarta dan Jepang. 


Tsunami Aceh
Baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh. Dua hari setelah gempa tektonik dan tsunami melanda Aceh dan pantai barat Sumatera pada 26 Desember 2004, Cessna Susi adalah pesawat pertama yang berhasil mencapai lokasi bencana untuk mendistribusikan bantuan kepada para korban yang berada di daerah terisolasi. Peristiwa itu mengubah arah bisnis Susi.

"Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulaboh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air dan tenda-tenda," ungkapnya.

Aksi sosial itu membawa berkah bagi Susi. Ketika mau balik setelah dua minggu membantu distribusi bahan pokok secara gratis, banyak lembaga non-pemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh. "Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi," jelasnya.

Di saat bisnis perikanan mulai merosot, bisnis persewaan pesawat Susi jusru meroket. Pesawat yang semula digunakan untuk mengangkut bahan-bahan pokok untuk misi kemanusiaan berbuah menjadi bisnis yang menjanjikan. Selama tiga tahun berjalan, bisnis penerbangannya semakin berkembang. Jumlah pesawatnya bertambah hingga menjadi 14 unit. Pesawat-pesawat itu dioperasikan dengan sebaran 4 di Papua, 4 pesawat di Balikpapan, Jawa dan Sumatera.

Hingga awal tahun 2012, Susi Air memiliki 32 pesawat dengan berbagai tipe seperti Cessna Grand Caravan, 9 Pilatus PC-06 Porter, dan 3 Piaggio P180 Avanti. Saat itu Susi Air mempekerjakan 180 pilot, dengan 175 di antaranya pilot asing. 14) Pada tahun itu Susi Air menerima pendapatan Rp 300 Miliar dan melayani 200 penerbangan perintis.

Sekarang ini, tahun 2014,  jumlah pesawat milik wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 tersebut  mencapai 50 unit pesawat berbagai jenis. Di antaranya adalah Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Porter, serta Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa seperti di Papua dan Kalimantan.

"Ada yang disewa. Namun, ada yang dioperasikan sendiri oleh Susi Air. Biasanya dipakai di daerah-daerah perbatasan oleh pemda atau swasta," jelas wanita yang betis kanannya ditato gambar burung phoenix dengan ekor menjuntai itu.