Anak-anak Afrika Yang Jadi Manusia Perahu

Senyum pada wajah Tanjin (11 tahun) ketika bermain sepak bola di pulau kecil Lampedusa Italia menyembunyikan pertulangan yang membahayakan jiwanya ketika ia hijrah ke wilayah itu.

Ia adalah salah satu dari 2000 pencari suaka yang mendarat di pelabuhan bagian selatan Italia sejak minggu lalu. Dengan nekadnya, ia bersama para imigran lainnya ikut menyeberangi lautan Mediterania yang ganas dengan perahu-perahu yang masuk secara ilegal.

Anak laki-laki itu meninggalkan keluarganya dan apabila ia dikirim kembali ke tanah airnya dia akan menghadapi resiko menjalani wajib militer. Karena alasan ini, anak itu mungkin akan tetap tinggal di Eropa dimana ia akan melanjutkan studinya.


Ia sekarang akan dikirim ke pusat penerimaan imigran pada daratan utama yang khusus mengurusi minoritas yang datang ke negara itu sendirian.

Beberapa anak tidak bisa bertahan dalam perjalan itu. Sebanyak 300 imigran diduga tenggelam di perairan Mediterania yang ganas ketika menumpang perahu karet tipis dari Libya.

Sementara Tanjin sedang asyik menggiring bola, remaja Somalia Abdenajib menyebut saudara-saudaranya khawatir pulang ke tanah air. "Saya bilang pada keluargaku bahwa Saya ada di Italia sekarang. Itu bagus. Mereka melihat, Saya sedang mengatakan bahwa Saya belum mati." Remaja itu mengatakan hal itu sesudah percakapan telepon dengan ibu dan anak perempuannya yang masih tinggal di kamp pengungsi di Kenya.

Abdenajib mengakui betapa beruntungnya ia dapat bertahan selama 1,5 hari di lautan, hanya beberapa hari sesudah 29 migran tenggelam di laut.

Dan berbicara melalui pagar kawat di pusat penerimaan migran Lampedusa itu, anak berusia 15 tahun itu mengungkapkan impiannya menjadi seorang dokter. "Saya ingin membantu, saya ingin belajar dan mengikuti pendidikan. Saya ingin pergi ke Norwegia," katanya.

Perjalannya dimulai di Kenya. Di sini ia melakukan perjalanan melewati Uganda dan Sudan sebelum akhirnya tiba di ibukota Libya Tripoli. Di sini ia membayar sekitar £700 kepada para para penyelundup untuk bisa mengikuti perjalanan perahu menuju Italia.

Kebanyakan migran Lampedusa - termasuk Adam dari Mali - diselamatkan oleh penjaga pantai Italia atau oleh kapal-kapal dagang.

Ia mengatakan: "Kami berada di dalam perahu pertama dan itulah mengapa kami tidak memiliki masalah karena orang-orang Italia telah membawa kami ketika gelombang mulai datang ke arah kita."

"Saya perlu kewarganegaraan Italia. Di sini, kita semua lelah. Karena saya meninggalkan utara Mali sampai sekarang, sudah penuh masalah."

Lonjakan besar kedatangan migran menyebabkan fasilitas penerimaan kewalahan dalam memberikan pelayanan. Jumlah migran yang harus ditangani 3 kali dari kapasitas pusat penerimaan tersebut.

Lebih dari 170.000 migran dari Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan mendarat di Italia tahun lalu dan dari tren yang terlihat sejak awal tahun jumlah itu akan terlampaui pada tahun 2015.

Amnesty International mengatakan operasi patroli Uni Eropa terbatas di lepas pantai Italia sangat tidak siap untuk mengatasi lonjakan angka pengungsi.

Juru bicara badan itu mengatakan: "Bila kekosongan operasi pencarian dan penyelamatan Italia tidak diatasi, para pengungsi dan migran akan tetap mati dalam jumlah besar di laut."  dailymail

0 komentar:

Posting Komentar