Budak Yang Naik Pangkat Jadi Permaisuri dalam Abad Kejayaan

Inilah sisi gelap kehidupan keluarga Sultan Ottoman Suleiman yang diwarnai saling fitnah dan bunuh antar istri dan saudara.

Seperti yang terjadi pada kerajaan pada umumnya, raja memiliki banyak istri dan kemudian masih ditambah lagi dengan adanya selir. Nah dalam kisah “Abad Kejayaan”, cerita berpusar pada persaingan antara Permaisuri King Suleiman, Mehidefran dengan selir kesayangannya, Hürem.

Hal pertama yang dilakukan Suleiman sebagai raja, yang menggantikan ayahnya, adalah membuat berbagai kebijakan yang menguntungkan rakyat. Misalnya saja menurunkan pajak dan menghilangkan pungutan-pungutan liar yang menyebabkan mahalnya harga barang-barang. Berkat kebijakannya ini ia mendapatkan dukungan yang luar biasa dari rakyatnya.

Selain itu ia menghukum mati para pejabat yang korup. Hukuman keras ini juga berlaku bagi pejabat yang berasal dari keluarga istana seperti ketika ia menghukum Gubernur Mesir yang masih keponakannya sendiri karena korupsi.

ia juga menaikkan gaji tentara. Karena itulah tak heran dalam waktu yang relatif singkat ia berhasil menggalang pasukan yang solid dan memperluas kekuasaan sampai ke daratan Eropa.

Tapi sisi buruknya, begitu jadi raja ia tertarik pada budak cantik, bernama Alexandria, yang kemudian ia jadikan sebagai selir kesayangan. Kenyataannya King Suleiman lebih banyak memberikan waktunya untuk selirnya itu ketimbang untuk permaisuri, Mehidefran. Akibatnya sang permaisuri meradang dan bermaksud membunuh selir kesayangan raja yang kemudian diberi nama Hurem. Ia menyuruh pelayannya, Bulsya untuk meracun Hurem.

Untunglah Hurem yang sedang mengandung pangeran Mehmed dapat diselamatkan. Tapi raja murka sekali pada Mahedefran. Tapi karena dilindungi oleh ibunya sendiri, Ibu Suri, Raja tidak berani menghukum permaisurinya itu. Tapi pada hari-hari selanjutnya, Raja menganggap permaisurinya itu seperti tidak ada. Bila ia mau berperang, ia tak mau pamitan pada permaisuri. Dan ketika pulang membawa kemenangan ia juga mengacuhkan sang permaisuri. Sebaliknya ia semakin menyayangi Hurem dan bahkan mengubah statusnya menjadi permaisuri.

Awalnya Hurem adalah selir yang sombong dan sering bersikap emosional ketika menghadapi permaisuri. Akibatnya ketika ada peristiwa pembunuhan terhadap salah satu pelayan istana dan ia sebagai tertuduh, tak ada orang istana yang membelanya. Ia pun dianggap sebagai pembunuhnya. Raja yang termakan dengan tuduhan ini membuangnya ke istana lama.

Untungnya salah satu selir raja yang melihat pembunuhan itu mau bersaksi bahwa bukan Hurem pelakunya. Tapi karena saat itu gelap ia tak mengenali si pembunuh. Ia hanya bisa menyebutkan pembunuhnya berbadan agak pendek dan berambut hitam lurus. Ini beda dengan Hurem yang tinggi, rambutnya pirang dan bergelombang.

Hurempun akhirnya dibebaskan dan bahkan semakin disayang sang raja. Belajar dari pengalaman dimusuhi para penghuni istana, Hurem pun mengubah sikap menjadi lebih bersahabat dan belajar mengontrol emosi. Ia tak mau lagi berkonfrontasi secara terbuka dengan permaisuri. Bahkan ia seing bagi-bagi hadiah bagi siapa saja yang bersikap baik terhadapnya.

Hurem bukanlah istri raja yang bisa menerima begitu saja bila diduakan. Bahkan ia berani mengungkapkan itu ketika Raja mulai melirik seorang budak cantik yang baru didatangkan dari Rusia. Ia mengambil pisau dan memberikannya kepada raja. Ia meminta raja membunuhnya dengan pisau itu, kalau mau mengambil budak cantik itu sebagai selir. Kalau raja tidak mau, ia yang akan membunuh dirinya sendiri.

Tapi justru manufer seperti inilah yang membuat Hurem makin dicintai King Suleiman. Ia melihat istrinya selain cantik juga memiliki karakter dan sangat mencintainya. Akhirnya Hurem naik posisinya menjadi permaisuri dan berhasil mempersembahkan 5 orang anak kepada King Suleiman.

Tapi posisinya yang tinggi itu harus dibayar mahal. Dendam Permaisuri, Mahedefran jadi memuncak. Dia diam-diam menyuruh orang membunuh putra pertama Hurem dengan King Suleiman, Pangeran Mehmed, yang sebelumnya sudah dinobatkan jadi putra mahkota. Dengan matinya Mehmed,  ia berharap putranya, Mustafa yang menjadi putra mahkota. Tapi ternyata King Suleiman tak kunjung menunjuk putra mahkota.

Hurem yang tidak bisa membuktikan keterlibatan Mahedefran, terus berusaha melancarkan pembalasan. Ia lebih dulu berusaha menjatuhkan Perdana Menteri, Ibrahim, karena selalu mendukung Mahedefran dan membantu Mustafa untuk bisa diangkat sebagai Putra Mahkota. Usaha ini membuahkan hasil ketika Ibrahim dihukum mati oleh Raja.

Selanjutnya Hurem membuat menuver untuk menunjukkan bahwa Mustafa tidak loyal dan menentang raja. Dan sekali lagi strategi Hurem ini berhasil. Rajapun menghukum mati, anaknya sendiri, Mustafa.

Tapi hal ini tak membuat kehidupan Hurem dan keluarga keluarganya jadi tenang. Dia masih harus menghadapi tekanan dari Siti Khodijah dan adik raja lainnya, yang pro Mehidefran. Selain itu di antara anak-anaknya sendiri mulai terjadi konflik yang panjang. Mulai terjadi rivalitas yang tajam antara Bahyesit putra ketiganya dan Selim putra keduanya yang sama-sama berambisi menjadi putra mahkota. Anaknya yang keempat, Putri Mihrimah berpihak pada Bahyesit, sedangkan putra bungsunya justru berpihak pada Mustafa. Maka terjadilah perpecahan dalam keluarga.

Paska kematian Mustafa, terjadi perebutan kekuasaan dan pertumpahan darah antara Selim dan adiknya, Bahyesit yang berakhir dengan kematian Bahyesit. Setelah Suleiman meninggal Pangeran Selim yang menjadi penerus tahta ayahnya sebagai Raja Ottoman ke-11.

3 komentar:

sherlina halim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 31 Juli 2015 07.35
Valena Michelle mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 30 Agustus 2015 09.57
Intan Kirana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 29 Mei 2016 02.50

Posting Komentar