Mahabharata: Dewa Penuh Dosa itu Bisma

Suatu hari Raja Hastinapura, Sentanu, berburu di  hutan dekat Sungai Gangga. Di situ ia tergoda Dewi Gangga, yang bertubuh indah dan berparas cantik dalam balutan gaun putih dan memancarkan cahaya.

Sentanu mendekati wanita itu. Walaupun tidak pernah mengenal sebelumnya, Sentanu mengajaknya untuk menikah. Wanita itu bersedia tapi dengan syarat dia tidak boleh menanyakan asal-usulnya dan tidak boleh melarangnya melakukan apa saja. Karena begitu terpesona dengan kecantikannya, Sentanu menerima persyaratan itu.

Setelah menikah, Sentanu menemukan kejanggalan demi kejanggalan. Setiap memiliki seorang bayi, wanita itu menenggelamkannya ke Sungai Gangga. Tapi untuk anak yang kedelapan, Sentanu tak bisa menahan diri lagi. Ia merebut anak itu dari tangan istrinya ketika hendak menenggelamkannya ke Sungai Gangga.

Selain itu Sentanu memaksa wanita itu membuka identitasnya. Karena Sentanu telah melanggar persyaratan pernikahan, wanita itu pun memutuskan untuk meninggalkan Raja Hastinapura Tapi sebelumnya ia membuka identitasnya sebagai Dewi Gangga.
           
Menurut Dewi Gangga, mereka berdua pada masa sebelumnya pernah tinggal di surga para dewa. Tapi karena keduanya melakukan tindakan yang kurang terpuji, maka mereka dibuangkan ke dunia. Saat itu status Sentanu sebagai raja dan Dewi Gangga sebagai dewa.

Selain itu Dewi Gangga juga bercerita kalau kedelapan bayi yang dilahirkannya itu adalah penjelmaan para dewa yang melakukan kejahatan mencuri lembu sakti milik Resi Wasista. Sebagai upaya pencucian dosa, ia membuang bayi-bayi itu ke Sungai Gangga.

Salah satu dari delapan dewa itu adalah Prabata yang merupakan pemimpin pencurian. Karena itu Prabata dikutuk menjadi manusia yang paling lama berada di dunia. Dia adalah bayi kedelapan yang diselamatkan Sentanu. Setelah memberikan pengakuan itu, Dewi Gangga mengatakan dia akan pergi dengan membawa bayi ke delapan. "Aku akan mengasuhnya karena dia butuh kasih sayang seorang ibu. Nanti kalau sudah besar dia akan ikut denganmu," katanya kepada Sentanu.

Anak Sentanu itu kemudian diberi nama Dewa Brata. Sejak kecil ia dididik dengan latihan kemiliteran dan moral oleh Resi Parasurama sehingga ketika remaja tumbuh menjadi seorang ksatria yang tangguh. Raja Sentanu menjemput Dewa Brata dan membawanya ke istana. Dan Raja Sentanu pun kemudian menobatkan Dewa Brata sebagai pewaris kerajaannya.

Ketika Dewa Brata sudah menjadi seorang pemuda, lagi-lagi Sentanu tersandung masalah wanita. Ketika sedang berburu di daerah pantai ia menemukan seorang wanita cantik bernama Setyawati, anak raja yang bernama Dasabala. Ia pun minta izin Dasa untuk menikahinya. Tapi Dasa memberikan persyaratan berat yang membuat Sentanu gundah. Ia boleh menikahi anak Dasa asal anak Setyawati itu kelak akan mendapatkan hak waris tahta kerajaan.

Karena sudah terlanjur memberikan hak waris pada Dewa Brata,  Sentanu kembali ke istana dengan perasaan gundah. Kegundahan itu ditangkap oleh Dewa Brata dan iapun melakukan penyelidikan karena ia mendapatkan pesan dari Dewi Gangga dalam suatu pertemuan bahwa sebagai anak jangan sampai membiarkan ayahnya mengalami kesedihan.

Setelah mengetahui masalahnya Dewa Brata, berangkat ke sungai Yamuna. Ia mewakili ayahnya untuk melamar puteri Dasabala, Setyawati atau disebut juga Gandhawati, yang sangat diinginkan ayahnya. Ia memenuhi segala persyaratan yang diajukan Dasabala. Ia juga bersumpah tidak akan menikah seumur hidup dan tidak akan meneruskan tahta keturunan Raja Kuru agar kelak tidak terjadi perebutan kekuasan antara keturunannya dengan keturunan Gandhawati.

Sumpahnya disaksikan oleh para Dewa dan semenjak saat itu, namanya berubah menjadi Bisma. Akhirnya Prabu Santanu dan Dewi Gandhawati menikah lalu memiliki dua orang putra bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Prabu Santanu wafat dan Bisma menunjuk Citrānggada sebagai penerus tahta Hastinapura. Kelak Wicitrawirya akan menurunkan keluarga besar Pandawa dan Korawa.

0 komentar:

Posting Komentar