Arisan Brondong Tante-Tante


Hari itu Suzana, wanita 40-an tahun benar2 bete. Ia kini tak bisa kemana2 selain tinggal di rumah. Rekening dan kartu kreditnya diblokir suami. Ia tak lagi dikasih kunci mobil. Kalau ia mau pergi harus izin dulu suaminya. Kalau tujuannya penting banget baru suaminya kirim sopir untuk mengantarnya.


Sialnya lagi ia tak bisa kontak dengan teman-teman wanita di grup wanita arisan brondong. HP dan laptopnya disembunyikan suaminya agar tak bisa fesbukan, Whatsup-an, BBM-an atau tweeteran.

Pikirannya pun kemudian menerawang ke masa beberapa bulan lalu. Saat itu ia benar2 menikmati kebebasan sbg wanita jetset.

Setiap bulan sekali dia bersama 6 kenalan FB-nya kerjaannya nongkrong di kafe. Seperti dirinya teman-temannya itu istri pria-pria kaya dan sukses. Profesi dan pekerjaan mereka ada yang dirut, pengusaha, pejabat tinggi, banker. Dirinya sendiri istri pengusaha properti, Salim Abubakar.

Suzanna bersama teman-temannya bikin klub arisan brondong untuk melupakan nasib buruk mereka sebagai istri. Selama ini mereka hanya dijadikan sbg penjaga rumah oleh suami-suami mereka. Sebagai istri mereka tak pernah diajak ngobrol atau jalan bareng sebagaimana layaknya seorang istri. Suami-suami mereka seakan tak ada waktu buat istri karena sibuk kejar materi dan kedudukan.

Kesibukan utama ibu-ibu itu adalah memburu pria-pria muda lalu dijadikan obyek arisan. Biasanya dari kongkow di kafe berlanjut pergi ke vila mewah milik salah seorang anggota. Di sana mereka bikin arisan brondong yang dibawa oleh masing-masing anggota.

Arisan itu dilakukan dengan cara membuat lintingan kertas berisi nomor masing2 brondong yang mereka bawa. Ketika anggota mendapatkan nomor brondong bawaannya sendiri harus mengambil lintingan lagi sehingga dapat brondong yg bukan bawaannya. Dengan cara inilah mereka bertukar pasangan brondong.

Suatu ketika Salim Abubakar curiga melihat gelagat yg diperlihatkan istrinya. Biasanya istrinya itu tak pernah berhenti menelpon kemana ia berada. Tapi sudah berbulan-bulan terakhir ini istrinya tak pernah menelponnya lagi. Bahkan ketika ia nelpon istrinya selalu sedang berada di luar rumah. Alasannya sedang belanja, cari guru kursus buat anaknya, dll.

Akhirnya salim meminta sopirnya memata-matai istrinya. Dan dari situlah kedoknya terbongkar. Sebagai hukuman suaminya kini memingitnya.

Tentu saja Suzana tak mau terima begitu saja. “Pa kenapa kamu begitu kejam terhadap saya. Dengan semua yang Papa lakukan telah membuat saya tersiksa di rumah Bukankah selama ini saya sebagai istri tak pernah mengusik apa yang dilakukan Papa di luar. Papa tak pernah ngajak ngobrol, aku pasrah. Papa tak pernah ngajak aku jalan-jalan aku pasrah, tapi kenapa giliran aku senang-senang di luaran Papa memperlakukan aku seperti ini?”

“Apa yang kamu lakukan di luaran itu tak pantas dan di luar batas. Aku tak akan membiarkan Mama terus melakukan hal itu.”

“Bukankah hal yang sama dilakukan papa di luaran sana?”

“Jangan ngawur kamu. Aku di luar mencari nafkah untuk kamu dan anak-anak kita. Rumah dan seluruh perabotannya, mobil, perhiasan yang kamu pakai, anak-anak bisa sekolah di luar negeri, itu semua karena kerja keras papa. Tapi apa yang kamu lakukan di luaran justru sangat menjinjikkan. Bahkan kau telah menuduhku berbuat yang tidak-tidak di luaran.”

Karena tak punya bukti apapun Suzana terdiam. Ia menyesal selama dalam status bebas tidak memata-matai suaminya. Sehingga ketika suaminya berlagak suci, ia tak bisa berbuat apa-apa.

Suatu hari ia minta izin untuk shopping ke mall dan sekalian minta uang belanjaan pada suaminya saat berada di rumah.

“Pa, pakaianku sudah pada ketinggalan zaman. Aku ingin belanja busana model terbaru. Izinkan aku belanja dong Pa dan jangan lupa uang belanjaannya karena aku sekarang kan tidak pernah pegang uang besar lagi,” rengek Suzana.

“Baiklah besok siang aku akan mengirimkan sopir dari kantor untuk antarin kamu belanja,” jawab Salim.

Benar besoknya, sekitar pukul 11.00 siang sebuah mobil yang bagus datang ke rumah untuk menjemputnya. Yang bikin suprise sopirnya pria muda, mungkin sopir kantor yang lagi nganggur. Biasanya untuk mengantarnya jalan-jalan suaminya menyuruh sopir wanita. Mungkin karena sudah tahu kelakuannya bersama para brondong.

Di rumah sendiri ia memang sudah tidak punya sopir lagi. Sopir lama sudah dipecat karena dianggap suaminya lalai tidak melaporkan kelakuan istrinya di luaran. Ya memang selama ini sesuai perintahnya sopir itu bungkam. Ia mau menuruti perintahnya karena ia selalu kasih bonus uang bulanan yang cukup besar dan menyuapnya dengan makanan yang enak-enak.

Di dalam mobil, Suzana tak pernah berhenti memandangi sopir yang mengantarnya. “Hm pria muda itu memang nggak setampan brondong-brondongku selama ini, tapi bolehlah untuk pelepas dahaga. Tidak ada rontan akarpun jadi, ini benar-benar kesempatan emas,” pikir ibu dua anak itu. Di suatu tempat yang sepi ia menyuruh sopirnya menghentikan mobilnya dan kemudian melahapnya.

11 komentar:

sherlina halim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 31 Juli 2015 07.34
Valena Michelle mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 30 Agustus 2015 09.56
Andi Prasetyo mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 20 Maret 2016 04.33
Intan Kirana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 29 Mei 2016 02.44
andi mengatakan...

Area purwokerto ada g y

10 Agustus 2016 04.37
Rosdin Rahmat mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 1 November 2016 19.47
Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 25 Februari 2017 15.03
Unknown mengatakan...

089621544246

25 Februari 2017 15.03
john mengatakan...

089621544246

25 Februari 2017 15.03
Laras Riswana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 16 April 2017 14.47
patricya patricya mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog. 2 Juli 2017 14.46

Posting Komentar