Hanoman 4 Tewasnya Subali

Marah bukan kepalang Subali mendapat tantangan dari Sugriwa. Ia tahu Sugriwa kesaktiannya masih jauh di bawahnya. Apalagi menyinggung masalah Dewi Tara, sesungguhnya ia lebih berhak atas Dewi Tara, karena ia yang telah membunuh Mahesasura dan kawan-kawannya.

Dewi Tara memperingatkan, jika Sugriwa berani menantangnya, pasti mempunyai sesuatu yang bisa diandalkan. Namun Subali tidak memperdulikan, ia yakin akan kesaktiannya.

Pertarungan antara Subali dan Sugriwa tak terelakkan. Subali mengira bahwa Sugriwa mempunyai guru baru dan mau menjajal ilmu barunya. Maka Subali langsung menyerang dengan ilmu yang tinggi. Sugriwa dengan cepat dibuat tak berdaya. Berkali-kali ia jatuh bangun sambil mengharapkan bantuan dari Prabu Rama, namun tak kunjung datang bantuan.

Akhirnya Sugriwa berhasil meloloskan diri. Ia langsung mendatangi Prabu Rama. Dengan kecewa ia menegur Prabu Rama, mengapa ia tidak kunjung memberi bantuan sampai ia hampir tewas. Prabu Rama mengatakan bahwa; sulit membedakan yang mana Subali dan yang mana Sugriwa. Jika salah sasaran akibatnya akan sangat berbahaya. Kemudian Prabu Rama menyarankan agar Sugriwa memakai tanda tertentu yang mudah dikenali. Akhirnya Sugriwa memakai janur kuning yang diikatkan di kedua lengannya.

Sugriwa kembali maju menghadapi Subali. Subali mengira janur kuning yang dipakai Sugriwa merupakan sarana ajian baru yang dikeluarkan oleh Sugriwa. Ternyata tidak ada bedanya, Sugriwa kembali dihajar oleh Subali, kali ini tanpa ampun. Ketika Subali mengayunkan pukulan pamungkasnya. Jika mengenai tubuh siapa pun pasti akan hancur berkeping-keping. Sebelum semua itu terjadi, sebuah anak panah menembus dada Subali. Robohlah Subali tak berdaya.

Ternyata Subali belum tewas. Setelah mengetahui apa yang terjadi marahlah Subali kepada Rama. Dikatakan bahwa Rama seorang raja yang pengecut. Tidak sepantasnya seorang raja besar berbuat seperti itu. Namun Rama mengatakan bahwa Subali pasti mempunyai kesalahan yang besar. Jika tidak, tidak mungkin panahnya bisa menembus dadanya. Sebab panah yang ia lepaskan hanya akan melukai orang yang bersalah.

Rama pun mengatakan bahwa ia telah mendengar apa yang telah dilakukan oleh Subali. Kesalahan terbesarnya adalah telah mewariskan aji pancanonya kepada Rahwana dan tertipu oleh kelicikannya sehingga mau menguasai Kiskenda dan Dewi Tara. Subali menyadari akan kesalahannya. Kemudian ia minta maaf kepada Sugriwa dan menyerahkan kembali kerajaan Kiskenda dan menitipkan anaknya Raden Anggada untuk dirawat.

Walau Subali mempunyai aji pancasonanya, namun karena sudah mencapai batas hidupnya, akhirnya Subali tewas. Sedangkan Dewi Tara yang telah memberinya anak bersama Subali, yaitu Raden Anggada,  akhirnya kembali ke Kahyangan......

Prabu Sugriwa, Jaya Anila, Jaya Anggada dan Hanoman serta para punggawa rewanda yang lain mulai menata negeri Kiskenda. Para prajurit kera dilatih oleh keprajuritan dan jayakawijayan dibantu oleh Laksmana. Mereka mulai mempersiapkan diri untuk menyerang negeri Alengka guna merebut kembali Dewi Shinta, dan terlebih menghentikan keangkaramurkaan Rahwana yang juga disebut Dasamuka itu.

Namun, sebelum pasukan segelar - sepapan berangkat ke Alengkadiraja, Prabu Rama mengutus Hanoman untuk memastikan tentang keadaan Dewi Shinta di negeri orang.
Hanoman sebagai seorang ksatria muda menerima tugas tersebut dengan senang hati dan penuh percaya diri. Namun kesanggupan Hanoman tersebut ditanggapi berbeda oleh Jaya Anggada. Walau ia lebih muda, namun sedikit banyak sudah menerima bekal ilmu jayakawijayan dari sang ayah, Subali. Anggada adalah ksatria kera berbulu merah, juga mewarisi sifat Subali yang mudah marah dan lemah pendirian.

Dalam suatu kesempatan, Jaya Anggada menemui Hanoman yang juga kakak sepupunya itu untuk menggantikan tugas sebagai duta ke Alengkadiraja. Ia merasa lebih mampu dan lebih sakti daripada Hanoman. Hanoman dinilainya terlalu lemah dan lembut untuk tugas yang berat itu. Namun bagi Hanoman tidak mungkin menolak tugas dan tanggung jawab, apalagi menyerahkannya kepada orang lain.

Jaya Anggada yang masih muda, namun merasa sakti tanpa tanding itu, ingin menunjukkan kepada Hanoman bahwa ia lebih pantas. Diseranglah Hanoman dengan kekuatan penuh agar segera diketahui bahwa ia lebih hebat daripada Hanoman.
Hanoman dengan sabar melayani Jaya Anggada yang penuh nafsu. Ia tidak ingin menjatuhkan harga diri Jaya Anggada yang masih muda itu dengan mengalahkannya secara telak. Ditundukkannya secara wajar dan kemudian dinasehati agar selalu meningkatkan diri karena tugas berat sudah menanti.

Berangkatlah Hanoman menuju kerajaan Alengkadiraja. Antara Kiskenda dan Alengkadiraja terhalang lautan luas. Menjelang malam sampailah Hanoman di tepi pantai, tidak mungkin akan melanjutkan perjalan. Hanoman mencari sebuah penginapan untuk sekedar beristirahat dan merencanakan perjalanannya esok hari.

Alkisah, pemilik penginapan adalah seorang wanita yang cantik jelita. Tingkahnya menggoda, tatapannya penuh makna, berbicaranya merdu merayu. Hanoman dijamu secara istimewa, hidangan yang serba lezat. Kamar pun dipilihkan yang paling baik, karena tahu Hanoman adalah utusan raja.

Bahkan sang jelita berkenan menemani tidur bersama. Hanoman sang ksatria muda bergelora hatinya sehingga terlena, tak menyadari bahwa itu adalah ulah telik sandi musuh dari Alengka. Ia adalah Sayempraba istri selir dari Rahwana. Mata-mata yang sengaja ditempatkan di salah satu perbatasan agar musuh tidak bisa masuk ke Alengka........

Kembali ke Hanoman 3       Lanjut ke Hanoman 5

0 komentar:

Posting Komentar