Hanoman Bagian 1: Misteri Cupu Manikastagina

Hanoman adalah salah satu tokoh pewayangan yang cukup dikenal dalam masyarakat kita. Si Kera Sakti ini merupakan tokoh yang unik karena tidak hanya hadir dalam cerita pewayangan lokal, tapi juga muncul dalam kisah Mahabharata sekaligus memberi warna lokal pada mitologi asal India itu. Hanoman hadir pada kisah Ramayana, Mahabarata dan jaman raja Jawa masa Prabu Jayabaya di Daha  Kediri. Hanoman dikisahkan berumur sampai ratusan tahun. Ia meninggal secara moksa atas permintaannya sendiri.


Hanoman berwujud manusia kera berbulu putih yang bisa berbicara seperti manusia. Dia adalah kera yang digambarkan memiliki budi yang halus, bisa menempatkan diri dimanapun berada, penuh belas kasih, rendah hati, suka menolong, pemberani dan bertanggung jawab. Ia adalah seekor kera saksi yang punya misi memberantas kejahatan. Senjata andalannya Aji Mundri atau Aji Mangundri yang kekuatannya setara dengan seribu gajah.

Hanoman mempunyai beberapa nama alias seperti Anjaniputra karena memang anak dari Dewi Anjani, Maruti atau Marutasuta karena anak angkat dari Dewa Maruta - dewa angin yaitu Batara Bayu, Rama Ndayapati karena merupakan putra angkat dari Prabu Rama, Raden Senggama karena merupakan senapati yang tangguh,  Anjali Kencana karena ketika kelahirannya bercahaya seperti kencana. Setelah menjadi pertapa, Hanoman sering disebut Resi Mayangkara di pertapaan Kendalisada.

Tentang asal-usul Hanoman berikut ini kisahnya. Resi Gotama dan Dewi Indardi mempunyai tiga orang anak yang cantik dan tampan-tampan. Mereka adalah Dewi Anjani, Raden Subali dan Raden Sugriwa yang hidup rukun dan saling membantu satu sama lain. Sampai suatu ketika ibundanya, yaitu Dewi Indardi memperlihatkan sebuah cupu yang dinamakan Cupu Manikastagina kepada Dewi Anjani. Kehebatan dari cupu tersebut, jika dibuka orang bisa melihat isi jagat raya ini. Ketika sedang asyik menikmati gambaran yang muncul dalam cupu tersebut, mereka tidak menyadari kehadiran Raden Subali dan Sugriwa. Ketika keduanya ingin ikut melihat, tidak diperkenankan oleh sang ibu.


Raden Subali dan Raden Sugriwa yang juga disebut Raden Guwarsi dan Raden Guwarsa merasa iri terhadap Dewi Anjani kakaknya. Mereka  kemudian melaporkan hal tersebut kepada Resi Gotama, ayahandanya.  Kemudian Resi Gotama memanggil Dewi Indardi untuk dimintai keterangannya perihal cupu seperti yang diceritakan oleh Subali dan Sugriwa.

Resi Gotama sangat marah ketika Dewi Indardi menceritakan bahwa Cupu Manikastagina adalah hadiah dari Bhatara Surya dan sebelumnya tidak pernah diceritakan kepadanya. Resi Gotama menuduh telah terjadi sesuatu antara Batara Surya dengan Dewi Indardi istrinya. Bagaimana mungkin Batara Surya memberi sesuatu yang sangat berharga itu tanpa ada sesuatu.

Tak bisa mengendalikan amarahnya, Resi Gotama merebut cupu tersebut dan kemudian dibuangnya jauh-jauh. Raden Subali, Raden Sugriwa dan Dewi Indardi yang diikuti inang pengasuhnya mengejar untuk mendapatkan kembali Cupu Manikastagina tersebut.

Amarah Resi Gotama makin membahana ketika Dewi Indardi hanya diam saja, tidak menjawab segala tuduhan Resi Gotama.   "Diajak berbicara hanya diam saja seperti tugu," demikian Resi Gotama. Ketika mengucapkan 'seperti tugu' seketika itu juga Dewi Indardi berubah menjadi tugu. Tugu yang adalah 'Dewi Indardi' segera dilemparkan jauh-jauh dan jatuh di perbatasan negeri Alengka.

Cupu Manikastagina yang dilemparkan oleh Resi Gotama dengan begitu kuatnya jatuh di sebuah telaga yang indah menawan, Telaga Madirda namanya. Raden Guwarsi dan Raden Guwarsa yang meyakini bahwa cupu yang dikejarnya jatuh dan tenggelam di dalam telaga tersebut segera terjun menyelam untuk mendapatkannya. Cupu tetap tidak ditemukan. Ketika keduanya muncul di permukaan air, keduanya menyadari bahwa mereka telah berubah menjadi kera di sekujur tubuhnya.

Dengan perasaan sedih mereka menghadap ayahandanya, Resi Gotama.  Agar mereka mendapat ampunan Dewata, Resi Gotama kemudian menyarankan kepada Raden Guwarsi untuk tapa ngalong - bertapa  menggelantung di pohon seperti seekor kelelawar. Sejak saat itu nama Guwarsi ia tanggalkan dan menggantinya dengan nama Subali. Sedangkan Raden Guwarsa disarankan untuk tapa ngidang - bertapa dengan cara hanya memakan dedaunan layaknya seekor kijang. Sejak saat Guwarsa pun mengganti namanya dengan nama Sugriwa.

Raden Subali diperintahkan oleh Batara Guru utk bermukim di gunung Sunyapringga.
Sugriwa ke gua Kiskenda, menjadi raja di kawasan hutan Dandaka.

Dewi Anjani bertapa nyinom, berendam di sungai Gangga hingga sebatas lehernya. Ia hanya makan daun-daunan.

Sang Jagad Nata yg melihat kecantikan Anjani tak tertahankan sehingga meneteskan benihnya ke atas pohon asam yg daunnya jatuh ke sungai Gangga. Benih itu tertelan oleh Anjani yg menjadi hamil & melahirkan Hanoman (Sinom - daun asam muda).
Jadi sebenarnya Hanoman adalah putera Sang Hyang Jagad Nata atau Batara Guru.

Di negeri Alengka tempat jatuhnya Tugu Dewi Indardi bertahta seorang raja angkara bernama Raden Rahwana atau Dasamuka. Raja yg kejam, sakti mandraguna & bertabiat buruk, serakah seperti raksasa. 1000 negeri sudah dia taklukkan. (bersambung ke Hanoman Bagian 2)

0 komentar:

Posting Komentar